Banyak orang merasakan Pandemi Covid-19 ini memiliki dampak sosial dan ekonomi yang tidak menguntungkan bagi pelaku usaha, banyak usaha yang harus gulung tikar selama pandemi. Namun tidak sedikit pula yang justru meraih berkah dari pandemi ini, dan membuka inovasi dan kreativitas baru di masyarakat.
Setidaknya hal ini dialami oleh Yudiarti Karimata salah satu ibu rumah tangga yang tinggal di Jalan Karimata Gang Renggali 227 Sumbersari Jember. Meski di awal pandemi masuk Indonesia pada Maret lalu, dan sempat menggoyahkan perekonomiannya, namun perlahan ia melihat ada peluang ekonomi yang bisa dijalankan pada masa pandemi ini.
Baca Juga : Pasar.id Kota Malang Diapresiasi Presiden Jokowi
Berbekal dengan keterampilan menjahit yang ia pelajari di Balai Latihan Kerja Disnakertrans Propinsi Jawa Timur pada 2015 lalu, ibu dengan dua putra ini mencoba untuk memberdayakan keterampilannya dengan mencoba untuk membuat masker namun berbeda dengan kebanyakan masker pada umumnya yang dijual di pasaran.
Terlebih di era Adaptasi Kebiasaan Baru (ABK) di mana pemerintah menganjurkan kepada masyarakat untuk menerapkan 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan dan Menjaga Jarak), Yudiarti mulai menemukan ide dengan membuat masker motif dengan mengangkat kearifan lokal.
"Saya dulu memang ingin menjadi seorang penjahit, kemudian belajar di BLK Disnaker Propinsi, nah saat pandemi ini, saya sempat bingung, apa yang bisa saya kerjakan, terlebih pada awal pandemi, pemerintah menghimbau kepada kita untuk bekerja dari rumah, akhirnya saya iseng untuk membuat masker dengan bekal keterampilan bisa menjahit itu,” ujar perempuan lulusan lulusan SMEA Negeri Bondowoso.
Dari keisengan ini, Yudiarti mulai memproduksi masker, dengan memasarkan melalui media sosial, dan kolega suaminya yang kebetulan bekerja sebagai karyawan di kantor UPT Pengujian Sertifikasi Mutu Barang Lembaga Tembakau Jember Disperindag Provinsi Jatim.
Ternyata masker motif yang diproduksinya ini lama-lama mulai diminati oleh kebanyakan masyarakat, terlebih motif yang digunakan adalah motif batik tembakau yang menjadi ciri khas Kabupaten Jember sebagai kota tembakau.
“Saya mulai memproduksi masker ini pada bulan April, di dua bulan pertama yakni April dan Mei, dalam satu bulan saya bisa memproduksi sampai 1000 masker, bahkan saya sempat kewalahan, sehingga saya sampai minta dibantu oleh 5 teman saya,” ujar Yudiarti.
Namun seiring banyaknya warga yang juga memproduksi masker dengan berbagai motif, produksinya kini tidak sebanyak pada awal pandemi. “Sekarang produksinya sudah berkurang, mungkin karena mulai banyak yang membuat, dan berbagai pilihan motif juga sudah banyak, namun saya tetap menggunakan motif kearifan lokal, yakni motif batik tembakau, karena ini ikon Kota Jember yang ada riwayat dan sejarahnya,” ujar Yudiarti menambahkan.
Untuk bahan baku kain batik bermotif tembakau, Yudiarti tidak membuat sendiri, ia bekerjasama dengan pelaku UMKM lokal yang ada di Jember. “Untuk bahan baku saya bekerjasama dengan teman saya yang kebetulan UMKM yang memproduksi batik khas Jember,” ujar istri dari Sunito.
Meski permintaan masker buatannya sudah mulai menurun, dari 1000 masker di dua bulan pertamanya, dan kini hanya diangka 100 sampai 200 masker saja, namun permintaan produksi maskernya tidak hanya di dalam Kota Jember saja, tapi juga dipesan oleh warga luar kota, yakni dari Bondowoso, Situbondo, Lumajang dan Banyuwangi.
Baca Juga : Apartemen The Kalindra Jadi Primadona Investasi Prospektif di Malang
“Untuk produksi masker memang sudah mulai menurun permintaannya, tapi saya mencoba untuk membuat usaha lain, tetap dengan keterampilan yang saya miliki, yakni dengan membuat oblang (tutup kepala khas Jember), tas dari goni (sak), serta menjahit baju, karena prosuksi menurun, sekarang saya kerjakan sendiri,” ujar Yudiarti.
Yudiarti juga tidak mau limbah-limbah kainnya mencemari lingkungan dan hanya menjadi sampah tidak terpakai. Iapun memanfaatkan limbah (potongan) kain tersebut dimanfaatkan menjadi beberapa jenis ketrampilan lainnya, mulai dari keset, celemek, alas meja dan juga jampel panci (alat untuk mengangkat panci dalam kondisi panas).
“Jadi saya usahakan sebisa mungkin, potongan kain ini tidak terbuang sia-sia, dan Alhamdulillah, ternyata masih bisa dimanfaatkan lagi, jadi tidak ada limbah yang terbuang,” bebernya.
Yudiarti, mengajak kepada semua ibu ibu rumah tangga untuk selalu bergerak dan maju untuk menghasilkan sebuah Karya yang bermanfaat untuk keluarga, dengan berkarya mandiri, maka dimasa pandemi ini kita tetap berkarya, dan tentu saja harus mematuhi protokol kesehatan, sehingga kesehatan tetap terjaga.
“Dengan kemauan yang tinggi dan ide-ide yang ada di pikiran kita, kita bisa membantu suami untuk menambah penghasilan, Alhamdulillah, dengan usaha sampingan di rumah ini, minimal uang jajan anak saya yang kuliah dan di bangku SMA, tidak mengurangi uang belanja,” pungkas Yudiarti. (*)