Kepala Dinsos-P3AP2KB Penny Indriani (Hendra Saputra)
Kepala Dinsos-P3AP2KB Penny Indriani (Hendra Saputra)

Menekan angka kehamilan di masa pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai, Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang, memanfaatkan 41 Penyuluh Keluarga Berencana (PLKB) yang tersebar di 5 kecamatan di Kota Malang.

Kepala Dinsos-P3AP2KB Penny Indriani, menuturkan, saat ini di Kota Malang terdapat 41 orang Penyuluh KB yang tersebar di 5 kecamatan. Di mana dalam setiap kecamatan tersebut terdapat 1 Balai Penyuluhan.

Baca Juga : Empat Ruas Jalan di Kabupaten Kediri Diperbaiki Telan Dana Rp 95 Miliar

Menurutnya, pihaknya akan memaksimalkan peran Penyuluh KB di masyarakat untuk mengatasi risiko kehamilan di masa pandemi Covid-19. Hal itu mengingat pada masa pandemi ini masyarakat banyak melakukan aktivitas di rumah, sehingga dikhawatirkan angka kehamilan meningkat.

"Kami akan terus berkoordinasi dengan BKKBN Jatim. Tujuannya agar Penyuluh KB dapat berjalan efektif di masyarakat," ucap Penny.

Penyuluh KB itu dimaksimalkan untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Bahkan, Penny mengaku bahwa PLKB bisa door to door untuk memberi edukasi kepada masyarakat. 

"Harapan kami mereka bisa efektif, door to door misalnya. Kalaupun sosialisasi tidak boleh lebih dari 10 orang," ujar Penny.

Dalam hal ini, Penny berpesan, bahwa tujuan KB pada dasarnya dua anak cukup. Sehingga bisa mensejahterakan masyarakat di kemudian hari. 

"Mudah-mudahan tidak terjadi lonjakan kehamilan ya. Karena kami selalu rutin melakukan penyuluhan kepada masyarakat," ungkapnya.

Baca Juga : Diskoperindag Bondowoso Usulkan 13 Ribu UMKM Dapat Banpres Produktif

Melihat data dari BKKBN Jawa Timur (Jatim), bulan Februari ke Maret 2020, angka kehamilan terlihat naik mencapai 0,09 persen. Atau, dari 229,667 kehamilan menjadi 232,287 kehamilan. Sebaliknya, angka justru turun 0,03 persen di bulan berikutnya menjadi 227,260 kehamilan. 

Namun secara keseluruhan, data cenderung meningkat. Dengan begitu, angka kehamilan di Jatim umumnya masih bisa dikatakan fluktuatif.