JATIMTIMES – Di tengah ancaman cuaca pancaroba, kewaspadaan terhadap penyakit influenza kini menjadi perhatian serius bagi tenaga medis. Meski sering kali dianggap sebagai gangguan kesehatan musiman yang lumrah, influenza menyimpan risiko komplikasi fatal jika menular kepada kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, hingga penderita penyakit penyerta (komorbid).
Dokter Umum Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma, dr. Etika Herawati, menegaskan bahwa penanganan yang salah atau sikap menyepelekan gejala awal dapat menjadi ancaman nyata bagi keselamatan orang-orang di sekitar penderita. Dalam sesi edukasi kesehatan pada sebuah podcast, dr. Etika memberikan peringatan keras bahwa penderita flu dewasa harus memiliki kesadaran diri yang tinggi untuk tidak menjadi pembawa virus bagi kelompok rentan.
Baca Juga : Dukung Generasi Sehat dan Berkualitas, Mbak Wali Resmikan SPPG 2 Ponpes Al-Amien
Risiko paling nyata terlihat pada bayi dan anak-anak di bawah usia 12 tahun yang sistem imunnya belum terbentuk sempurna. Penularan melalui percikan cairan atau droplet dari orang dewasa yang sedang flu dapat memicu infeksi saluran pernapasan berat hingga pneumonia atau paru-paru basah pada bayi.
"Bagi kita mungkin hanya flu biasa, tapi bagi bayi ini bisa memicu pneumonia atau paru-paru basah. Pengobatan bayi itu sangat susah dan risikonya jauh lebih besar. Sangat dilarang keras penderita flu mencium bayi," tegas dr. Etika.
Kewaspadaan ini juga harus ditingkatkan oleh ibu hamil dan menyusui. Dr. Etika menekankan bahwa kelompok ini berada dalam posisi yang sangat sensitif karena tidak diperbolehkan mengonsumsi obat-obatan bebas secara sembarangan. Obat untuk ibu hamil dan menyusui bersifat khusus dan harus melalui pengawasan medis agar tidak berdampak pada janin maupun bayi yang sedang disusui.
"Untuk yang sedang menyusui, sedang hamil itu kalau begitu sakit langsung diperiksakan karena obatnya juga tidak bisa sembarangan. Kasihan bayinya," ungkapnya.
Selain itu, penderita penyakit bawaan seperti asma, diabetes, dan gangguan jantung juga menjadi target empuk komplikasi virus ini. Jika influenza tidak membaik dalam tiga hari, virus tersebut berpotensi menyerang paru-paru dan memperparah penyakit dasar yang sudah ada.
Selain faktor medis, etika sosial di lingkungan fasilitas kesehatan juga menjadi sorotan. Masyarakat diimbau untuk mematuhi jam kunjung rumah sakit dan sangat disarankan untuk tidak membawa anak kecil saat menjenguk orang sakit. Mengingat rumah sakit merupakan pusat berkumpulnya berbagai jenis kuman dan virus, membawa anak kecil ke lingkungan tersebut berisiko tinggi.
Baca Juga : Jago #Cari_Aman Biar Happy, Edukasi Berkendara Aman Terus Digencarkan di Malang Raya
"Hargailah jam kunjung itu. Jangan membawa anak kecil ke sana, wah ya berarti masuk ke dalam markasnya penyakit. Kalau bisa anak-anak itu tidak dibawa untuk menjenguk," pesan dr. Etika.
Ia mengingatkan bahwa pencegahan terbaik adalah dengan menjaga daya tahan tubuh melalui pola makan sehat, konsumsi air hangat, dan istirahat yang cukup minimal 6 hingga 8 jam sehari.
Sebagai langkah konkret dalam melindungi kelompok rentan, penggunaan masker dan disiplin cuci tangan menjadi kewajiban yang tidak bisa ditawar bagi siapa pun yang sedang merasakan gejala flu. Mengelola stres dan membangun suasana hati yang bahagia juga diyakini mampu meningkatkan stamina tubuh secara signifikan.
"Menerima adalah upaya tertinggi kita melakukan ikhtiar, menangani, dan mensikapi penyakit," pungkasnya.