JATIMTIMES - Di balik tenarnya Warung Lalapan & Seafood Cak Tomo yang kini bertebaran di sejumlah titik Kota Malang, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, kepindahan, dan tekad kuat sebuah keluarga mempertahankan cita rasa khas selama lebih dari dua dekade.
Adalah Cak Nopi, salah satu putra dari almarhum Sutomo, yang kini melanjutkan estafet dapur legendaris tersebut. Ia menuturkan bahwa perjalanan Cak Tomo bermula dari masa penuh gejolak, ketika keluarganya memutuskan pulang dari Jakarta setelah kisruh pada tahun 1998-1999.
Baca Juga : Profil Aktor Gary Iskak yang Meninggal Dunia Karena Kecelekaan
Dari Lamongan, mereka kemudian mencari tempat baru untuk memulai hidup, hingga akhirnya menemukan sudut di Jalan Ijen tepat di sebrang gereja. Dari situlah aroma pertama Lalapan Cak Tomo mengepul pada tahun 2000.
“Jadi berdirinya itu bapak saya namanya Sutomo dan saya,” ujar Cak Nopi mengenang, sembari menegaskan bahwa sejak hari pertama berdiri, usaha ini adalah kerja keras keluarga.

Awalnya, warung tersebut hanya ditempati tiga orang dan buka mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 00.00 WIB. Dengan modal pengalaman dan keberanian memulai dari nol, Cak Tomo perlahan memikat lidah warga Malang. Setelah Ijen menjadi pusat pertama, ekspansi pun dimulai. Tahun 2008, cabang Temanggung Suryo (Sanan) dibuka.
Tiga tahun kemudian, menyusul cabang Oro-Oro Dowo pada 2011. Deretan cabang baru terus lahir di Sawojajar 2021, Sulfat 2023, Galunggung 2024, hingga Dinoyo yang beroperasi pada 2025.
Cak Tomo dikenal bukan hanya karena konsistensinya, melainkan juga karena resep turun-temurun yang tidak pernah berubah. “Resep turun temurun yang beda dengan warung lain. Sambel trasi dan bumbu saos Padang yg memiliki ke khas'an tersendiri,” jelasnya. Dua racikan ini menjadi senjata rahasia yang membuat pelanggan selalu kembali.

Cobaan terbesar datang saat pandemi melanda dan banyak pelaku kuliner tumbang. Bagi Cak Tomo, mempertahankan usaha selama 25 tahun dan menjadi salah satu kuliner favorit warga Malang Raya bukan proses yang mudah.
“Kesannya jatuh bangun waktu berusaha itu sangat perjuangan sekali. Dan kuliner bertahan 25 tahun itu sudah termasuk legend,” ungkapnya.
Baca Juga : Poligami dan Keadilan: Pelajaran Tajam untuk Khalifah Al-Mansur
Namun, justru di situlah letak kebanggaan yang ia rasakan. Adalah terus bertumbuh menjadi kuat dan menguatkan, setiap bagian hidup adalah tantangan yang harus ditaklukkan.

Di masa awal, Cak Tomo hanya menyediakan sekitar 15 jenis menu, mulai dari sambal lalapan sampai seafood. Kini, pilihan itu telah berkembang pesat menjadi 35 menu, mencakup aneka lalapan, aneka seafood, aneka ikan bakar, hingga olahan tepung. Meski terus menambah varian baru, satu hal tetap dipertahankan, yakni cita rasa asli warung sejak tahun 2000.
“Untuk resep masakan tidak pernah berubah. Dan kami juga selalu terus update menu yang lain mengikuti tren yang ada dan masih nyambung dengan menu yang ada,” tegasnya.
Dengan motto “Cak Tomo harga hemat rasa nikmat” Cak Tomo kini berdiri bukan hanya sebagai warung makan, tetapi sebagai bagian dari nafas kuliner Kota Malang. Ia tumbuh dari kisah keluarga sederhana yang enggan menyerah, melewati masa-masa sulit, hingga kini menjadi Kuliner legend yang dinikmati lintas generasi.

Warung yang dulu berdiri dari keperluan bertahan hidup itu, kini menjelma menjadi salah satu ikon rasa yang dicari siapa saja yang merindukan kenikmatan lalapan dan seafood dengan karakter khas yang tak tergantikan.