JATIMTIMES - Kepemimpinan menjadi salah satu aspek penting dalam perjalanan sebuah bangsa. Sejarah mencatat, maju atau mundurnya sebuah peradaban sering kali ditentukan oleh kualitas pemimpinnya.
Dalam Islam, sosok Nabi Muhammad SAW hadir sebagai teladan dalam kepemimpinan negara. Nabi tak hanya berhasil mempersatukan berbagai suku dan kabilah di jazirah Arab, tetapi juga menegakkan nilai-nilai keadilan serta menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Baca Juga : 602 Kasus Kekerasan oleh Oknum Polisi, Aksi Represif Terulang di Demo Buruh 28 Agustus
Di bulan Rabiul Awal sebagai bulan kelahiran Nabi yang diperingati umat Islam setiap tahun menjadi momentum untuk kembali meneladani sifat Rasulullah sebagai pemimpin. Rasulullah SAW menunjukkan bagaimana kepemimpinan menjadi amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, kejujuran, dan kasih sayang terhadap rakyat.
Khutbah I
الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah,
Kepemimpinan merupakan faktor sentral dalam menentukan maju atau mundurnya sebuah bangsa. Sejarah membuktikan, apabila pemimpin bersikap adil dan amanah, maka negara akan tumbuh maju. Sebaliknya, jika kepemimpinan rapuh, maka rakyat akan merasakan dampaknya.
Indonesia sebagai negara besar telah mengalami berbagai periode kepemimpinan. Namun, persoalan kepemimpinan hampir selalu muncul di berbagai tingkatan, baik di level tertinggi maupun di lapisan masyarakat terbawah. Untuk menemukan gambaran pemimpin yang ideal, kita dapat meneladani Nabi Muhammad SAW, sosok pemimpin yang berhasil menegakkan keadilan serta membangun Madinah menjadi kota yang makmur dan terhormat pada masanya.
Kesuksesan itu tidak lepas dari ketegasan Rasulullah dalam menjalankan kebijakan yang berlandaskan keadilan. Nabi tidak pernah membedakan hukum antara orang terpandang maupun rakyat jelata. Bahkan, beliau tidak memberi perlakuan khusus kepada keluarganya sendiri.
Dalam riwayat yang tercatat dalam Shahih al-Bukhari juz 4 halaman 175, diceritakan sebuah peristiwa sebagai berikut:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ المَرْأَةِ المَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ، فَقَالُوا: وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالُوا: وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ، حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ، ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ، ثُمَّ قَالَ: إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ، أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الحَدَّ، وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
Artinya:
“Dari Aisyah ra., bangsa Quraisy pernah mengalami konflik kepentingan dalam kasus pencurian yang dilakukan oleh seorang wanita bangsawan dari suku Makhzumiyah. Mereka berdiskusi: siapa yang bisa menyampaikan amnesti ini kepada Rasulullah? Mereka memutuskan: tidak ada yang berani menyampaikan ini, kecuali Usamah ibn Zaid, orang yang dicintai Rasulullah. Usamah ibn Zaid menyampaikan hal tersebut kepada Rasulullah. Rasulullah tegas merespons: apakah kamu berani memberikan amnesti hukum yang telah ditetapkan Allah?! Nabi kemudian bangun dan berkata: sesungguhnya hal yang menjadikan umat terdahulu hancur (dibenci Allah) adalah mereka tidak menjatuhkan hukuman kepada orang yang terhormat jika melakukan pencurian, tetapi mereka menjatuhkan hukuman kepada orang lemah yang melakukan pencurian. Demi Allah, jika Fatimah binti Muhammad mencuri, maka sungguh aku potong tangannya (sebagai balasan pencurian).”
Jamaah yang dirahmati Allah,
Fenomena seperti yang dicontohkan Rasulullah sangat jarang kita jumpai pada masa sekarang. Tidak sedikit pemimpin yang justru memberi perlindungan pada kerabat, keluarga, atau lingkaran dekatnya ketika terjerat kasus hukum. Sementara itu, hukum lebih tegas ditegakkan kepada rakyat kecil atau mereka yang tidak memiliki kekuasaan.
Inilah yang mendapat perhatian dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 8, di mana Allah menegaskan pentingnya berlaku adil tanpa memandang kebencian maupun kedekatan dengan suatu kaum:
ياَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Keadilan adalah prinsip utama yang harus ditegakkan kepada siapa pun tanpa memandang status sosial, politik, maupun ekonomi seseorang. Inilah warisan besar Nabi Muhammad SAW yang kemudian dilanjutkan oleh para khalifah sepeninggal beliau.
Abu Bakar As-Shiddiq, khalifah pertama setelah wafatnya Nabi, menegaskan komitmennya untuk menegakkan keadilan sejak awal kepemimpinannya. Beliau menyampaikan bahwa hukum tidak boleh memandang bulu, baik kepada pejabat maupun rakyat biasa.
Pidato Abu Bakar ini diriwayatkan Ma’mar ibn Rasyid dalam Jami’ Ma’mar ibn Rasyid, juz 11, halaman 336:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ وُلِّيتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِخَيْرِكُمْ، فَإِنْ ضَعُفْتُ فَقَوِّمُونِي، وَإِنْ أَحْسَنْتُ فَأَعِينُونِي، الصِّدْقُ أَمَانَةٌ، وَالْكَذِبُ خِيَانَةٌ، الضَّعِيفُ فِيكُمُ الْقَوِيُّ عِنْدِي حَتَّى أُزِيحَ عَلَيْهِ حَقَّهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، وَالْقَوِيُّ فِيكُمُ الضَّعِيفُ عِنْدِي حَتَّى آخُذَ مِنْهُ الْحَقَّ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Artinya:
Baca Juga : Mobil Rantis Brimob yang Lindas Ojol, Dibeli dari Pajak Rakyat dengan Nilai Hampir Rp 1 Triliun
“Wahai manusia, aku telah diangkat menjadi pemimpin kalian, padahal aku bukan orang terbaik dari kalian. Jika aku salah, maka ingatkan aku. Jika aku benar, maka dukung aku. Kejujuran adalah tanggung jawab. Kebohongan adalah pengkhianatan. Rakyat biasa adalah orang terhormat bagiku sampai aku bisa memberikan haknya, sedangkan bangsawan adalah rakyat biasa bagiku sampai aku bisa menegakkan keadilan dengan mengambil haknya.”
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Selain Abu Bakar, Umar bin Khattab juga menjadi contoh nyata pemimpin yang adil. Umar tidak pernah memanfaatkan jabatannya untuk menguntungkan keluarga. Bahkan, beliau selalu mengingatkan keluarganya agar tidak menggunakan nama besar khalifah untuk mencari keuntungan pribadi. Umar juga menekankan kepada para pejabatnya agar hukum ditegakkan secara adil.
Pesan Umar kepada Abu Musa Al-Asy’ari diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Sunan al-Kubra, juz 10, halaman 229:
فَإِنَّ الْقَضَاءَ فَرِيضَةٌ مُحْكَمَةٌ، وَسُنَّةٌ مُتَّبَعَةٌ، افْهَمْ إِذَا أُدْلِيَ إِلَيْكَ، فَإِنَّهُ لَا يَنْفَعُ كَلِمَةُ حَقٍّ لَا نَفَاذَ لَهُ، آسِ بَيْنَ النَّاسِ فِي وَجْهِكَ وَمَجْلِسِكَ وَعَدْلِكَ ، حَتَّى لَا يَطْمَعَ شَرِيفٌ فِي حَيْفِكَ ، وَلَا يَخَافَ ضَعِيفٌ مِنْ جَوْرِكَ
Artinya:
“Kepemimpinan adalah kewajiban yang harus dipatuhi dan juga warisan Nabi yang harus diikuti. Pahamilah permasalahan dengan baik jika ada orang yang mengadukan sesuatu kepadamu karena slogan kebenaran tidak berguna jika tidak dipraktikkan. Berikan kesetaraan dalam perlakuanmu kepada semua orang, sampai orang bangsawan tidak akan merasa tenang dan aman karena tidak tersentuh hukum, dan rakyat biasa tidak merasa pesimis karena kezalimanmu.”
Hadirin yang dirahmati Allah,
Betapa pentingnya sosok pemimpin yang adil dalam kehidupan sebuah bangsa. Karena itu, Nabi Muhammad SAW menempatkan pemimpin adil sebagai golongan pertama yang akan mendapat naungan Allah di hari kiamat. Hal ini diriwayatkan al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, juz 1, halaman 133:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الإِمَامُ العَادِلُ
Artinya:
“Tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari tidak ada naungan, kecuali dari Allah. Pertama, pemimpin yang adil.”
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Semoga bangsa kita dianugerahi pemimpin yang adil, sehingga keadilan dapat ditegakkan, rakyat hidup makmur, dan kita semua meraih ridha Allah SWT. Amin, ya Rabb al-‘Alamin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلّٰهِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ بنِ عَبدِ الله وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَة. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ المُسلِمُونَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَاعلَمُوا إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ. قَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر