JATIMTIMES - Telah menjadi tradisi tahunan para petani di Desa Tugu, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, menggelar ritual methik pari. Berdasarkan keterangan Kepala Desa Tugu, Didik Purna Nugroho, tradisi methik pari adalah istilah yang digunakan oleh masyakat di wilayahnya saat akan memanen padi.
"Ini adalah budaya adiluhung, sebuah tradisi turun temurun dari nenek moyang kami yang kita lanjutkan dan kita Lestarikan hingga kini dan di masa yang akan datang," kata Didik Purna Nugroho, Selasa (28/7/2026).
Baca Juga : Resmi Pimpin Polresta Malang Kota, Kombes Danang Siap Lanjutkan Program Pelayanan
Methik pari di Desa Tugu, seperti juga di wilayah lain dilakukan beberapa hari sebelum panen akan tiba. Bukan hanya turun ke sawah, petani sebelum melakukan methik pari juga menyiapkan ritual selametan dengan memasak menu kenduri untuk dibawa dan disantap bersama-sama di sawah.
Sebelum disantap, masakan para petani yang dikumpulkan ini diberi doa oleh sesepuh masyarakat desa Tugu. "Selalu sebelum makanan ini dimakan bersama, seperti halnya selamatan selalu didahului dengan do'a bersama yang dipimpin oleh salah satu sesepuh adat. Hal ini juga bertujuan agar panen musim ini berkah dan tahun berikutnya juga melimpah, " ujarnya.
Selain bentuk syukur, selamatan Methik pari seperti halnya sedekah bumi sebagai rasa syukur pada sanghyang pencipta atas rejeki yang diberikan dari hasil pertanian. "Petani juga selalu berdoa agar diberikan kelancaran, tiada aral dimasa mendatang. Khususnya, berdoa agar musim depan ini tidak ada hama yang menyerang dan hasil panen semakin berkah melimpah," tuturnya.
Desa Tugu, Kecamatan Rejotangan merupakan desa mandiri dan swasembada pangan. Warga yang mayoritas petani di Desa Tugu, hasil panennya mampu menopang kebutuhan bahan pokok berupa beras. Selain para petani yang kompak ke sawah, acara ini juga dihadiri segenap lembaga desa, Babinsa dan Bhabinkamtibmas desa Tugu.