free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Ekonomi

Tahukah Kamu di Balik Omzet Triliunan Indomie, Ternyata Dulu Hasil Kudeta, Begini Sejarahnya

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Yunan Helmy

28 - Jul - 2023, 01:42

Loading Placeholder
Kemasan Indomie beberapa rasa. (Foto: Twitter)

JATIMTIMES - Indomie menjadi merek makanan yang memiliki jejak perjalanan panjang di pasar Indonesia, bahkan dunia. Cita rasa khas Indomie membuat lidah banyak orang jatuh cinta. 

Indomie saat ini menjadi identitas bagi mi instan. Itulah sebabnya, apa pun merek mi instan, kebanyakan orang menyebutnya dengan kata Indomie. 

Baca Juga : Tak Terima Ditegur karena Salah Parkir, Wali Murid Mengamuk hingga Ancam Polisikan Satpam Sekolah

Mi instan yang diproduksi PT Indofood CBP Sukses Makmur itu kini sudah berusia setengah abad.

Melansir akun Twitter @WarungKopiKita atau Txt dari keuangan, di tahun 2023, perusahaan brand Indomie (Indofood CBP Sukses Makmur/ICBP) meraup keuntungan Rp 19 triliun lebih. Namun di balik omzet triliunan itu, ternyata brand Indomie ini adalah hasil "KUDETA".

DIjelaskan pada mulanya, ICBP ini memang produsen untuk tepung terigu merwk Bogasari. Mereka memulai produksi tepung ini sejak tahun 1960-an, yang kemudian melahirkan mi instant bernama Sarimi.

Produk Sarimi ini lahir berkat kebolehan Salim Group dalam membaca krisis suplai beras. Pada saat itu Indonesia memang mengalami krisis sehingga harus menganggarkan uang US$ 600 juta untuk impor beras.

Tapi ternyata ujungnya malah blunder. Ternyata di tahun 1984, pemerintah Indoneaia berhasil menerapkan program swasembada beras. Padahal, Bogasari sudah terlanjur teken kontrak jangka panjang untuk pembelian gandum.

Blunder dengan keputusannya, akhirnya Bogasari mengintensifkan produknya jadi mi instan supaya bisa bertahan jangka panjang.

Tapi masalah lain muncul. Ternyata kapasitas Sarimi tidak cukup buat memproduksi semua suplai yang dimiliki Bogasari. "Udah gitu mungkin, pangsa pasarnya belum sebesar Indomie dan Supermi yang udah lebih dulu memproduksi mi instant dan udah punya pasar di Indonesia," jelas akun tersebut. 

Nah karena Bogasari bingung, akhirnya Salim Group menghubungi Indomie untuk kerja sama. "Emang sih, sebelumnya Indomie udah kerja sama sama bogasari. Tapi ga banyak gitu skalanya. Makanya Salim Group nawarin buat jadi supplier tetap dengan skala yang lebih besar," ungkap akun tersebut. 

"Tapi... Ditolak hehe," imbuh keterangnnya. 

Kesal karena ditolak oleh Indomie, akhirnya Salim Group mendekati kompetitornya, Supermi, untuk kerja sama. Salim Group akhirnya habis-habisan di Supermi.

Bahkan, disebutkan oleh akun tersebut, Salim Group memasang iklan secara agresif. Termasuk merilis produk pada harga yang lebih murah dari Indomie dan dalam setahun meraih 40% pangsa pasar.

Baca Juga : Megawati Tantang Debat Wartawan dan Ancam Bubarkan Dewan Pers 

"Ngerasa keputusannya salah, Djajadi Djaja (pemilik Indomie sebelumnya) itu mikir-mikir ulang sama keputusannya. Dan pada akhirnya, Djajadi Djaja mutusin buat kerja sama dengan Salim Group," terang akun tersebut. 

Dua tahun kerja sama, Djajadi Djaja bersama Salim Group ini adalah duo kombinasi yang keren banget. Langsung bisa menguasai pangsa pasar mi instant. Bahkan membuat Supermie yang rajanya mi instan pada saat itu akhirnya juga nyerah dan menjual brandnya ke Indomie.

"Tapi ironisnya, Djajadi Djaja pemilik asli Indomie ini juga kian menepi. Pelan tapi pasti, porsi saham mereka di Indofood Interna mengecil. Puncak dari terisisihnya Djajadi terjadi pada 1992, ketika Grup Salim selaku pengendali merek memutuskan untuk mengganti distributor," kata akun tersebut. 

Tepatnya dari distributor Wicaksana Overseas International milik Djajadi menjadi Indomarco milik Salim Group sendiri. 

Djajadi sebenarnya sempat beberapa kali merasa dicurangi. Dalam sebuah wawancara dengan Bussiness Week, Salim Group mampu memperbesar kepemilikannnya karena bisnis kongsi itu terus menarik pinjaman yang pelunasannya tak mampu diimbangi Djajadi.

"Berikut ini dikutip sedikit hasil wawancaranya: 'Mereka [kubu Djajadi] memiliki kesulitannya sendiri dan akhirnya kami memiliki saham mayoritas. Mereka mengirim lima-enam orang dalam kerja sama ini tapi tidak bisa membaur, bolanya berantakan, jadi kami mengambil puing-puingnya' ujar Anthoni," cuit akun tersebut mengutip hasil wawancara. 

“Mereka meminjam, dan meminjam, dan meminjam, dan pop! Terjadi masalah untuk perusahaan, lalu mereka berkata ‘aku akan mengatasinya’ [dengan menginjeksi modal dan memperbesar porsi kepemilikan]," imbuh cuitan akun tersebut. 

Setelah Orde Baru tumbang, Djajadi juga sempat beberapa kali mengajukan gugatan terhadap Salim Group karena merasa dicurangi. Namun, mereka tak pernah keluar sebagai pemenang. 

Indofood Interna kemudian direstrukturisasi besar-besaran oleh Salim Group. Dan sekarang ICBP punya berbagai macam mi instan yang terkenal, seperti Indomie, Sarimi, dan Supermi.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy

Ekonomi

Artikel terkait di Ekonomi

--- Iklan Sponsor ---