JATIMTIMES - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah cepat Pertamina Patra Niaga dalam menjaga kelancaran distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (elpiji) di wilayah Besuki menyusul penutupan sementara jalur nasional Gumitir. Penutupan jalur penting yang menghubungkan Kabupaten Jember dan Banyuwangi ini sempat memicu kekhawatiran terkait pasokan energi.
Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto menyampaikan bahwa dunia usaha di wilayah terdampak, yang meliputi Bondowoso, Situbondo, Jember, dan Banyuwangi, tetap dapat menjalankan aktivitas dengan baik berkat langkah mitigasi yang sigap dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kementerian Perhubungan, dan khususnya Pertamina Patra Niaga.
Baca Juga : Puguh DPRD Jatim Minta Pemprov Siapkan Langkah Mitigasi Atasi Ancaman Kekeringan di 815 Desa
"Kadin Jawa Timur menyampaikan apresiasi atas respons cepat Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kementerian Perhubungan, dan Pertamina Patra Niaga dalam menjaga kelancaran distribusi energi dan logistik di wilayah terdampak," ucapnya.
Kadin Jawa Timur mengimbau masyarakat dan pelaku usaha di wilayah Besuki untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa karena distribusi energi dan logistik tetap berjalan serta stok BBM dan elpiji dalam kondisi aman dan terkendali. Kadin Jatim juga membuka jalur komunikasi dan koordinasi bagi dunia usaha yang membutuhkan pendampingan atau mengalami kendala operasional selama masa penutupan jalur berlangsung.
Komitmen dan respons cepat Pertamina Patra Niaga dalam situasi darurat ini menegaskan peran pentingnya sebagai pilar ketahanan energi nasional, mampu beradaptasi dan menjaga stabilitas pasokan di tengah tantangan logistik.
Sementara itu, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember Ciplis Gema Qoriah menilai krisis BBM di Kabupaten Jember adalah momentum untuk belajar melakukan antisipasi dan mitigasi persoalan secara kolektif.
"Saya pikir ini momentum. lesson learned, supaya ke depan tidak lagi terjadi, dan tidak lagi menjadi salah satu tanggung jawab satu pihak atau satu lembaga, tapi semua pihak terkait harus bergerak," kata Ciplis, Kamis (31/7/2025).
Ciplis menekankan perlunya keterlibatan semua pemangku kepentingan dan kebjakan untuk membahas antisipasi dan mitigasi secara intensif sebelum pemerintah mengeluarkan kebijakan yang berdampak terhadap masyarakat, seperti penutupan jalan di Gumitir.
"Koordinasi antarlembaga terkait ini penting. Seperti dalam hal penutupan jalur Gumitir ini. Jadi Pemerintah Provinsi Jatim, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Pertamina, dan PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan Indonesia Ferry (ASDP) harus bergerak bersama," kata Ciplis.
Ciplis berpendapat tanggung jawab kelangkaan BBM tidak bisa hanya diarahkan ke satu pihak. "Saya melihat di sini gangguan-gangguan atau hambatan ini sepertinya karena jauh dari antisipasi koordinasi dari berbagai pihak. Ini kan satu ruangnya PUPR, satu ruangnya pemerintah daerah," katanya.
Baca Juga : Pemkab Bondowoso Dorong Transformasi Pendidikan lewat Pemanfaatan AI
"Simulasi kebijakan itu jika terjadi seperti ini, apa yang harus dilakukan, dan siapa yang melakukan. Semua stakeholder harus bergerak. Saya pikir ini sudah tidak lagi saatnya untuk menyalahkan salah satu pihak," imbuh Ciplis.
Ciplis mangepresiasi langkah cepat Pertamina dalam mengatasi krisis BBM di Jember. Namun dia menilai, ke depan kereta api bisa menjadi solusi yang membuat suplai BBM ke Jember tak tergantung pada kondisi jalan. Apalagi di Jember ada depo di Gebang yang dilewati jalur kereta api.
Ciplis mengusulkan pengaktifan kembali suplai bahan bakar minyak (BBM) ke Kabupaten Jember, Jawa Timur, dengan menggunakan kereta api. "Saya pikir model transportasi pendistribusian dengan kereta bisa jadi alternatif. Saya pikir Pertamina dan pemerintah daerah harus memikirkan ke depan bagaimana antisipasi jika terjadi hal yang sama seperti saatini dan mencari alternatif cara pendistribusiannya," katanya/
Usulan Ciplis ini didasarkan pada kondisi krisis BBM yang sempat dialami Kabupaten Jember sejak Sabtu (26/7/2025), karena terhambatnya pasokan dari terminal Pertamina di Tanjung Wangi, Banyuwangi.
Penutupan jalur Banyuwangi-Jember via Gunung Gumitir karena prtbaikan dan kemacetan di Pelabuhan Ketapang membuat truk tangki penyuplai BBM tak bisa sampai Jember tepat waktu. Alhasil antrean panjang terjadi di 41 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Sejak Rabu (30/7/2025) kondisi berangsur-angsur normal setelah Pertamina mengirimkan 93 truk tangki BBM dari Malang, Surabaya, dan Jawa Tengah.