Gus Hans ketika acara ngobrol santai.

Gus Hans ketika acara ngobrol santai.



Wakil Ketua DPD Golkar Jatim Zahrul Azhar Asumta atau biasa disapa Gus Hans menggelar ngobrol santai, Senin (28/10) sore di Surabaya. Ngobrol santai tersebut selain diikuti masyarakat, juga diikuti awak jurnalis.

Dalam ngobrol santai tersebut, tidak ada tema khusus yang dibahas memang. Pembicaraan lebih membahas ke seputar isu terbaru yang terjadi di Surabaya. Misalnya rencana Surabaya menjadi salah satu venue Piala Dunia U-20 tahun 2021 mendatang.

Gus Hans adalah salah satu orang yang berniat maju dalam Pemilihan Wali Kota Surabaya 2020 mendatang. Selain menunggu restu dari partainya, Golkar, pria yang juga pengasuh Pondok Pesantren Queen Darul Ulum, Jombang, ini sudah intens berkomunikasi dengan sejumlah partai lain.

Dalam ngobrol santai tersebut, Gus Hans menyampaikan bahwa sebenarnya dia tidak pernah bermimpi untuk menjadi wali kota dan juga tidak pernah punya pikiran untuk jadi pejabat. "Karena kalau mimpi itu memaknai ambisi dan sebagainya. Saya tidak pikiran untuk masuk ke wilayah itu," ujarnya.

Hanya, belakangan ini dorongan atau support untuk dirinya maju dalam Pilwali Surabaya semakin berdatangan. "Karena ada dorongan dan support dari pihak yang bertanggung jawab dan sebagainya, menjadi ke sana," ucap dia.

Dalam hal ini, Gus Hans mengingat pesan dari Wapres KH Ma'ruf Amin yang baru saja mengisi acara Hari Santri Nasional di Surabaya. "Santri sudah jadi wakil presiden. Maka sebentar lagi juga jadi presiden selain Gus Dur," ungkapnya.

Dari sini Gus Hans mengambil kesimpulan bahwa santri bisa jadi apa saja dan berperan di mana saja. "Saya ingin menunjukkan kepada publik bahwa pesantren bukan gudang teroris, bukan tempat orang tua yang naruh anak nakal. Tapi pesantren tempat yang tepat untuk membangun karakter masyarakat Indonesia yang akan datang," lanjut pria yang juga pembawa acara Sapa Santri di Kompas TV ini.

Tanpa ingin mendahului takdir, Gus Hans menyampaikan jika Allah memang mengizinkan dia maju dan menjadi pimpinan di Kota Surabaya, nanti dirinya ingin membuktikan bahwa santri juga bisa. "Bahwa santri pun bisa seperti apa yang diinginkan," katanya.

Sebagai tokoh intelektual muda NU, Gus Hans memandang bahwa Surabaya adalah kota yang sangat potensial. "Maju lebih cepat lagi jika diurus oleh orang yang tidak tega egois, tidak memiliki egosentris dan kewilayahan. Jadi, komunikasi kalau misalnya dibangun dengan baik ke pemerintahan pusat, provinsi, eskalasi pembangunan di Surabaya pasti akan lebih cepat," imbuhnya.


End of content

No more pages to load