Wimmy Haliim, Akademisi Ilmu Politik Universitas Brawijaya. (Foto: Istimewa)
Wimmy Haliim, Akademisi Ilmu Politik Universitas Brawijaya. (Foto: Istimewa)

Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) Kabupaten Malang 2020 yang sudah dekat membuat beberapa elemen masyarakat bersuara terkait kondisi politik Kabupaten Malang yang terkesan masih saja adem ayem.

Namun, yang tenang di permukaan bisa jadi panas di dalam tubuh parpol. Terutama dengan adanya dua poros besar kekuatan politik yang saat ini bertarung di Kabupaten Malang. Setidaknya, hal tersebut yang teramati oleh pakar ilmu politik Universitas Brawijaya (UB) Malang, Wimmy Haliim.

Wimmy Haliim menuturkan bahwa di belakang kondisi yang adem ayem ini, pasti para elit-elit politik sedang melakukan lobi-lobi. "Soal Kabupaten Malang memang terkesan masih belum ramai, adem ayem, meskipun saya yakin para elit politik sudah melakukan proses lobi-lobi internal atau antar partai,"Tuturnya.

Sampai-sampai dari kelompok masyarakat juga beberapa kali telah mengadakan agenda diskusi publik yang bertemakan Pilkada Kabupaten Malang 2020. Tetapi tetap saja masih terkesan "adem ayem" di tataran elit politik partai. 

Menurutnya terdapat dua poros besar, yang didasarkan pada kekuatan politik massa yaitu incumbent dan PDI Perjuangan,"Jika didasarkan pada kekuatan politik massa atau elit birokrat, memang ada dua poros besar, jelas yang pertama adalah incumbent. Bukan rahasia umum, incumbent punya banyak cara dalam menggunakan sumberdaya yg ada untuk mempertahankan hingga meningkatkan elektabilitasnya dalam Pilkada,"Ujarnya.

Mengenai PDI Perjuangan, Wimmy menambahkan berkaca pada Pilkada 2015 yang selisihnya sangat tipis dengan incumbent pada saat itu, yaitu Rendra Kresna, PDI Perjuangan harus diakui mesin suaranya bergerak secara masif,"Kedua PDIP, kenapa PDIP, hal ini berkaca pada tahun 2015, calon 'anyar' mereka pada waktu itu bisa mendapatkan suara hingga 44.48%. Hal tersebut menandakan bahwa mesin politik PDIP Kab. Malang masih sangat kuat,"Tambahnya.

Terakhir menurut Wimmy, untuk saat ini yang sedikit masih bisa dipetakan adalah incumbent melawan PDI Perjuangan. Jika incumbent ingin terpilih kembali harus pintar-pintar mencitrakan dirinya kepada masyarakat,"Tidak hanya lewat media sosial atau pun massa, tetapi juga bertatap muka dengan warga, entah sekedar sambang desa atau melalui program-program Pemkab Malang,"Pungkasnya.

Hal ini belum dihitung jika diakumulasikan dengan suara PKB yg cukup signifikan pada Pemilu 2019. Jika bisa di-linear-kan, kemungkinan incumbent menang akan terbuka lebar.

Untuk PDI Perjuangan menurut Wimmy,"Saya pikir mereka sangat paham dan mengetahui grassroot. Jadi kalau ingin menang, harus solid dan pilih figur yang populer atau minim masalah personal,"Tegasnya.

Untuk Golkar dan NasDem yang dimana kedua partai tersebut sama-sama pernah mengusung Rendra Kresna melenggang pada Pilkada Kabupaten Malang, 'positioning' kedua partai tersebut cukup menentukan dalam konstelasi politik di Pilkada Kabupaten Malang 2020.