Dirjen Dikti Kemendikbud RI Prof Ir Nizam MSc DIC PhD dalam webinar nasional yang digelar UIN Maliki Malang. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Dirjen Dikti Kemendikbud RI Prof Ir Nizam MSc DIC PhD dalam webinar nasional yang digelar UIN Maliki Malang. (Foto: Ima/MalangTIMES)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI tak ingin kampus menjadi cluster terbaru penyebaran Covid-19. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemendikbud RI Prof Ir Nizam MSc DIC PhD dalam Webinar Nasional yang digelar Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki Malang).

"Kita tekankan kampus jangan sampai menjadi cluster terbaru penyebaran pandemi covid-19. Ini harus kita pastikan," tegasnya.

Baca Juga : Bupati Malang Klaim Ratusan Ponpes Sudah Terapkan Pesantren Tangguh

Untuk itu, Kemendikbud telah memutuskan metode pembelajaran di perguruan tinggi pada semua zona wajib dilaksanakan secara daring untuk mata kuliah teori. Sementara untuk mata kuliah praktik juga sedapat mungkin tetap dilakukan secara daring. Namun, jika tidak dapat dilaksanakan secara daring maka mata kuliah tersebut diarahkan untuk dilakukan di bagian akhir semester. Tahun akademik tetap dimulai sesuai dengan kalender yang sudah disusun oleh masing-masing perguruan tinggi.

"Pembelajaran tetap berlangsung dengan mengutamakan pembelajaran daring. Di dalam surat keputusan bersama empat menteri, dilarang menyelenggarakan pembelajaran fisik di semester depan ini. Kecuali yang terkait dengan kelulusan atau kompetensi yang tidak bisa digantikan dengan pembelajaran daring," terang Nizam.

Pihaknya menyadari, beberapa kegiatan yang terkait dengan kelulusan tentu tidak bisa dihambat. Untuk itu, dirinya mendorong penelitian mahasiswa memanfaatkan data sekunder kalau dimungkinkan. Apabila tidak mungkin, bisa melakukan praktikum di laboratorium atau pengumpulan data primer tetapi dengan protokol yang ketat.

"Jangan sampai mahasiswa tertunda kelulusannya gegara pandemi ini," imbuhnya.

Pada intinya, lanjut Nizam, pembelajaran teori, pelayanan administrasi, bimbingan mahasiswa, wisuda dan pengambilan sumpah profesi dilakukan secara daring.

"Praktikum dan tugas sebisa mungkin dialihkan ke daring. Tapi bila tidak dimungkinkan bisa kita selenggarakan dengan protokol yang ketat," katanya.

Kondisi ini diberlakukan sampai dengan akhir semester atau sampai ada arahan lebih lanjut dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Baca Juga : Soal Kebijakan Mendikbud, Pemkot Malang Masih akan Berlakukan Sekolah Melalui Daring

Sebagai tambahan, berbeda dengan pendidikan dasar, SMP, atau SMA dan sederajat, di perguruan tinggi mahasiswa datang dari Sabang sampai Merauke. Untuk itu, meskipun perguruan tinggi itu berada di zona hijau yang sejak awal tidak pernah ditemui kasus positif, namun saat ini seluruh mahasiswa sudah kembali ke kampungnya masing-masing yang mungkin ada di daerah merah, oranye, atau kuning.

Nah, kalau kemudian kampus dibuka untuk pembelajaran biasa maka mahasiswa dari berbagai daerah tadi tentu akan masuk dan berinteraksi di kampus. Hal ini bisa membuat kampus menjadi cluster baru untuk menyebarkan pandemi covid-19.

"Meskipun demikian kita tahun akademik tetap kita selenggarakan sesuai dengan kalender yang sudah berlaku," tandasnya.

Tahun Akademik Pendidikan Tinggi 2020/2021 tetap dimulai pada Agustus 2020 dan Tahun Akademik Pendidikan Tinggi Keagamaan 2020/2021 dimulai pada September 2020.