JATIMTIMES - Hari Kiamat digambarkan sebagai saat di mana setiap manusia akan berhadapan dengan buku catatan amalnya. Tidak ada yang terlewat, setiap perbuatan tercatat rapi. Mereka yang beruntung menerima kitab amalnya dari tangan kanan, sementara orang-orang yang ingkar menerima dari sebelah kiri.k
Dalam sebuah riwayat yang dinukil Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury dalam Al-Mawa’izh Al-Ushfuriyah, Rasulullah SAW menggambarkan bagaimana proses itu berlangsung. Seorang hamba menerima catatan kebaikan, membacanya, dan terkejut karena jumlahnya begitu banyak. Allah lalu bertanya, “Apa yang engkau lihat?” Hamba itu menjawab, “Kebaikan yang banyak.”
Baca Juga : Keutamaan Membaca Shalawat di Bulan Rabiul Awal: Dibalas 10 Kali Lipat Pahala!
Namun setelah itu, ia juga diberikan catatan keburukan. Dengan penuh penyesalan ia mengakuinya, tanpa bisa mengingkari. Hingga akhirnya Allah menyerahkan selemiamaybar catatan lain berisi kebaikan yang tak pernah ia ketahui. Kebaikan itu ternyata berasal dari orang-orang yang pernah ia sakiti, zalimi, atau rampas haknya. Dari situ ia baru paham, bahwa di hadapan Allah setiap perbuatan akan menemukan balasannya.
Riwayat serupa juga tercermin dalam kisah hidup Syaikh Ibrahim bin Adham, seorang ulama besar dari Khurasan pada abad ke-8. Setelah bertobat, ia memerdekakan semua budaknya. Namun, sebuah peristiwa menguji kesabarannya.
Suatu hari, seorang budak yang pernah ia bebaskan mabuk berat. Dari atas kuda, budak itu menyuruh Ibrahim untuk menuntunnya pulang. Alih-alih ke rumah, Ibrahim justru membawanya ke kuburan. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab lirih, “Kuburanlah rumah yang sebenarnya, sedangkan rumah yang kita tempati hanyalah sementara.”
Mendengar jawaban itu, sang pemabuk marah dan memukul Ibrahim dengan cambuk. Namun, Ibrahim hanya berkata, “Semoga Allah mengampunimu.” Bahkan setelah dipukul berkali-kali, doa yang sama tetap keluar dari lisannya.
Baca Juga : UIN Malang Lantik Wakil Dekan dan Kaprodi, Rektor Tegaskan Amanah dan Target Ketat
Ketika orang-orang mengingatkan si pemabuk bahwa lelaki yang ia sakiti adalah Ibrahim bin Adham, orang yang pernah memerdekakannya, ia pun terkejut dan meminta maaf. Ibrahim menjawab lembut, “Aku telah memaafkanmu.”
Budak itu kemudian bertanya penuh heran, “Mengapa engkau mendoakanku setiap kali aku menyakitimu?” Ibrahim menjawab, “Karena engkau perantara bagiku untuk masuk surga melalui kesabaran ini.”