Ketika Raja-Raja Kasultanan Mataram Berburu: Jejak Tradisi, Rekreasi, dan Diplomasi
Reporter
Aunur Rofiq
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
17 - Nov - 2024, 04:21
JATIMTIMES - Di sepanjang sejarah, tradisi berburu bukan sekadar aktivitas rekreasi bagi raja-raja Kasultanan Mataram, tetapi juga mencerminkan budaya, kekuasaan, dan hubungan mereka dengan alam.
Kegiatan ini mengakar dari kebiasaan leluhur yang sudah berlangsung sejak era Majapahit hingga menjadi tradisi tersendiri pada masa Mataram Islam. Perburuan menjadi simbol harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas—serta sering kali memiliki fungsi diplomatik di baliknya.
Kandang Menjangan dan Tradisi Berburu
Baca Juga : Kenalkan Olahraga Gateball di Kota Batu, 24 Klub Berkompetisi Rebut Piala Pj Wali Kota
Jika kita berkendara di jalur Jogja–Solo, sebelum tiba di Kartasura, kita akan melewati sebuah kawasan yang kini menjadi Markas Kopassus. Namun, jauh sebelum dikenal sebagai tempat latihan militer, kawasan ini bernama Kandang Menjangan. Pada masa lalu, ini adalah hutan suaka yang dikelilingi pagar kayu jati milik Kasunanan Surakarta. Di dalamnya, berbagai satwa liar seperti rusa, kerbau, banteng, dan kuda hidup bebas, dipelihara untuk perburuan oleh raja.
Susuhunan Kasunanan Surakarta kerap mengadakan acara berburu di Kandang Menjangan. Tidak sekadar hiburan, kegiatan ini menjadi ajang unjuk kemampuan, kebersamaan, dan juga pelarian dari rutinitas pemerintahan. Selain itu, Kandang Menjangan mencerminkan pola pikir konservasi masa lalu, di mana satwa liar dilindungi di kawasan khusus namun tetap memenuhi fungsi rekreasi bangsawan.
Jejak Krapyak di Mataram
Tradisi berburu juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan raja-raja Kasultanan Mataram. Sebelum ibu kota dipindahkan ke Kartasura dan kemudian ke Surakarta, berbagai kawasan hutan lebat di sekitar Keraton Plered dan Keraton Kerto dijadikan tempat berburu. Salah satu kawasan yang terkenal adalah Krapyak Pringamba, terletak di kaki bukit Giriloyo, dekat muara Sungai Opak.
Lokasinya yang strategis dekat makam leluhur dinasti seperti Sultan Agung dan Panembahan Senopati menjadikan kegiatan berburu sering kali digabung dengan acara ziarah.
Sejarawan Belanda, E. Rijklof van Goens, pernah menggambarkan suasana berburu di sekitar muara Sungai Opak pada masa pemerintahan Amangkurat I. Ia mencatat, “Padang perburuan yang luas tak terkira, dikelilingi pagar kayu jati, berisi ribuan rusa, kerbau, banteng, dan kuda.” Tempat ini bahkan disebut sebagai Jagersparadijs atau "Surga bagi Para Pemburu...