JATIMTIMES - Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, salah satu rumah sakit terbesar di Jawa Timur, kini tengah menjadi sorotan. Pasalnya, muncul dugaan adanya praktik prostitusi terselubung, pemalakan, hingga pencurian yang terjadi di lingkungan rumah sakit.
Pengakuan mengejutkan datang dari salah satu keluarga pasien, Melati (nama samaran). Ia menyebut aksi tak terpuji itu telah berlangsung berkali-kali, mulai 19 Juli, 22 Juli, 30 Juli, 1 Agustus, hingga 2 Agustus 2025.
Baca Juga : Resmikan Gedung Baru RSKK, Mas Dhito: Harus Diimbangi SDM Melayani
Menurut informasi yang diterima, pelaku utama prostitusi berinisial MN. Ia disebut kerap melayani pelanggannya di depan ruang tunggu apotek BPJS RSSA di area yang tidak terpantau CCTV.
“Dia mengaku orang berada, padahal gelandangan tanpa identitas. Bahkan pernah mengaku punya anak yang sedang co-ass di RSSA,” ungkap Melati, Senin (11/8/2025).
Tak hanya prostitusi. MN juga diduga melakukan pemalakan terhadap keluarga pasien. “Banyak pasien mengeluh karena dimintai makanan, minuman, dan uang minimal Rp 5 ribu. Dalam sebulan, dia sudah lima kali beraksi di tempat yang sama,” tambahnya.
Lebih mengejutkan lagi, Melati mengaku mendapat informasi dari warga sekitar bahwa pelaku sudah 27 tahun tinggal dan beroperasi di lingkungan RSSA. Keluarga pasien pun hidup dalam ketakutan karena MN kerap mengancam akan membawa enam preman jika aksinya dilaporkan.
“Dia juga selalu membawa pisau sepanjang dua jengkal tangan orang dewasa dan memiliki komplotan lebih dari enam orang,” ujar Melati.
Selain prostitusi dan pemalakan, dugaan pencurian juga mencuat. Barang-barang yang hilang mulai dari mukenah masjid, sandal, hingga handphone keluarga pasien. “Salah satu korban kehilangan HP pada 4 Juni 2025,” bebernya.
Aksi prostitusi ini disebut terjadi terang-terangan. Bahkan, terduga pelaku sudah melepas pakaian dalam dan hanya memakai jilbab panjang. “Dari jarak empat meter, suara desahan terdengar jelas,” kata Melati dengan nada kesal.
Meski sejumlah keluarga pasien telah melapor ke pihak keamanan rumah sakit, respons yang diharapkan tak kunjung datang. “Saat laporan pencurian HP dicek di CCTV, memang terlihat pelaku mengambil, tapi tidak ada tindakan. Begitu juga laporan prostitusi, tidak direspons,” ucapnya.
Baca Juga : Ini Alasan Penyidik Lanjutkan Laporan Balik Dokter AY, Meski Korban Pelecehan Minta Tunda
Menanggapi isu tersebut, Sub-Koordinator Hukum, Humas, dan Ketertiban RSSA Malang Dony Iryan Vebry Prasetyo membenarkan bahwa MN adalah tunawisma yang sudah diamankan. Bahkan pihaknya mengaku telah memintai keterangan pada 5 Agustus 2025.
“Beliau mengaku seorang tunawisma dan sudah dua minggu menginap di RSSA. Soal pemalakan, dia (MN) membantah dan kami juga tidak punya bukti. Tapi diakui memang sering meminta-minta ke keluarga pasien,” jelas Dony.
Menurut dia, pengakuan MN telah dituangkan dalam surat pernyataan. Dia berjanji tidak akan lagi menginap di area RSSA. Pihak rumah sakit pun akan mengevaluasi kebijakan, terutama soal area rawat jalan yang selama ini ditoleransi untuk menginap bagi keluarga pasien.
“Ke depan, kami akan tempatkan satu petugas keamanan di lokasi yang diduga jadi tempat prostitusi,” tegas Dony.