JATIMTIMES - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Malang menguntungkan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di bidang usaha taoge. Salah satu yang merasakan manfaatnya yakni Siti Nurhayati (45) yang merupakan pelaku UMKM taoge di Desa Sukoraharjo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.
Perempuan yang akrab disapa Yati ini mengaku, setiap pekan dirinya bisa memasok 45 kilogram taoge untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Kepanjen. Taoge tersebut digunakan untuk menyukseskan program MBG yang diluncurkan secara resmi pada Januari 2025 lalu.
Baca Juga : Hari Kepanduan Sedunia, Gubernur Khofifah Ajak Pramuka Lebih Produktif
"Awalnya, suami saya kan berjualan di Pasar Pakis. Terus dapat info dari terangga yang juga memasok bahan baku ke SPPG Kepanjen. Akhirnya saya juga bisa memasok bahan baku taoge ke SPPG Kepanjen. Sekali kirim bisa 45 kilogram. Kirimnya seminggu sekali, kadang dua kali," ungkap Yati.
Awal mula Yati merintis usaha produksi taoge ini sejak tahun 1999. Kemudian, setelah mengalami pasang surut, usaha yang digelutinya itu kini sudah mulai berkembang. Produksi taoge buatannya juga dikirim ke sejumlah pasar di Malang Raya.
"Saya itu awal merintis sama suami di Pasar Blimbing. Kemudian suami jualan di Pasar Pakis dan anak saya jualan di Pasar Batu. Sekarang ada karyawan bantu jual di Pasar Madyopuro, Kedungkandang, dan Gadang," ungkap Yati.
Lebih lanjut, Yati juga menjelaskan proses produksi taoge. Untuk menghasilkan taoge yang berkualitas, dibutuhkan kacang hijau khusus dengan kualitas yang bagus. Kemudian, kacang hijau khusus dan bagus tersebut dicuci, ditiriskan dan disiram menggunakan air dalam waktu empat hari. Proses ini dilakukan setiap tiga jam sekali. Setelah empat hari, taoge siap untuk dipanen.
Menurut Yati, setiap kilogram kacang hijau bisa menghasilkan empat hingga lima kilogram taoge. Jumlah tersebut tergantung pada kualitas taoge. Sekali panen, rumah produksi taoge miliknya bisa menghasilkan 2,5 kuintal taoge.
Baca Juga : Realisasi Penjualan Dimulai, Antam Pastikan Serap 30 Ton Emas Freeport
"Produksi taoge ini juga ada pasang surutnya. Itu tergantung pada harga kacang hijau. Jika setiap kilogram biasanya dibeli dengan harga Rp 23 ribu, sekarang harganya bisa mencapai Rp 27 ribu kilogram. Tapi Maret diperkirakan bisa turun harganya," ungkap Yati.
Meskipun harga bahan baku kacang hijau mengalami naik turun atau bersifat fluktuatif, Yati tidak bisa mengubah harga taogenya. Setiap kilogramnya Rp 8 ribu dan untuk tengkulak Rp 7 ribu setiap kilogram.
Yati mengaku, dengan kondisi tersebut, konsekuensi yang ia hadapi yakni penurunan pendapatan. Namun, dirinya berkomitmen tidak akan menurunkan kualitas taoge yang ia pasarkan ke masyarakat Malang Raya.