Tak pernah bosan untuk mengupas tuntas kisi-kisi daerah yang dijuluki kota marmer atau seribu warung kopi Tulungagung ini. Kabupaten dengan jumlah penduduk sekitar 1.040.490 jiwa ini selain dikenal sebagai kampung para TKI juga menyimpan berbagai macam misteri.
Bahkan, banyak kisah horor yang hingga kini masih dipercaya warga sekitar. Ada banyak tempat kramat yang juga kerap dijadikan tempat untuk ritual pesugihan. Kepercayaan masyarakatnya masih begitu kental dan bahkan masih banyak yang percaya jika melakukan ritual tertentu, kekayaan akan datang dengan cepat.
Baca Juga : Kapal Karam Diduga Milik Nazi Terekam Google Maps di Perairan Pantai Sukabumi
Tertarik ingin tahu lokasi-lokasi itu? Inilah tempat-tempat yang masih dikenal angker dan dipenuhu misteri di Tulungagung.
1. Kuburan Jati Wayang
Tokoh sakti yang dipercaya masyarakat dan dimakamkan di kuburan Jati Wayang bernama Mbah (pasarean) Senare. Pesareannya berada tepat di utara pohon beringin besar di tengah kuburan. Di kuburuan ini juga sering terdengar suara wayang, itulah mengapa kuburan ini dinamai Kuburan Jati Wayang.
Seorang tokoh sepuh yang sering melakukan ritual di kuburan ini pun bercerita, kalau dahulu ada sebuah pohon jati besar yang dipotong oleh seseorang dan menyebabkan keluarga dari orang tersebut meninggal satu persatu. Tak jelas apa penyebab meninggalnya, tapi kisah ini cukup membuat siapa saja yang mendengarnya merinding.
Meski sudah tidak serimbun dan segelap dulu, aura mistis masih terasa kuat di makam ini, dan masih sangat dipercaya sebagai rumah bagi makhluk gaib.
2. Candi Dadi
Meski ada beberapa versi kisahnya, cerita yang dipercaya adalah candi ini dibuat oleh seorang putri. Awalnya, seorang pangeran melamar seorang putri di candi ini, namun karena sang putri tidak berani untuk menolak lamaran pangeran itu, sang putri meminta pangeran tersebut untuk membuat 4 candi dalam waktu semalam dengan harapan pangeran tersebut akan gagal memenuhi permintaannya.
Karena kesaktian sang pangeran, perkiraan sang putri meleset. Sang pangeran yang konon dibantu makhluk astral hampir menyelesaikan empat candi yang diminta dalam waktu semalam. Sang putri akhirnya mengambil tindakan. Demi mengagalkannya, sang putri menyuruh beberapa wanita untuk membunyikan lesung dan membakar diyang saat tengah malam agar tampak pagi telah tiba.
Karena ada bunyi lesung, sang pangeran berhenti melanjutkan pekerjaannya. Ia gagal membangun candi ke-4. Namun sayangnya, pada akhirnya pangeran mengetahui kebohongan sang putri.
Sang pangeran menjadi murka dan mengutuk semua wanita yang ada di desa tersebut tidak akan menemukan jodoh kecuali jika wanita tersebut telah memasuki usia yang cukup tua.
Itulah mengapa candi yang merupakan peninggalan kerajaan Majapahit juga dijuluki sebagai Candi Kutukan Jomblo.
3. Gadung Melati
Tempat keramat berupa batu yang dikenal dengan daerah Gadung Melati ini selain angker juga dikenal mampu "mengabulkan" permintaan bagi yang mau nyadran di sana.
Gadung Melati merupakan makam tunggal yang dilestarikan oleh warga masyarakat Kalibatur, khususnya warga masyarakat Dusun Sine, karena dipercaya merupakan tokoh yang babat Desa Kalibatur.
"Lokasi untuk menuju pemakaman Gadung Melati cukup mudah dijangkau, tetapi melewati muara yang dapat ditempuh kapal atau perahu kecil," kata Sukirno (50), tokoh masyarakat Kalibatur.
4. Pasetran Gondo Mayit
Ada dua versi letak Gua Pasetran Gondo Mayit ini. Ada yang mengatakan berlokasi di Desa Sine. Namun menurut Sukirno, sebenarnya gua ini masuk dalam daerah Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung.
"Tapi orang mengenal ini masuk daerah Kalibatur. Sebenarnya sudah wilayahnya Jengglungharjo," ungkap Sukirno.
Baca Juga : Cerita Langgar Gipo, Penuh Perjuangan Laskar Hizbullah NU yang Dilupakan Pemkot Surabaya
Gua ini sebenarnya dikenal dalam golongan gua arkeologi karena konon di dalam gua banyak ditemukan pecahan-pecahan tembikar, hiasan dari tutup siput, kapak tipois pemotong kulit siput dan yang lainnya.
"Itu kisahnya tempat pembuangan mayat warga luar, jika tidak salah India atau Pakistan. Pada saat saya masih kecil, banyak tulang belulang yang diambil. Mereka mati karena mendhem gadung," kata Sukirno.
Gadung adalah tumbuhan yang bisa di olah menjadi kerupuk dan makanan lain. Namun jika diberikan dalam keadaan basah, gadung bisa membuat orang keracunan.
Versi lain yang dikenal, gua ini kisahnya zaman dahulu kala ada sebuah perahu yang pernah mendarat yang kemudian diketahui merupakan rombongan perompak. Jumlah awak kapal dikisahkan sebanyak 44 orang dan saat mendarat merampok penduduk dan meminta agar Demang Sine menyerahkan istrinya. Demang yang dikenal banyak akal itu konon bernama Tatakriyak dan berani menolak tegas.
Dalam suatu kesempatan, tamu yang merupakan perompak itu dihibur dengan seni tayub. Bukan tuak yang disuguhkan, namun ki Demang memberi air gadung yang juga berefek mabuk.
Dalam keadaan mabuk, penduduk yang merasa kesal itu kemudian mengeroyok perampok itu. Tak pelak 40 orang perampok tewas dan empat yang selamat kemudian melarikan diri ke lautan dan yang mati dibuang ke dalam gua yang kemudian dinamakan Gua Pasetran Gondo Mayit.
Karena longsor, gua ini telah terpendam. Jika ritual minta sesuatu, bisa dilakukan di bibir gua. "Jika berhasil, nazarnya harus dipenuhi. Jika tidak, maka taruhannya orang yang minta tadi," cerita Sukirno.
Biasanya yang berhasil melakukan selamatan dengan memotong kambing sebagai sesaji pada "makhluk gaib" penunggu pasetran
5. Tumpak Kepuh
Punden yang juga tak kalah angkernya ini menurut Sukirno terletak di desa Jenglungharjo atau tepatnya di desa Ngelo.
"Pasetran Gondo Mayit dan Tumpak Kepuh itu masuk Dusun Ngelo. Banyak orang yang datang dari luar daerah untuk mencari pesugihan," kata Isnu Hartono, Sekretaris Desa Jenglungharjo.
Sudah sering orang datang meminta sesuatu dengan ritual yang di tentukan, namun yang menjadi ciri khas adalah harus menyembelih kambing. "Syaratnya kambing, ritualnya nanti di tentukan Mbah Sumidi sebagai juru kunci," terang Isnu.
Biasanya, jika janji tidak ditepati, orang yang meminta pesugihan atau berkah lain akan menemukan bala atau musibah.
*sebagian tulisan ini telah terbit di media yang sama pada 02 Oktober 2018 lalu.