MALANGTIMES - Dalam rangka pelaksanaan Pengabdian Mahasiswa oleh Masyarakat (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), melalui kreativitas dan inovasinya Tim PMM kelompok 8 dan 9 Gelombang 13 UMM, dengan Dosen Pembimbing Lapangan Nur Hayatin ,S.ST., M.Kom, mengubah limbah kayu yang tak terpakai menjadi suatu produk bernilai jual.
Kegiatan PMM Bhaktimu Negeri merupakan kegiatan mahasiswa di bawah pengelolaan Departemen Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UMM.
Baca Juga : Upaya Internasionalisasi Kampus dan Gaet Mahasiswa Asing, UIN Malang Bakal Gelar Kompetisi Robot
Ide tersebut tercetus ketika melihat banyak limbah kayu di tempat PMM yaitu Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang yang belum dimanfaatkan dengan baik. Sebagian masyarakat di Desa Toyomarto adalah pengrajin sendal kayu, tetapi masih banyak yang belum paham dengan cara pemanfaatan dan pengolahan limbah kayu sendiri.
Limbah kayu dari sendal tersebut biasanya hanya digunakan sebagai pupuk dan ada juga yang dibiarkan atau dibuang begitu saja. Jika dibiarkan terus menerus dapat mencemari lingkungan warga sekitar akibat belum dimanfaatkan dan diolah dengan baik.
Limbah sandal kayu merupakan sisa hasil produksi pabrik sandal kayu yang berupa serpihan-serpihan kayu dan bertumpuk di sekitar sentra industri sandal kayu tersebut, hal ini dasar pemikiran untuk pemanfaatannya.
Menurut Satrio, kegiatan ini dilakukan untuk pengurangan limbah kayu secara bertahap demi kelangsungan alam dan bumi untuk mejaga keasriannya, “sehingga diharapkan pengrajin sandal kayu di Desa Toyomarto dapat memanfaatkan limbah tersebut dan menjadi nilai ekonomi suatu benda” jelasnya.
Pembuatan pewarna dari limbah kayu ini tergolong mudah sehingga mudah diterapkan, dengan adanya bahan pendukung lainnya yaitu kompor, botol plastik, dan panci. Proses pembuatannya pun juga dapat dilakukan dengan mudah yaitu dengan merebus selama kurang lebih 30 menit, lalu matikan kompor, dan diamkan sekitar 30 menit lagi agar mendapatkan perubahan warna yang diinginkan.
Baca Juga : Hari Air Sedunia ke 29, Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Menghargai Air
Pada proses tersebut menghasilkan warna coklat gelap sesuai dengan apa yang diinginkan. Setelah produk berhasil dibuat, hasil produk langsung kami perkenalkan kepada Bapak Darto, selaku salah satu pengrajin sendal di Desa Toyomarto.
![Mahasiswa-Muhammadiyah-Malang-Jadikan-Limbah-Kayu-Sebagai-Pewarna-260b25ae36959e90f.jpg](https://risetcdn.jatimtimes.com/images/2021/03/23/Mahasiswa-Muhammadiyah-Malang-Jadikan-Limbah-Kayu-Sebagai-Pewarna-260b25ae36959e90f.jpg)
“Tujuan kami melakukan program ini adalah untuk menaikkan nilai pakai dan nilai ekonomi suatu benda dan dapat menaikkan taraf hidup masyarakat dengan menciptakan lahan pekerjaan baru dari pengolahan limbah kayu tersebut, dan diharapkan para pengrajin sendal kayu jadi lebih terampil untuk memanfaatkan limbah kayu,” ujar Rina.
Selama ini para pengrajin sandal kayu hanya fokus pada pembuatan sandal kayu lalu dijual, kedepannya diharapkan para pengrajin sandal bisa memanfaatkan limbah dengan kreatif dan inovatif, dimana limbah sisa sandal kayu ini bisa digunakan untuk menciptakan ragam produk dengan hasil yang bisa diakui dan diterima oleh masyarakat.