Industri Fesyen Kian Liar, Limbah Menumpuk, Pekerja Tertindas: Masih Mau Belanja?

05 - Mar - 2025, 07:32

Tumpukan limbah fast fashion (Foto: laman phys.org)


JATIMTIMES - Dunia fesyen kembali menuai sorotan. Dino Augusto, seorang akademisi Fashion & Consumer Psychology, mengungkapkan fakta mengejutkan soal dampak industri fast fashion terhadap lingkungan dan pekerja. 

Melalui akun TikTok-nya, @dosen_fashyun, ia mengungkapkan bahwa produksi pakaian saat ini sudah lebih dari cukup untuk enam generasi mendatang. 

Baca Juga : Utamakan Warganya dan Hapus Belanja Mobil Alphard, Bupati Situbondo Diacungi Jempol Dua oleh Masyarakat

"Stop belanja fast fashion, apapun argumennya! Kita sudah punya suplai pakaian sampai 60 tahun ke depan. Sudah cukup, bahkan berlebihan," tegas Dino dalam videonya. 

Dino menjelaskan bahwa industri fesyen saat ini telah menjadi polutan kedua terbesar di dunia, hanya kalah dari industri minyak dan gas. Sayangnya, hanya 1% dari seluruh pakaian yang bisa didaur ulang. Sementara itu, upaya mengurangi limbah fesyen tetap tidak mampu menahan laju produksi yang terus meningkat. 

"Usaha untuk mendaur ulang tidak bisa menghentikan 100 juta ton produksi pakaian setiap tahun hingga 2025. Hampir mustahil kalau cara belanja kita tidak berubah," katanya. 

Ia pun menjelaskan secara singkat apa itu fast fashion dan ultra fast fashion. Menurutnya, fast fashion merujuk pada merek-merek besar seperti Zara, Uniqlo, dan grup Inditex, sementara ultra fast fashion seperti Shein bisa memproduksi dan mengirim pakaian dalam waktu kurang dari 48 jam. 

Dulu, fesyen hanya memiliki dua hingga empat koleksi dalam setahun. Kini, model bisnis telah berubah drastis dengan produksi cepat menggunakan bahan sintetis seperti polyester—yang sejatinya adalah plastik. 

"Dulu produksi baju bisa setahun sekali atau dua kali. Tapi sekarang, dengan bahan sintetis dan pabrik yang beroperasi 24 jam, industri ini menghasilkan asap, polusi kimia, dan limbah dalam jumlah yang sangat besar," ujarnya. 

Masalah terbesar fast fashion bukan hanya produksinya yang cepat, tetapi juga limbahnya yang sulit ditangani. Dino mengungkapkan bahwa hanya sekitar 70% pakaian sumbangan yang bisa diterima, sementara 30% lainnya berakhir di tempat pembuangan. 

"Limbah pakaian ini sudah menutupi Gurun Atacama, Ghana, hingga dataran Australia. Bahkan di Indonesia, banyak pakaian bekas impor yang sebenarnya adalah limbah fesyen dari negara lain," paparnya. 

Menurutnya, konsep daur ulang yang sering digaungkan sebagai solusi pun tidak efektif. Polyester, bahan utama fast fashion, membutuhkan waktu hingga 300 tahun untuk terurai. Bahkan, proses daur ulang sendiri menghasilkan karbon emisi tinggi. 

"Percaya atau tidak, mendaur ulang pakaian justru membutuhkan energi dua kali lipat. Makanya negara-negara Eropa dan Skandinavia mulai meredam konsep daur ulang karena malah memperparah emisi karbon," jelasnya. 

Baca Juga : Perumda Tirta Kanjuruhan Perkuat SDM Bersertifikasi, Gandeng Pakar Nasional

Dino juga menyoroti isu eksploitasi pekerja di industri ini. Menurutnya, banyak perusahaan fast fashion yang beroperasi di negara-negara dengan upah murah, seperti Sri Lanka dan Bangladesh, di mana pekerja dipaksa bekerja dalam kondisi tidak layak. 

"Di Shein, pekerja bisa bekerja 24 jam tanpa henti dengan upah rendah. Banyak dari mereka bahkan meninggal karena kondisi kerja yang buruk. Apa bedanya ini dengan genosida?" tanyanya. 

Ia pun membandingkan bagaimana masyarakat mudah memboikot restoran cepat saji karena alasan etis, tetapi masih enggan berhenti membeli pakaian fast fashion. 

"Kenapa kalian bisa memboikot McD atau Starbucks karena isu genosida, tapi masih mendukung fast fashion yang juga melakukan hal serupa? Kita harus melindungi nyawa pekerja di balik pakaian yang kita pakai," tegasnya. 

Meski mengkritik fast fashion, Dino tidak serta-merta menyarankan orang untuk berhenti membeli pakaian sama sekali. Ia mendorong masyarakat untuk lebih sadar dalam berbelanja dan memilih produk lokal yang diproduksi dengan cara yang lebih etis dan ramah lingkungan. 

"Kita bisa mulai dengan membeli pakaian yang benar-benar dibutuhkan dan memilih produk dari UMKM lokal yang menggunakan bahan alami serta diproduksi secara wajar. Ini bukan hanya baik untuk lingkungan, tapi juga membantu perekonomian negara," sarannya. 

Ia pun mengingatkan bahwa membanjirnya pakaian murah dari luar negeri bukanlah solusi, melainkan ancaman bagi industri dalam negeri.
"Kita harus berpikir ulang, apakah kita ingin terus ikut andil dalam merusak bumi? Atau mulai berbelanja dengan lebih bijak?" pungkas Dino.


Topik

Lingkungan, Dino Augusto, industri fesyen, fast fashion, pencemaran lingkungan,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette