Ketua PSNU PN Tulungagung, Suwito (berpeci) dan korban pemukulan saat di Polda Jatim (ist)
Ketua PSNU PN Tulungagung, Suwito (berpeci) dan korban pemukulan saat di Polda Jatim (ist)

Korban penganiayaan yang dilakukan sekelompok orang berseragam polisi mengalami trauma pasca kejadian itu. salah satunya adalah DD (18tahun) yang mengaku takut jika mengingat kejadian yang menimpanya pada Jum’at (11/9/20) lalu.

DD menceritakan saat kejadian dirinya sedang tidur di warung kopi di Desa Suruhan Lor, Kecamatan Bandung. Tanpa ada peringatan, dirinya tiba-tiba langsung dipukul menggunakan rotan oleh pria berseragam polisi. Karena takut terkena pukul rotan lagi DD lari, namun terus dikejar.

Baca Juga : Pelaku Penusukan Syekh Ali Jaber Disebut 4 Tahun Alami Gangguan Jiwa, Ini Kata RSJ Lampung

Tak cukup sampai di situ, DD mengaku pria berseragam polisi itu sambil berteriak kata-kata kasar berulangkali. “Kulo taksih wedi-wedi pripun, trauma (saya masih merasa takut, trauma),” ujar DD dalam bahasa jawa.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan masih takut jika bertemu polisi. Korban lainya, AG (34 tahun) menceritakan hal serupa. Saat itu dirinya sedang berada di depan warung saat tiba-tiba datang sekelompok pria berseragam polisi.

Tanpa peringatan, dirinya langsung dipukul di bagian punggung menggunakan rotan. Padahal saat itu dirinya hanya duduk untuk ngopi. Awalnya dari arah barat sekitar 10 sepeda motor datang sambli bleyer-bleyer motor trail. Semakin dekat tempatnya ngopi, bleyeran semakin keras. Beberapa pria turun dan langsung menyuruhnya bubar.

“Teriak bubar-bubar tapi sambil mukul pakai rotan,” ujar AG.

Lantaran takut, spontan AG langsung lari. Sementara itu Ketua Perguruan Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa (PSNU PN) Cabang Tulungagung, Ubaidillah Suwito melaporkan kejadian ini ke Polda Jatim.

Dalam laporan ke Polda jatim ini pihaknya membawa 2 saksi sekaligus korban pemukulan. Oleh petugas yang menerimanya, pihaknya disarankan untuk membuat laporan tertulis ditujukan pada Kapolda Jatim, Kabid Propam Polda Jatim dan Irwasda Polda Jatim.

“Beliau (petugas) menyarakan agar ditulis berita acara pelaporan, kronologi kejadian, saksinya dari awalnya,” ujarnya.

Suwito menilai yang dilakukan oleh sejumlah oknum itu arogan. Padahal sebagai petugas seharusnya mereka lebih humanis dalam menjalankan tugasnya. “Seharusnya datanglah dia, santun, ngomong baik-baik,” katanya.

Sebelumnya, 3 ribuan warga Perguruan Silat Pagar Nusa (PN) melakukan konvoi menuntut polisi mengungkap kasus dugaan penganiayaan terhadap anggotanya, Minggu (13/9/20) malam. Mereka melakukan konvoi di wilayah Desa Suruhan Lor, Kecamatan Bandung, yang selama ini rawan konflik antar perguruan silat.

Baca Juga : Misteri Pria di Jombang Hilang Diduga Dibawa Makhluk Gaib hingga Ketemu di Sungai Brantas

Aksi konvoi ini dilakukan untuk mendesak pengusutan dugaan penganiayaan terhadap anggota PSNU PN, yang diduga dilakukan oleh anggota kepolisian. Kejadian terjadi saat acara Sah-sahan PSHT pada Jum'at (11/9/20) malam lalu, sekitar pukul 23.00.

Sementara itu Kapolres Tulungagung, AKBP Eva Guna Pandia saat dikonfirmasi meminta bukti dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh anggota kepolisian, saat pengamanan acara Sah-sahan warga baru PSHT beberapa waktu lalu.

“Kita kan enggak tahu, kalau memang ada mana buktinya,” kata Kapolres. Kapolres meminta agar ada pembuktian seperti foto atau video. Pihaknya berjanji akan memproses jika ada bukti dugaan penganiayaan itu.

“Kalau memang salah, kita kan ada prosedurnya juga,” pungkasnya.

Seperti diketahui, acara Sah-sahan warga baru PSHT dijaga oleh 2.778 petugas gabungan. Bahkan untuk pengamanan ini Polres Tulungagung meminta bantuan dari 8 Polres tetangga. Acara ini diikuti oleh 1.561 anggota baru dan disebar di 7 titik berbeda