Kisah Abdus Syakur Ayahanda Kiai Abul Fadhol, Guru Ulama Nusantara dan Prediksi tentang Soekarno | Jatim TIMES
penjaringan-bakal-calon-jatimtimes099330c15d1b4323.jpg

Kisah Abdus Syakur Ayahanda Kiai Abul Fadhol, Guru Ulama Nusantara dan Prediksi tentang Soekarno

Apr 07, 2022 20:40
Makam Kiai Abdus Syakur di Desa Kebonharjo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban (07/04/2022) (Foto : Istimewa/ Jatim TIMES) 
Makam Kiai Abdus Syakur di Desa Kebonharjo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban (07/04/2022) (Foto : Istimewa/ Jatim TIMES) 

JATIMTIMES - Banyak kalangan pesantren apalagi khalayak umum yang mungkin tidak mengenal tokoh ulama nusantara bernama Syaikh Abdus Syakur As-Swedangi (nama tempat) yang bergelar guru Ulama Nusantara. 

Mungkin, hanya sedikit yang mengenal Kiai Abdus Syakur, seperti kiai atau ulama tertentu yang mengenal namanya. Salasatunya adalah Almarhum KH Maemoen Zubair yang menuliskan namanya dalam karya Tarajim Masyayikh bi Sarang al-Qudama'. Dalam karya itu Abdus Syakur disebutkan sebagai salah satu masyayikh atau founder pesantren Sarang Rembang. Mbah Moen menjuluki Abdus Syakur dengan gelar Syaikhul Masyayikh ‘Guru dari para ulama Nusantara’. 

Baca Juga : Kapan 8 Jabatan Tinggi di Pemkab Tulungagung Segera Dilantik, Ini Bocorannya

Biografi Syaikh Abdus Syakur Ayahanda Abul Fadhol Senori Tuban 

Syaikh Abdus Syakur dilahirkan 1281 H/1861 M di daerah Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Beliau putra dari kiai Muhsin putra pendiri pertama pesantren Sarang, yakni kiai Saman (mbah saman). Sedangkan Ibunya Raden Denok bin Raden Suramiharjo memiliki silsilah keraton Surakarta. Meski dari kalangan bangsawan, Denok dikenal ahli ibadah dan perempuan taat.

Kiai Abdus Syakur kecil belajar agama dari ayahnya dan juga kepada beberapa kiai di daerah Sedan. Diantaranya kiai Syarbini dari Desa Karang Asem. Lalu, berlanjut belajar ke kiai Kufrawi Tambakboyo Tuban, Jawa Timur.

Kemudian, 1296 H Abdus Syakur menuju pusat studi keislaman yakni kota Makkah. Beliau mukim dan belajar ilmu di sana selama lima tahun. Berguru kepada ulama terkemuka dari Sayyid Ahmad Bin Zaini Dahlan, Sayyid Abu Bakar Assyatho, dan guru sekaligus teman karib dari Nusantara yakni Syekh Nawawi Al Banteni kala itu. 

Selesai belajar di Makkah, Abdus Syakur pulang ke Indonesia. beliau tidak menghilangkan tradisi belajarnya, kali ini nyantri ke kiai Shaleh Darat Semarang. Kemudian, Abdus Syakur menikahi perempuan bernama Masfufah binti Abdul Hadi dan dikaruniai enam anak, yakni Muhammad Fadhil, Muhammad dan Muhammad Fadhol (keduanya meninggal di waktu kecil), Nafisah, Nafi'ah, Muniroh dan Saidah. Sehingga, dengan istrinya beliau tak mempunyai keturunan putra sepeninggal istri pertamanya Masfufah. 

Abdus Syakur menikah lagi dengan Sumi'ah binti kiai Ibrahim dan dikaruniai dua orang putera, Abul Khayr dan Abul Fadhol. Putranya, Abul Fadhol Senori Tuban yang kelak menjadi ulama dan penulis utama di kalangan pesantren abad ke 20 dengan segudang keunikan dan zuhudnya. Karya-karyanya tidak hanya terbit di Indonesia, tapi juga ke Negara Turki, sampai jazirah Timur tengah dan asia Tenggara.

Selain itu, Karya utama Abul Fadhol direkomendasikan oleh Mukatamar NU ke-23 sebagai buku yang harus diajarkan di seluruh pesantren dan lembaga pendidikan di bawah NU. 

Tokoh-tokoh seperti kiai Sahal Mahfudz (mantan Ketua MUI dan Rais Am PBNU), kiai Hasyim Muzadi yang juga mantan Ketua umum PBNU, kiai Maimoen Zubier dan beberapa ulama lain seperti kiai Muhibbi Hamzawi (Pati), menyandarkan genalogi intelektualnya melalui kiai Abul Fadhol, putera syaikh Abdus Syakur.

Kembali ke kisah ayahandanya Abul Fadhol, kiai Abdus Syakur pada tahun 1921 hijrah ke Swedang, Desa Kebonharjo, Kecamatan Jatirogo, kabupaten Tuban, Jawa Timur. Kepindahannya ditujukan "babat alas" atau istilah Jawa disebut membuka wilayah dakwah baru yang ditandai pengajian bagi masyarakat sekitar Jatirogo. Di tempat ini juga mendirikan pesantren Swidang sampai wafatnya tahun 1949. Abdus Syakur dimakamkan di Desa Swedang, Kebonharjo, Jatirogo, kabupaten Tuban.

Prediksi Kemerdekaan dan Sosok Soekarno

Selain ulama yang disegani oleh masyarakat dan kalangan pesantren, beliau juga dikenal sebagai penentang penjajah Belanda yang teguh. Dari syairnya yang dianggap membangkitkan para pemuda Islam, terutama di kalangan santri untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda dan nalarnya yang memprediksi kemerdekaan bangsa Indonesia, juga dituangkan kedalam bait syair sebagai berikut. 

Arrihil yafaa fi ghisyisaa # shafari fakil bil wakhidi

Biqitalihim suyufihim # walajihim wata’anudi
Wa fi rajabin tara ‘ajaban # wa fis syahril ladzi ba’dah

Wa fi Ramadhana hamhamah # wa haddah ba’dahu haddah

Wa fi Syawwal yasyulu al-qaum # wa yaskunu fi dzawil qa’dah

Wa fiiha yahrujul haadi # imaamul haqqi la ba’dah

Tarikhkanlah bahwa Jepang akan menjinakkan Nusantara pada tahun ghisy-syisa*

Ia sebagai kolonial menyengsarakan bangsa Indonesia/Silih berganti, peperangan, adu senjata dan perihnya mengarungi samudera/Ketika bulan Rajab (1365 H/Juni 1945) telah terjadi keajaiban, kemudian semakin lumpuh pada bulan Sya’ban (Juli 1945)/ Kemudian pada bulan Ramadhan (17 Agustus 1945) datanglah masa gembiraria (proklamasi) bagi bangsa Indonesia.

Dan bulan Syawal (September 1945)/penderitaan Nusantara semakin membaik/ Posisi Indonesia semakin tenang dengan kemerdekaannya/ pada bulan Dzul Qa’dah (Oktober 1945) Di bulan inilah Allah menampilkan sosok pemimpin/yang dapat mengayomi masyarakatnya (Soekarno)/ seorang pemimpin sejati yang tidak ada duanya (Syair ini diriwayatkan oleh Kiai Maemoen Zubeir dari Syaikh Abdus  Syakur)

Baca Juga : Wujudkan Upaya Ketahanan Pangan, Gubernur Khofifah Panen Raya Dua Jenis Padi Varietas Unggul di Kabupaten Malang

Menuntun Ilmu dari Makkah Kembali Belajar ke Kiai Nusantara 

Meski telah belajar cukup lama di Mekkah dan telah menguasai berbagai cabang keilmuan Islam dari ulama-ulama terkemuka di sana, sekembalinya ke Jawa ia justru belajar lagi kepada ulama-ulama di Nusantara. 

Padahal, di kota Makkah beliau telah belajar kepada ulama terkemuka diantaranya: Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti Makkah di akhir pemerintahan Daulah Utsmaniyyah di Turki, Syaikh Madah, Sayyid Bakri as-Syatha, pengarang kitab I'anah at-Thalibin, Syekh Abdul Hamid as-Syarwani, Sayyid Ahmad Zawawi, Syekh Hasbullah bin Sulaiman al-Jawi, serta mufti madzhab Syafi'i di Mekah pada awal 1900-an, Muhammad Said bin Muhammad Bashil al-Hadrami, Syekh Umar bin Barakat as-Syami, serta ulama kharismatis dari Indonesia, Syekh Nawawi al-Bantani. 

Tradisi seperti ini di era sekarang jarang dilakukan oleh orang-orang yang pernah belajar ke Makkah atau negara Timur Tengah atau luar negeri. Banyak orang Indonesia, dari kalangan pesantren yang enggan belajar lagi kepada ulama Nusantara sepulang dari Timur Tengah. Lucunya tak jarang diantara dari mereka kemudian menjadi ke-Arab-Araban.

Suli tauladan dari kiai Abdus Syakur, pulang dari Makkah justru kemudian belajar lagi kepada beberapa ulama di Jawa, diantaranya Kiayi Hasbullah, Langitan Tuban selama kurang lebih satu tahun, dan kemudian mengembara ke Solo, yang dikenal sebagai pusat budaya dan peradaban Jawa. Di sana ia mempelajari bahasa Jawa Kromo Inggil kepada Kiai Imam Ghozali. Di samping itu, belajar beberapa ilmu keislaman. 

Pelajaran penting perjalanan singkat Kiai Abdus Syakur

Pertama, Kiai Abdus Syakur tampaknya ingin menunjukkan bahwa ulama-ulama alim di Jawa juga tak kalah otoritatif dari ulama-ulama di Timur Tengah. Kedua, ia mengajarkan kerendahan hati untuk tetap menuntut ilmu dan belajar meski telah menyerap ilmu dari ulama-ulama terkemuka. 

Ketiga, tampaknya bagi Abdus Syakur untuk berdakwah seseorang harus memahami betul budaya dan bahasa audiennya. Beliau sadar tinggal di Jawa dan akan berdakwah kepada masyarakat Jawa, maka ia harus memahami seluk-seluk budaya dan bahasa Jawa.

Hal ini dibuktikan, setelah dari Solo, ia kemudian menuju ke Semarang untuk belajar kepada Kiai Soleh Darat yang dikenal sebagai ulama banyak menuliskan karya-karyanya tentang Islam dalam bahasa Jawa halus. 

Bagi Kiai Soleh Darat, untuk menjadi saleh dan diterima Tuhan, orang tidak harus mengerti bahasa Arab, apalagi ke-Arab-Araban (Saiful Umam, God Mercy is Not Limited to Arabic Speaker.,Studia Islamika, 20(2), 2013).

Barangkali karena mengikuti jejak guru-gurunya, Kiai Abdus Syakur juga menulis, menerjemahkan dan mensyarah kitab-kitab berbagai bidang ilmu Keislaman, Bahasa dan Kesusastreaan Arab (Balaghah, Arud, Mantiq atau logika) kedalam bahasa Jawa halus atau Kromo Inggil. meskipun karya-karya tersebut tidak pernah sampai ke publik, karena tidak pernah diterbitkan (masih berbentuk manuskrip) dan hanya dibaca dan pelajari para santrinya. 

Sumber: Diolah dari berbagai sumber

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
kiai abdus syakur

Berita Lainnya