Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Jember Nana Suminarsih saat melihat proses IB milik warga di Desa Badean (foto: Puji SN / JatimTIMES)
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Jember Nana Suminarsih saat melihat proses IB milik warga di Desa Badean (foto: Puji SN / JatimTIMES)

Untuk menjaga kualitas serta hasil produksi ternak khususnya ternak sapi di Kabupaten Jember, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Jember secara rutin selalu melakukan pemeriksaan terhadap sapi yang bunting. 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Jember Nana Suminarsih menjelaskan, untuk pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan Kebuntingan (PKB) terhadap sapi betina produktif aseptor Inseminasi Buatan (IB) selalu dilaksanakan secara rutin pasca dilakukan Inseminasi Buatan (IB). 

Baca Juga : Terapkan Protokol Kesehatan, Pabrik Gula di Blitar Mulai Musim Giling

"Kami berharap kualitas hasil dari Inseminasi Buatan (IB) terhadap sapi betina yang ada di Kabupaten Jember benar-benar memiliki kualitas yang baik, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan secara rutin," ujar Nana saat ditemui di Desa Badean Kecamatan Bangsalsari ketika melihat secara langsung proses IB.

Nana juga mengatakan untuk pelayanan pemeriksaan sapi bunting ini melibatkan langsung tim pemeriksa oleh dokter hewan dari Puskeswan Bangsalsari serta petugas ensiminator. Ia menambahkan untuk pemeriksaan sapi bunting ini dilakukan pada kegiatan pemeriksaan kesehatan hewan terpadu, dimana selain memeriksa kebuntingan sapi ini juga dilakukan pemeriksaan kesehatan hewan, pengobatan dan pemberian vitamin kepada hewan ternak sapi di Kabupaten Jember. 

"Kegiatan ini bertujuan untuk deteksi dini penyakit reproduksi ternak pada sapi betina produktif, sehingga bisa dilakukan antisipasi kelainan ternak sapi yang sedang bunting agar bisa lahir dengan baik dan normal, khususnya sapi betina produktif aseptor IB," jelasnya.

Sementara itu ketua kelompok ternak sapi Bintang Mulia Desa Badean Kecamatan Bangsalsari, Yudi mengatakan. Kegiatan pemeriksaan rutin ini sangat membantu para peternak sapi di desa tersebut. Yudi mengungkapkan ada sekitar 10 peternak dengan populasi induk produktif 650, sapi jantan 450 dan sapi pedet 250.

Baca Juga : Adaptasi New Normal PG.Pesantren Baru Targetkan Tebu Giling 72 Ribu Ton

"Untuk pakan, kami menggunakan pakan sendiri dari hasil limbah yang ada di sekitar misal dari limbah tebu dan kedelai," urainya. 

Yudi berharap, perhatian dari pemerintah terus dilakukan agar para peternak dapat memproduksi sapi unggulan. "Pendampingan dan pembinaan dibutuhkan peternak, agar memiliki kapasitas kemampuan teknis yang lebih baik dan terus bertambah dalam merawat ternak. Harapanya sapi unggulan dan terbaik dari sisi berat badan dan kesehatannya," pungkasnya. (*)