JATIMTIMES - Pemerintah Kota Blitar sukses menyelenggarakan Blitar Etnic National (BEN) Carnival tahun 2023, Sabtu (15/7/2023). Mengangkat tema kebudayaan Nusantara, BEN Carnival edisi kali ini berjalan sangat meriah dengan keterlibatan seniman lokal, seniman dari luar daerah dan warga Negara asing (WNA).
Salah satu penampilan yang cukup memukau di event ini adalah tarian rampogan macan. Tarian ini dipentaskan oleh seniman lokal Blitar. Tari rampogan macan tampil di barisan urutan awal peserta BEN Carnival. B
Baca Juga : Usulkan Kenaikan Retribusi Parkir, Kadishub Situbondo: Perda No 12 Tahun 2011 Sudah Tidak Relevan
BEN Carnival 2023 diikuti 58 peserta dari OPD di lingkungan Pemkot Blitar, lembaga pendidikan, BUMN, BUMD serta instansi vertikal. Menariknya, dalam event yang paling ditunggu-tunggu warga Blitar ini, beberapa OPD mendatangkan seniman asli dari Sabang sampai Merauke. Diantaranya Sumatera, Kalimantan, Bangka Belitung, Singkawang, dan Berau.
Tak kalah dengan penampilan seniman luar daerah, seniman lokal Blitar menarikan tarian rampogan macan dengan sangat lincah. Dalam menarikan tarian ini, para seniman membagi peran. Dua orang berperan sebagai macan atau harimau, sedang lainnya berperan sebagai pemburu macan yang memainkan tombak. Tarian ini benar-benar melukiskan tradisi rampogan macan yang hidup di masa lalu.
Jalan Ahmad Yani depan kantor DPRD Kota Blitar dijadikan sebagai ilustrasi arena pertarungan macan dengan manusia seperti Alun-alun Blitar di akhir abad ke-18. Macan-macan berloreng itu dilepaskan dari kandang dan kemudian dikeroyok beramai-ramai oleh manusia. Dua harimau itu akhirnya tewas akibat ditusuk-tusuk oleh manusia-manusia yang bersenjatakan tombak.
Pementasan tari rampogan macan itu mendapat applause dari Wali Kota Blitar Santoso, Forkopimda dan Anggota DPR RI Arteria Dahlan. Tamu-tamu undangan lain yang hadir di BEN Carnival edisi 2023 ini juga secara khusus memberikan apresiasi. Nampak mereka mengabadikan momen ini dengan merekam melalui ponsel android. Mereka para pejabat ini memberikan tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi.
Bagi generasi muda zaman sekarang istilah rampogan macan terdengar sangat asing. Ya, tradisi ini memang telah punah, jadi wajar jika tidak dikenal lagi. Begitupun artefak atau peninggalan dari tradisi ini sangat minim. Kalaupun ada, itu hanya beberapa foto-foto peninggalan Hindia Belanda.
Secara etimologis Rampogan Macan terdiri dari 2 kata yaitu rampogan yang artinya “rayahan” atau “rebutan” dan Macan atau Harimau. Bila diartikan secara keseluruhan maka Rampogan Macan adalah sebuah kegiatan “rebutan” Macan untuk dibunuh secara beramai-ramai dengan menggunakan tombak ataupun benda tajam lainnya.
Pada awalnya tradisi ini berkembang sejak abad ke-17 di wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di masa pemerintahan Raja Susuhunan Amangkurat II. Sebagian ada yang percaya bahwa tradisi ini sudah berlangsung sejak masa Kerajaan Singasari.
Raden Kartawibawa dalam buku Bakda Mawi Rampog, menceritakan secara rinci tradisi rampogan macan ini. Buku tersebut diterbitkan Balai Pustaka (Bale-Poestaka) pada tahun 1923. Buku bersejarah itu kemudian dipindai oleh peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Djoko Luknanto dan diunggah di situs staff UGM.
Menggunakan Bahasa Jawa, Kartawibawa seorang ahli ilmu pertanian dan sejarawan asal Blitar itu menggunakan istilah 'sima' untuk merujuk kepada kucing besar ini. Terkadang ia juga menggunakan istilah 'macan loreng' untuk merujuk pada harimau, atau menambahkan keterangan untuk macan jenis yang lain.
Kartawibawa yang hidup setelah era Perang Dipongeoro menyaksikan sendiri hidupnya tradisi ini. Saat ia masih kecil, hewan pemakan daging yang tersebar di Pulau Jawa ini masih cukup sering dijumpai. Kadang-kadang, harimau Jawa ini memangsa ternak warga hingga akhirnya diburu.
Baca Juga : Pemkab Situbondo Usulkan Perubahan 22 Perda Terkait Retribusi dan Pajak Ke DPRD
Bahkan penguasa saat itu memberi imbalan bagi siapa saja yang bisa membunuh si loreng. Satu ekor harimau dihargai 10 hingga 50 Gulden. Dalam kondisi seperti itu, acara rampogan macan menjadi hal biasa.
Di wilayah Blitar, Rampogan Macan berkembang menjadi sebuah acara untuk perayaan menjelang hari besar agama seperti Hari Raya Idul Fitri dan Tahun Baru Islam Pertunjukan kolosal yang masih marak dipertontonkan di awal 1900-an ini biasa di gelar di Alun-alun. Ibarat gladiator di jaman romawi, harimau buruan dilepaskan dan dipertarungkan dengan ribuan orang di Alun-alun.
Secara Filosofis Rampogan Macan diselenggarakan untuk menyambut tamu-tamu kehormatan maupun para pejabat dari Belanda, sehingga secara tersirat tradisi ini ditujukan untuk memperlihatkan bahwa kekuatan rakyat dapat mengalahkan kekuasaan para penjajah yang dilambangkan dalam bentuk macan atau harimau.
Dalam bukunya, Kartawibawa menggambarkan ribuan pria yang memegang tombak mengitari alun-alun membentuk barikade. Dalam pertunjukan tersebut orang-orang beradu nyali memamerkan kehebatan dan keampuhan tombak atau senjata pusaka masing-masing. Di tengah, kandang-kandang yang kelewat sempit untuk harimau kemudian dibuka.
Harimau itu dipaksa untuk menghadapi tajamnya tombak-tombak masyarakat. Satu harimau versus ribuan pria bersenjatakan tombak.Supaya harimau itu keluar dari kandangnya dan berlarian menerjang barikade tombak, maka massa di alun-alun bersorak.Bila harimau masih diam saja, biasanya mercon besar dinyalakan atau ada orang yang memancing dengan senjata agar harimau itu mengamuk di alun-alun.
Harimau yang kebingungan mencoba menerjang barikade orang-orang yang memegang tombak. Bagaikan sapu lidi, tombak-tombak tajam yang diarahkan membuat tubuh dan kepala harimau terluka dan membuat harimau berlari kesisi barikade yang lain. Begitu seterusnya harimau yang kebingungan akan mati kehabisan darah atau diam ditengah menunggu ribuan tombak mengoyak badannya sampai mati.
Keberadaan rampogan macan secara langsung menyebabkan populasi harimau jawa perlahan-lahan punah. Setiap hari ada puluhan harimau yang diburu dengan bengis. Beberapa diawetkan lalu dijual pada saudagar. Beberapa lagi dikuliti karena motif rambutnya yang sangat unik. Harimau yang masih kecil atau belum dewasa biasanya dipelihara dan digunakan untuk rampogan macan.
Di Blitar, tradisi ini benar-benar ditinggalkan pada akhir abad ke-19. Kala itu harimau jawa benar-benar punah dan tidak bisa diselamatkan keberadaan. Kalau saja di masa lalu tidak ada tradisi ini atau kalau pun ada tidak dilakukan secara besar-besaran mungkin saat ini Harimau Jawa tetap ada hingga sekarang.