Israel Serang Gaza, 5 Jurnalis Al Jazeera Tewas di Dekat RS Al-Shifa

11 - Aug - 2025, 12:12

Jurnalis Al Jazeera Anas al-Sharif tewas bersama empat rekannya dalam serangan Israel. (Foto X @Anas Al-Sharif)


JATIMTIMES - Serangan udara Israel pada Minggu (10/8/2025) kembali memicu kemarahan dunia internasional. Sedikitnya lima jurnalis Al Jazeera tewas dalam serangan yang menghantam area dekat Rumah Sakit (RS) Al-Shifa, Gaza City, Jalur Gaza. Total korban jiwa dilaporkan mencapai tujuh orang.

Kronologi Serangan

Menurut pernyataan resmi Al Jazeera yang dikutip BBC Senin (11/8/2025), serangan itu terjadi ketika para jurnalis sedang berada di tenda pers di gerbang utama RS Al-Shifa. Mereka adalah Anas al-Sharif, Mohammed Qreqeh, Ibrahim Zaher, Mohammed Noufal, dan Moamen Aliwa.

Baca Juga : 13 Oktober 1676: Momen Kemenangan Raden Trunajaya dan Karaeng Galesong di Gegodog

Al Jazeera menyebut aksi tersebut sebagai “pembunuhan yang ditargetkan”, dan menuduh Israel sengaja menyerang kebebasan pers.

"Ini adalah serangan terang-terangan dan terencana terhadap kebebasan pers," tulis Al Jazeera dalam pernyataannya.

Klaim Militer Israel

Militer Israel (IDF) mengonfirmasi bahwa mereka menargetkan Anas al-Sharif dalam operasi tersebut. Dalam pernyataannya via Telegram, IDF menuduh al-Sharif sebagai pemimpin sel Hamas yang bertanggung jawab atas serangan roket terhadap warga Israel dan pasukan IDF.

"Dia bertugas sebagai kepala sel teroris di Hamas," klaim IDF, yang menyatakan tuduhan ini didukung oleh intelijen dan dokumen yang ditemukan di Gaza.

Namun, IDF tidak memberikan komentar terkait empat jurnalis Al Jazeera lainnya yang turut tewas.

Reaksi Al Jazeera

Redaktur pelaksana Al Jazeera, Mohamed Moawad, menegaskan bahwa al-Sharif adalah jurnalis resmi yang memiliki akreditasi, dan merupakan “satu-satunya suara” yang menyampaikan kondisi nyata di Jalur Gaza.

Moawad juga mengungkapkan bahwa sejak perang berlangsung, Israel melarang jurnalis internasional masuk ke Gaza. Hal ini membuat media global bergantung pada wartawan lokal untuk mendapatkan informasi.

"Mereka tidak berada di garis depan. Mereka menjadi target di tenda mereka. Pemerintah Israel ingin membungkam setiap laporan dari dalam Gaza," tegas Moawad.

Tekanan Internasional

Serangan ini menambah daftar panjang kematian jurnalis di Gaza sejak pecahnya konflik. Organisasi hak asasi manusia dan kelompok advokasi pers diperkirakan akan menekan Israel agar mempertanggungjawabkan aksi yang dinilai mengancam kebebasan pers di zona konflik.

Pesan Terakhir Anas, Jurnalis yang Tewas dalam Serangan Israel

Menyusul kematian Anas, pesan terakhirnya pun dipublikasikan. Dia meminta dunia tidak melupakan Gaza.

Berikut pesan terakhir Anas selengkapnya seperti dikutip dari akun media sosialnya di X:

Ini adalah wasiat dan pesan terakhirku. Jika kata-kata ini sampai kepadamu, ketahuilah bahwa Israel telah berhasil membunuhku dan membungkam suaraku. Pertama-tama, semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah tercurah untuk kalian semua.

Baca Juga : Rahasia Goa Lawa Trenggalek: Jejak Lomedjo dan Simfoni Ribuan Kelelawar

Allah Maha Mengetahui bahwa aku telah mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuanku untuk menjadi penopang dan suara bagi bangsaku, sejak pertama kali aku membuka mata di gang-gang sempit kamp pengungsi Jabalia. Harapanku, Allah memanjangkan umurku agar aku dapat kembali bersama keluarga dan orang-orang tercinta ke kota asal kami, Asqalan (Al-Majdal) yang kini diduduki. Namun, kehendak dan ketetapan Allah selalu yang utama.

Aku telah menjalani kehidupan yang penuh kepedihan dalam segala bentuknya, merasakan derita dan kehilangan berkali-kali. Meski begitu, tidak sekalipun aku ragu untuk menyampaikan kebenaran apa adanya, tanpa distorsi atau pemalsuan—agar Allah menjadi saksi atas mereka yang diam, yang membiarkan pembunuhan kami, yang menutup jalan napas kami, dan hati mereka tidak terguncang oleh jasad anak-anak dan perempuan kami yang berserakan. Mereka tidak berbuat apa pun untuk menghentikan pembantaian yang telah menimpa rakyat kami lebih dari satu setengah tahun lamanya.

Aku titipkan kepadamu Palestina—permata mahkota dunia Islam, detak jantung setiap insan merdeka di dunia ini. Aku titipkan kepadamu rakyatnya, terutama anak-anak yang terzalimi dan tidak berdosa, yang tidak pernah sempat bermimpi atau merasakan hidup dalam aman dan damai. Tubuh-tubuh suci mereka hancur dihantam ribuan ton bom dan rudal Israel, tercabik-cabik dan terpencar di dinding-dinding rumah mereka.

Jangan biarkan rantai membungkam suara kalian. Jangan biarkan batas negara menghalangi langkah kalian. Jadilah jembatan menuju pembebasan tanah dan rakyat Palestina, hingga matahari kehormatan dan kebebasan terbit di atas tanah air kita yang dirampas.

Aku menitipkan putri tercinta, Sham, cahaya mataku, yang tidak pernah sempat aku lihat tumbuh sebagaimana yang selalu aku impikan. Aku juga menitipkan putra tersayang, Salah, yang kuharapkan dapat kudampingi hingga dia cukup kuat untuk memikul tanggung jawabku dan melanjutkan perjuangan ini. Kepada ibuku tercinta, yang doa-doa tulusnya mengantarku sejauh ini, menjadi benteng yang melindungiku dan cahaya yang menuntunku, semoga Allah memberinya kekuatan dan membalasnya dengan sebaik-baik balasan. Dan kepada istriku tercinta, Umm Salah (Bayan), yang terpisah dariku berhari-hari dan berbulan-bulan lamanya karena perang, aku saksikan kesetiaannya pada ikatan kami, keteguhannya laksana batang pohon zaitun yang tidak pernah bengkok—sabar, percaya pada Allah, dan memikul tanggung jawabku dengan kekuatan dan iman yang luar biasa.

Aku memohon kepada kalian untuk mendampingi mereka, menjadi penopang mereka setelah pertolongan Allah Yang Maha Tinggi. Jika aku pergi maka aku pergi dengan tetap teguh memegang prinsip. Aku bersaksi di hadapan Allah bahwa aku ridha dengan ketetapan-Nya, yakin akan perjumpaan dengan-Nya, dan percaya sepenuhnya bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan kekal.

Ya Allah, terimalah aku di antara para syuhada. Ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang. Jadikan darahku cahaya yang menerangi jalan kebebasan bagi rakyat dan keluargaku. Ampunilah jika aku pernah lalai, dan limpahkanlah rahmat-Mu kepadaku, karena aku telah setia pada janji dan tidak pernah mengingkarinya atau mengkhianatinya.

Jangan lupakan Gaza. Dan jangan lupakan aku dalam doa-doa tulus kalian agar aku diampuni dan diterima di sisi-Nya.

Anas Jamal Al-Sharif

06.04.2025.


Topik

Internasional, Palestina, israel, gaza, perang gaza, serangan israel, korban israel, Jurnalis, Al Jazeera,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette