free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Opini

Dan Pengkultusan Adalah Musuh dari Pikiran Merdeka!

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : A Yahya

13 - May - 2019, 03:59

Loading Placeholder
Ilustrasi.(Foto : Merdeka.com)

Individu harus berdaya, punya kemandirian, punya keberdayaan, biar bisa mengatasi masalahnya sendiri dan bisa diajak membantu memikirkan masalah orang lain juga. Mendorong tiap individu untuk memiliki kekuatan yang bisa membuatnya mandiri, berdaya, dan bisa diandalkan untuk mengatasi dunianya (termasuk membantu orang lain) adalah idealisme pertama dari Individualisme.

Idealisme kedua adalah agar ia bebas dan merdeka dari penjajahan orang lain, bebas dari upaya orang lain mengendalikan dan mengontrol dirinya hingga individu tersebut terlemahkan, tergantung, dan bahkan tereksploitasi. Sedangkan yang menjajahnya mendapatkan keuntungan baik secara ekonomi, sosial, maupun politik.

Dalam ilmu politik, sumber kekuasaan itu ada banyak macamnya. Bisa berupa kekuatan fisik, ekonomi, kepemilikan intelektual, kepemilikan dan legitimasi moral. Kekuasaan (power), pengaruh (influence), kewenangan (authority) bisa muncul dan beroperasi pada interaksi sosial. Interaksi menghasilkan suatu capaian, posisi, peran, dan berkonsekuensi pada kemudahan dan kesulitan manusia dalam mengada, memenuhi dan mengembangkan hidupnya.

Untuk memaknai diri kita, kita masih tak seharusnya terus-menerus butuh panutan. Tak harus terus-terusan membutuhkan sumber-sumber moral dan pengetahuan yang masih kita gantungkan pada orang lain. Orang lain yang didatangi banyak orang sebagai sumber otoritas—yang disebut Idola, Panutan, “Orang Suci”, Mesias—itu lalu kita anggap tak bisa dipersalahkan karena setiap omongan dan tingkahlakunya selalu benar.

Ketika fanatisme kita sudah melampaui batas, ketika orang yang kita junjung sebagai panutan dan sandaran moral kita itu dianggap salah, secara psikologis kitapun tegang. Apalagi kita terlanjur mendefinisikan bahwa kita adalah dia, atribut-atribut yang kita pakai adalah dirinya. Begitu sang junjungan mulai terlihat ketidaksuciaannya dan juga bisa bertindak seperti orang awam pada umumnya, ketegangan dalam jiwa kita membuat kita tidak percaya bahwa junjungan kita adalah orang yang memang orang biasa sebagaimana hak-hak dan kewajibannya juga sama dengan warga lain. Dan bahkan kita bereaksi melawan orang yang mengritik panutan kita itu.

Itu efek dari kita yang sejak awal tak punya kemandirian dalam berpikir, tak punya dasar yang kuat memaknai hidup dan persoalan—kecuali menyandarkan ukuran moral dari tokoh panutan saja. Kita yang terbiasa datang ke kerumuman di mana seseorang yang kita anggap sebagai sumber kebenaran adalah suci yang harus kamu sembah.

Tak mungkin kita merdeka, jika menganggap diri kita adalah selalu membutuhkan hiburan dan sumber moral dari orang lain yang menurut kita tak bisa salah dan tak bisa dikritisi. Dalam posisi seperti itu kita justru terjajah, kita sama sekali tidak merdeka. Kita tertekang oleh sesuatu yang bukan berasal dari diri kita sendiri.

Ini semua gara-gara kita  sejak awal memang tak mau memerdekakan diri dengan mengambil pandangan yang kuat dan berakar pada hal-hal yang masuk akal, yang padanya tiap persoalan yang kita  hadapi bisa kita  jelaskan dengan baik dan tuntas. Yang tanpanya kita masih mendasarkan diri pada moral kerumuman dan kawanan dalam memaknai eksistensi diri!

Orang yang tidak punya kemandirian berpikir dan memiliki pandangan moral yang mandiri dan berakar dari proses pencarian yang panjang, akan mudah terbawa pada situasi kultus individu. Hanya karena ia datang pada orang dengan pikiran kosong lalu mulai kemasukan dalil-dalil mengasyikkan, yang beda dan dianggap bisa menjelaskan persoalan diri dan situasi sosial. Yang tanpa pikiran kritik yang sudah terisi dan bisa membaca kontestasi wacana di manapun berada.

Orang kritis dan merdeka bisa datang kemana saja mendatangi kerumunan-kerumunan dan forum-forum dimana wacana dan pandangan dilontarkan. Tapi ia tidak sedang menyuguhkan dirinya dan mendefinisikan dirinya sebagai objek yang ingin diisi otaknya—serta tidak datang sebagai sekawanan pengikut dan kerumuman yang akhirnya mengkultuskan si pemberi anjuran-anjuran moral.

Orang yang datang dengan membawa pikiran mandiri dan kritis tak akan mudah dipengaruhi dengan mudah secara fanatis buta, serta tak akan mengkultuskan seseorang yang dianggap sebagai intelektual, budayawan, atau sumber moral yang mulai disakralkan keberadaannya. Pengkultusan adalah musuh pikiran merdeka.

Dan untuk apa hidup jika pikiran kita belum merdeka dan masih dijajah!*

(Trenggalek, 12/05/2019)

Nurani Soyomukti, penulis buku “Manusia Tanpa Batas”


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

A Yahya

Opini

Artikel terkait di Opini

--- Iklan Sponsor ---