Obat penambah darah yang dibagikan oleh Dinkes kepada siswi di tingkat SMP dan SMA untuk menghindari stunting. (foto : Joko Pramono/Jatim Times)
Obat penambah darah yang dibagikan oleh Dinkes kepada siswi di tingkat SMP dan SMA untuk menghindari stunting. (foto : Joko Pramono/Jatim Times)

Pemberian kapsul penambah darah untuk mencegah stunting oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung ternyata tak berjalan mulus. Pasalnya, beberapa siswi mengeluhkan mual, gatal, dan pusing setelah mengomsumsi obat tersebut, seperti yang dialami  siswi  SMAN 1 Tulungagung.

 Guru pembina OSIS bidang jasmani, kesehatan, dan gizi SMAN 1 Tulungagung Rita Yusdiana mengatakan pihak sekolah selalu rutin memberikan tablet penambah darah kepada seluruh siswi yang berjumlah 421 orang.

Pihaknya telah memberikan 5 kali obat penambah darah ini kepada seluruh siswi. Namun, neberapa siswi harus dihentikan pemberian obatnya lantaran mengeluh mual, pusing, dan gatal. "Mungkin itu efek sampingnya. Tetapi,  menghindari hal yang tak diinginkan, kami hentikan sementara," jelas Rita.

Untuk tindak lanjutnya, pihak sekolah mengaku akan melaporkan hal tersebut ke pihak petugas kesehatan dari puskesmas setempat.

Biasanya, tablet tersebut diberikan setiap Rabu. Dalam pengelolaannya, sekolah melibatkan kader kesehatan dan juga pengurus kelas. Dengan begitu, siswi yang mengonsumsi tablet penambah darah bisa lebih terawasi.

"Jadi, ada laporannya. Sehingga kami bisa monitoring. Misal mereka minum, mereka centang bagian kolom M (minum) ini," kata Rita.

Sementara itu, Kasi Farmasi dan Perbekalan Kesehatan Dinkes Tulungagung Masduki menjelaskan setiap obat punya respons beda terhadap tubuh seseorang. Jika timbul efek samping, maka pemberian obat harus dihentikan. "Ya kalau ada siswi yang ternyata responsnya seperti itu, sebaiknya dihentikan," jelasnya.

Untuk obat yang diberikan kepada siswi, sebenarnya jarang timbul efek mual. Itu lantaran di komposisi yang baru, Fe Fumarat dan asam folat, karena efek mualnya, sudah dihilangkan.

Namun jika ada konsumsi berlebih, obat ini akan berefek pada sakit punggung, selangkangan, dada, sakit perut, menggigil, pusing dan sakit kepala. Juga pingsan, jantung berdebar, demam dengan berkeringat deras, penurunan fungsi indera pengecap; lidah terasa asam karat (metallic taste) dan lainnya. Namun, dalam upaya pencegahan stunting ini, remaja putri dianjurkan minum seminggu sekali. Sehingga, efek samping tersebut tidak terjadi.

"Maksud pemberian tablet tambah darah (TTD) untuk remaja putri ini kan mengganti darah yang keluar karena menstruasi. Sehingga siswi tidak lesu dan tetap bisa fokus dan konsentrasi saat belajar. Selain itu, mencegah terjadinya anemia. Serta jangka panjang, menyiapkan para siswi ini menjadi calon ibu yang bebas dari anemia," jelasnya.

pemberian obat penambah darah ini wajib bagi siswi SMP dan SMA di Tulungagung. Pemberian obat ini juga untuk mencegah terjadinya stunting pada anak Indonesia.