Salah satu penderita diare di RSUD dr. Iskak TUlungagung (foto : Joko Pramono/Jatim Times)

Salah satu penderita diare di RSUD dr. Iskak TUlungagung (foto : Joko Pramono/Jatim Times)



Trend penyakit diare di minggu ke 38 tahun 2019 atau di bulan September mengalami lonjakan yang signifikan. 

Pada bulan September terjadi 143 kasus penyakit diare dan naik secara signifikan pada bulan Oktober sekitar 200 kasus. 

Jumlah itu cenderung naik jika dibandingkan pada tahun 2018 pada bulan yang sama.

“Trendnya cenderung naik dan mengalami lonjakan,” ujar Kepala seksi (kasi) survailens dan imunisasi Dinas Kesehatan (dinkes) Kabupaten Tulungagung Satriyo Wibowo, Rabu (30/10/19).

Bahkan dari data yang dimilikinya pada tahun 2019 ini telah terjadi 5 kasus besar penularan diare. 

Empat di antaranya disebabkan oleh keracunan makanan dan 1 di antaranya dikibatkan penularan diare.

Kasus diare banyak terjadi di Pagerwojo dengan 914 kasus, disusul Kalidawir 807 kasus dan Kecamatan Tulungagung Kota 729 kasus.

Tingginya kasus diare juga berhubungan denga kekeringan yang menimpa daerah itu. 

Kalidawir misalnya, 5 desa di Kecamatan itu telah mengalami kekeringan sejak sebulan yang lalu.

Minimnya air membuat warga membuang air besar di tempat terbuka sehingga bakteri penyebab diare terbang terbawa angin.

Penularan diare dan keracunan makanan ini disebabkan oleh bakteri E-coli dan Salmonela. Penularan kedua bakteri ini melalui makanan yang tercemar

“Khusus bulan September hingga oktober terjadi 1 diare dan 2 keracunan pangan,” terang Satrio.

Diare merupakan salah satu Water Borne Desease (penyakit yang ditularkan melalui air). 

Bakteri penyebab diare ditularkan melalui vector lalat rumah (musca domestica) dan manusia.

Gejala penyakit ini biasanya pasien mengalami intensitas buang air besar yang lebih dari 3 kali dalam sehari dan berbentuk encer. 

Pasien mengalami dehidrasi lantaran banyaknya cairan yang dikeluarkan saat buang air besar.

Untuk penaganan pertama terkena diare, pasien diberikan oralit. 

Lalu untuk pengobatanya pasien diberikan tablet zinc, obat anti diare dan antibiotika anti diare yang diberikansecara gratis.

Untuk meminimalisir penularan ini, Dinkes sudah melakukan sosialisasi ke sejumlah desa. 

Dalam sosialsisasi itu hendaknya warga menjaga pola hidup sehat, seperti mencuci bahan makanan dengan bersih dan menutup makanan agarvtak dihinggapi lalat.


End of content

No more pages to load