free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Pemerintahan

Dukun Masih Jadi Pilihan Masyarakat Tulungagung dalam Memilih Faskes pada Pendataan SDGs Desa

Penulis : Muhamad Muhsin Sururi - Editor : Dede Nana

30 - Jun - 2021, 01:33

Placeholder
Logo SDGs Desa dan Ilustrasi Paranormal. (Foto: Dok. Google)

TULUNGAGUNGTIMES - Dalam pendataan Sustainable Development Goals (SDGs) Desa di Kabupaten Tulungagung, diketahui masih ada sebagian masyarakat yang memilih dukun atau paranormal sebagai pilihan fasilitas Kesehatan (Faskes) yang dipakai ketika sedang menderita sakit.

"Kencederungan masyarakat masih ada yang memilih dukun sebagai pilihan faskes pada pendataan individu kategori kesehatan," kata Tenaga Ahli Infrastruktur Desa (TA-ID) Kabupaten Tulungagung Guminto melalui telpon seluler, Selasa (29/6/2021).

Baca Juga : Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Ngawi Ajak Masyarakat Melek Cukai

Menurut Guminto, deadline pendataan SDGs Desa telah mengalami perubahan, dari semula yang ditetapkan Kemendesa PDTT 31 Mei 2021 berubah menjadi 31 Juli 2021 dikarenakan adanya update sistem untuk upload data di Pusdatin.

Data SDGs Desa, lanjutnya, nantinya akan digunakan untuk dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintahan (RKP) Desa Tahun 2022, dan akan dilakukan update setiap 1 tahun sekali.

"Dalam UU Nomor 6 Tahun 2014, data SDGs Desa adalah milik desa dan semua kewenangan ada pada desa," tutupnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Tulungagung melalui Kabid Perencanaan dan Pembangunan Desa Anasrudin mengatakan, untuk pendataan SDGs Desa secara manual semua desa di Tulungagung sudah selesai. Namun progresnya masih bervariasi ada yang sudah selesai upload ada yang masih proses upload di aplikasinya.

"Kalau target secara aturan 31 Mei. Mengingat ada penyempurnaan aplikasi target berubah bulan Juli, sehingga outputnya yakni rekomendasi SDGs bulan Juli," kata pria yang akrap disapa Anas.

Baca Juga : Layak Jadi Pilihan, Ini Keunggulan Prodi Akutansi Unikama

Dijelaskan, dalam pendataan individu belum ada indikator secara khusus untuk buta huruf, namun ada data tidak sekolah dari segala umur, bahkan umur 3 Tahun pun masuk kategori tidak sekolah. Yang artinya, kategori tidak sekolah dalam pendataan SDGs Desa tidak diklasifikasi secara spesifik bahkan balitapun masuk kategori tidak sekolah.

"Kalau jumlah yang tidak sekolah  sampai saat ini belum bisa di akses dalam aplikasi, masih dalam proses," tutupnya.


Topik

Pemerintahan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Muhamad Muhsin Sururi

Editor

Dede Nana