01/12/2022 Raja Solo Pakubuwono VI, Tokoh Sentral di Balik Perjuangan Pangeran Diponegoro | Jatim TIMES

Raja Solo Pakubuwono VI, Tokoh Sentral di Balik Perjuangan Pangeran Diponegoro

Sep 19, 2022 11:50
Ilustrasi Pakubuwono VI dan perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro.(Foto : Istimewa)
Ilustrasi Pakubuwono VI dan perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro.(Foto : Istimewa)

Pewarta: Aunur Rofiq | Editor: A Yahya

JATIMTIMES - Perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda selalu dikenang sebagai perlawanan paling legendaris masyarakat Nusantara terhadap penjajah. Salah satu tokoh penting yang mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro adalah  Raja Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Sri Susuhunan Pakubuwono VI.

Di tulisan kali ini, JATIMTIMES akan membahas sedikit tentang kiprah Sri Susuhunan Pakubuwono VI dalam perang Jawa.

Baca Juga : Adu Teknik dan Kekuatan, Tim Ki Ageng Geng Juara Lomba Tarik Tambang Puser Bumi Cup III Watuagung

Sebagai raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sri Susuhunan Pakubuwono VI terikat kontrak politik dengan Belanda, seperti halnya kerajaan-kerajaan lainnya di Nusantara. Namun, di sisi lain, nuraninya bergolak. Ingin rasanya ia membantu kerabat jauhnya dari Yogyakarta, Pangeran Diponegoro, yang sedang terlibat polemik dengan Belanda dalam rangkaian Perang Jawa yang mulai berkobar sejak 1825 itu.

 Mengikuti kata hatinya, Sri Susuhunan Pakubuwono VI akhirnya memilih jalan tengah kendati risikonya sangat besar jika sampai diketahui oleh Belanda. Ia menjalani peran ganda. Di satu sisi, Kraton Surakarta tetap menaati kesepakatan politik dengan Belanda. Tapi di sisi lain, sang raja Jawa secara diam-diam memberi dukungan dan sokongan terhadap perjuangan Pangeran Diponegoro.

Anak lelaki Sri Susuhunan Pakubuwowo V itu bernama Raden Mas Sapardan. Raden Mas Sapardan anak Pakubuwono V yang lahir dari dari permaisuri Raden Ayu Sosrokusumo Raden Mas Sapardan dilahirkan pada 26 April 1807. Beliau Raden Mas Sapardan masih keturunan Ki Juru Martani, patih pertama dalam sejarah Kesultanan Mataram Islam, dari garis darah ibundanya.

Sri Susuhunan Pakubuwono V wafat pada 5 September 1823 setelah hanya tiga tahun bertahta di singgasana Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Setelah masa berkabung selama 10 hari, Kasunanan Surakarta Hadiningrat memiliki  raja baru. Sang putra mahkota yakni Raden Mas Sapardan naik tahta dengan gelar Sri Susuhunan Pakubuwono VI. Pakubuwono VI naik tahta pada 15 September 1823 di usia 16 tahun.

Dua tahun memimpin Surakarta Hadiningrat sebagai Raja, Pakubuwono VI langsung dihadapkan pada situasi yang dilematis. Pangeran Diponegoro, putra sulung Sri Sultan Hamengkubuwono III, yang tidak lain adalah raja ke-3 Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, terlibat perseteruan serius dengan Belanda.

Menolak sebagai Sultan Yogyakarta karena lahir dari isteri selir, Pangeran Diponegoro kemudian memilih keluar dari istana. Diponegoro kemudian terlibat konflik serius dengan Belanda. Perang Jawa kemudian dimulai pada tahun 1825. Perang ini menjadi perang terbesar yang nyaris membuat Belanda bangkrut.

Meletusnya perang Jawa membuat nurani Pakubuwono VI bergejolak. Dia kemudian memutuskan untuk membantu perjuangan Pangeran Diponegoro meskipun secara diam-diam berkolaborasi dengan Belanda agar hubungan “diplomatik” terjaga. Sikap dua muka ini dia lakukan demi keamanan istana dan rakyat Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Dalam menjalankan strategi ini, sang sunan amat cerdik. Sejarah mencatat terjadi beberapa kali pertemuan antara Sri Susuhunan Pakubuwono VI dan Pangeran Diponegoro. Perjumpaan dua tokoh penting Wangsa Mataram ini benar-benar dirahasiakan. Sikap sang sunan dalam perang Jawa amat tegas, Pakubuwono VI menyatakan kesanggupannya untuk membantu Pangeran Diponegoro yang tidak lain adalah pamannya itu.

Pakubuwono VI sering dikabarkan pergi bertapa ke Gunung Merbabu atau ke pedalaman hutan rimba, yang kemudian memunculkan julukan “Sinuhun Bangun Tapa” bagi sang raja. Namun, sebenarnya ia menemui Pangeran Diponegoro. Dalam pertemuanya, dua tokoh penting dari Dinasti Mataram Islam ini membicarakan situasi terkini sekaligus membahas strategi perlawanan terhadap Belanda.

 Pangeran Diponegoro sendiri pernah menyusup ke Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat untuk menemui Pakubuwono VI. Kehadiran sang peangeran ke keraton ini dicurigai oleh Belanda. Kecurigaan itu berujung Belanda mengirimkan pasukan penggeledah ke istana. Saat berhasil diketahui oleh pasukan penggeledah, Pakubuwono VI dan Pangeran Diponegoro kemudian pura-pura berkelahi.

 

“Sandiwara” itu diakhiri dengan akting Diponegoro yang melarikan diri dari istana. Namun demikian setelah peristiwa itu peran ganda Pakubuwono VI terus berlanjut. Beberapa kali pasukan dikirimkan dengan dalih membantu Belanda. Namun, yang terjadi di lapangan tidak seperti itu. Taktik gerilya memberikan peluang bagi pasukan itu untuk bergabung dengan kubu Diponegoro secara diam-diam.

Strategi dua muka Pakubuwono VI akhirnya berakhir pada tahun 1830 setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda dengan cara dijebak dalam pertemuan di Magelang. Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro merupakan salah satu perang yang paling melelahkan bagi Belanda yang kehilangan sekitar 8.000 serdadu Eropa dan 7.000 prajurit lokal. Sementara korban jiwa dari kalangan rakyat mencapai 200.000 orang.

Baca Juga : Mahasiswa Harus Tahu Zona Kos dan Kuliner Murah di Kota Malang

Setelah berhasil menyingkirkan Pangeran Diponegoro yang diasingkan ke Manado sebelum dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya, Belanda mulai membidik Pakubuwono VI. Kesalahan raja Surakarta itu dicari-cari karena belum didapatkan bukti keterlibatan Pakubuwono VI dalam Perang Jawa kendati Belanda sudah curiga.

Belanda kemudian menangkap orang kepercayaan Pakubuwono VI sekaligus juru tulis keraton bernama Mas Pajangswara, ayahanda pujangga kenamaan Ranggawarsita. Ayah dan anak ini adalah abdi setia Pakubuwono VI yang turut membantu perjuangan Pangeran Diponegoro.

Meskipun dipaksa untuk membocorkan rahasia yang pernah terjalin antara Pakubuwono VI dan Pangeran Diponegoro, Pajangswara tetap bungkam hingga akhirnya tewas karena disiksa. Oleh Belanda, mayatnya kemudian dibuang ke tengah laut.


Belanda yang sudah putus akal kemudian bermuslihat. Kepada Pakubuwono VI, mereka mengatakan bahwa Pajangswara telah membongkar rahasia tersebut. Atas dasar tipu-daya itulah, Belanda kemudian menangkap Pakubuwono VI dan mengasingkanya ke Ambon, Maluku, sebagai orang buangan, pada 8 Juni 1830.

 

 Tahta Surakarta lantas dialihkan kepada orang pilihan Belanda, yaitu Raden Mas Malikis Solikin yang tidak lain adalah adik dari Sri Susuhunan Pakubuwono V alias paman dari Sri Susuhunan Pakubuwono VI. Raden Mas Malikih kemudian naik tahta dan bergelar Sri Susuhunan Pakubuwono VII.

Pakubuwono VI cukup lama menjalani kehidupan di tanah pengasingan hingga akhirnya wafat pada 2 Juni 1849. Menurut laporan resmi Belanda, Pakubuwono VI tewas dalam kecelakaan di laut. Penjelasan versi Belanda ini diterima selama bertahun-tahun dan jasad Pakubuwono VI dimakamkan di Ambon.

Kejanggalan atas penyebab kematian Pakubuwono VI baru terungkap ketika makamnya dibongkar untuk dipindahkan ke makam raja-raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta, pada 1957.

Di jasadnya, ditemukan ada lubang di dahi tengkorak Pakubuwono VI. Lubang itu berukuran seukuran peluru senapan. Temuan mengejutkan itu tak pelak mengarah kepada dugaan kuat bahwa Sri Susuhunan Pakubuwono VI meninggal dunia bukan karena kecelakaan, tapi lantaran luka tembak.

Beberapa tahun berselang setelah pemindahan makam Sri Susuhunan Pakubuwono VI dari Ambon ke Imogiri, Presiden Sukarno menetapkan Sri Susuhunan Pakubuwono VI sebagai pahlawan nasional melalui surat keputusan tertanggal 17 November 1964.

Judul berita Raja Solo Pakubuwono VI, Tokoh Sentral di Balik Perjuangan Pangeran Diponegoro.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Topik
Pangeran Diponegoro

Berita Lainnya