Update Perang Thailand dan Kamboja, Korban Tewas Bertambah Jadi 14 Orang
Reporter
Mutmainah J
Editor
Nurlayla Ratri
25 - Jul - 2025, 06:37
JATIMTIMES - Korban jiwa perang antara Thailand dan Kamboja terus bertambah. Thailand melaporkan bahwa korban jiwa sudah mencapai 14 orang.
Dilansir dari CNBC, Jumat (25/7/2025), para korban jiwa terdiri atas 13 warga sipil dan satu prajurit. Mereka tewas akibat serangan roket dan artileri yang diluncurkan oleh pasukan Kamboja.
Baca Juga : Doa Jumat Pagi yang Dianjurkan Rasulullah, Baca 3 Kali Dapat Ampunan
Sementara melansir Reuters, penjabat perdana menteri Thailand mengatakan belum ada deklarasi perang dan konflik tidak menyebar ke provinsi lain. Ia menuding Kamboja telah menembakkan senjata berat ke Thailand tanpa target yang jelas, yang mengakibatkan kematian warga sipil.
Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai bahkan menegaskan negosiasi dengan Kamboja tidak dapat dilakukan hingga pertempuran di sepanjang perbatasan berakhir.
Kamboja sebelumnya mengatakan sebuah jet tempur F-16 Thailand menjatuhkan dua bom di sebuah jalan.
Mantan Perdana Menteri yang berpengaruh, Hun Sen, mengatakan bahwa dua provinsi Kamboja telah menjadi sasaran penembakan artileri dari pihak Thailand. Sementara itu, dalam pernyataan daring, Perdana Menteri Hun Manet menyampaikan bahwa Kamboja sejatinya selalu mengedepankan jalan damai.
"Namun dalam kasus ini, kami tidak punya pilihan selain membalas dengan kekuatan bersenjata atas agresi bersenjata yang terjadi," ujarnya.
Kementerian Pertahanan Kamboja juga mengecam penggunaan jet tempur F-16 oleh Thailand, dan menyebut serangan udara yang menjatuhkan dua bom di jalan raya sebagai "agresi militer yang sembrono dan brutal terhadap kedaulatan serta integritas wilayah Kerajaan Kamboja".
Sementara itu, otoritas Thailand mengatakan bahwa serangan artileri Kamboja menyebabkan korban jiwa di tiga provinsi berbeda. Salah satu korban adalah anak laki-laki berusia delapan tahun.
Enam titik di sepanjang perbatasan dilaporkan menjadi lokasi bentrokan aktif, dengan total 14 tentara dan 32 warga sipil mengalami luka-luka.
Baca Juga : Tersangka Pembunuhan PSK di Losmen Windu: Tak Berniat Membunuh
Menteri Kesehatan Thailand, Somsak Thepsuthin, menuduh Kamboja melakukan kejahatan perang karena salah satu peluru artileri menghantam sebuah rumah sakit di Provinsi Surin.
Rekaman CCTV yang disiarkan media lokal menunjukkan warga sipil berlindung di bawah struktur beton, sementara ledakan terdengar terus-menerus. Lebih dari 40.000 orang dari 86 desa di wilayah perbatasan telah dievakuasi ke lokasi yang lebih aman.
Bentrokan ini menandai titik terburuk dalam sejarah konflik perbatasan kedua negara sejak rangkaian pertempuran antara 2008-2011 yang menewaskan sedikitnya 34 orang, melukai banyak lainnya, dan memaksa ribuan penduduk mengungsi. Perselisihan ini berakar dari perbedaan klaim atas peta warisan kolonial sepanjang 817 kilometer garis perbatasan.
Ketegangan kembali mencuat pada Mei lalu ketika seorang tentara Kamboja tewas dalam baku tembak singkat. Krisis kemudian semakin memburuk setelah lima tentara Thailand terluka oleh ranjau darat pada Rabu, insiden kedua dalam satu pekan.
Pemerintah Thailand menuduh Kamboja baru saja menanam ranjau di wilayah sengketa, namun Phnom Penh membantah dan menyebut bahwa para prajurit Thailand keluar dari jalur patroli yang disepakati dan memicu ledakan dari ranjau-ranjau sisa perang sebelumnya.
Sebagai respons diplomatik, Thailand menarik pulang duta besarnya dari Phnom Penh dan menyatakan akan mengusir duta besar Kamboja dari Bangkok. Pemerintah Thailand juga memerintahkan penutupan seluruh pos perbatasan di bawah yurisdiksi Angkatan Darat Kedua, serta melarang wisatawan mendekati kawasan konflik.
