Wali Kota Malang Sutiaji. (Foto: Humas Pemkot Malang).
Wali Kota Malang Sutiaji. (Foto: Humas Pemkot Malang).

Masyarakat tanah air dituntut untuk selalu menggalakkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di tengah pandemi Covid-19. Protokol kesehatan dengan disiplin pakai masker, rajin cuci tangan, hingga jaga jarak juga semakin digencarkan untuk bisa menjadi kebiasaan hidup baru.

Langkah ini nampaknya juga menjadi ajang bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk menata kawasan kumuh. Sehingga, bisa menjadi bersih dan jauh akan kemunculan penyakit.

Baca Juga : CSR Bank Jatim Berupa 10 Ribu Masker Tenun Ikat, Penyaluran Kartu Sahabat Libatkan Ratusan Tukang Becak

Wali Kota Malang Sutiaji menyatakan, masih banyak dari persoalan penataan kota yang jadi PR. Selain kemacetan, penataan kawasan kumuh juga menjadi bagian yang harus segera dituntaskan. Di masa pandemi Covid-19, dinilai menjadi momentum untuk menata kota menjadi lebih sehat.

"Pandemi menjadi pelajaran bagi kita, maka ini sebetulnya semakin meneguhkan kita, ada keharusan, bagaimana penataan kota yang kumuh menjadi tidak kumuh. Goals-nya adalah bagaimana terjaganya kesehatan," ujarnya.

Ia menambahkan, penataan kawasan kumuh menjadi keharusan di tengah pandemi. Mengingat, penularan virus dapat dengan mudah melalui transmisi barang dan perorangan.

Menurut Sutiaji, ada beberapa hal yang menjadi penentu penataan kota menjadi kota sehat. Seperti, perihal penataan kawasan kumuh, hingga sanitasi.

"Maka penataan kawasan menjadi sebuah keharusan. Infrastruktur jaringan dan kawasan. Kawasan itu ada sanitasi, air dan penataan wilayah kumuh. Sanitasi ini harus 100 persen, dan sifatnya suistainable. Jangan sampai sekarang dibenahi, besok atau lima tahun yang akan datang rusak lagi," imbuhnya.

Baca Juga : Hari Santri Nasional 2020, Ketua DPR Kota Batu: Vaksin Covid-19 Itu Disiplin Diri

Pihaknya juga menilai, kawasan perkotaan dengan kepadatan penduduk memang lebih diketatkan dan digencarkan terkait pendisiplinan protokol kesehatan. Karenanya, dibentuklah Kelurahan RW Tangguh untuk bisa memperkuat adaptasi tatanan kehidupan baru di tengah pandemi Covid-19.

"Kota-kota denhan kepadatan ini rawan sekali terpapar. Dengan kota tangguh, maka orang itu akan mempunyai karakter. Masker dan disiplin ini bukan untuk kepentingan orang lain, tapi untuk kepentingan diri sendiri. Di sini salah satu kunci juga adalah bagaimana membawa karakter masyarakat kita," tandasnya.

Untuk diketahui, data di lima tahun terakhir dari 608 hektare kawasan kumuh, Kota Malang masih menyisakan kurang lebih 72 hektare kawasan. Sisa inilah, yang diharapkan tahun 2020 ini akan bisa dituntaskan.