JATIMTIMES - Setelah dua hari bentrok bersenjata yang memanas di perbatasan, Kamboja akhirnya menyerukan gencatan senjata terhadap Thailand.
Seruan ini datang melalui pernyataan resmi yang disampaikan oleh Duta Besar Kamboja untuk PBB, Chhea Keo, dalam pertemuan darurat tertutup Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat malam (25/7) waktu AS.
Baca Juga : Rekomendasi Tontonan Akhir Pekan: Drakor Trigger Resmi Tayang di Netflix
Seruan Damai dari Kamboja di Tengah Ketegangan
Dalam forum internasional tersebut, Chhea Keo menyatakan bahwa pihaknya menginginkan gencatan senjata segera tanpa syarat, serta menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur damai.
“Kamboja meminta gencatan senjata segera tanpa syarat dan kami juga menyerukan penyelesaian sengketa ini secara damai,” ujar Chhea Keo.
Ia juga menegaskan bahwa tidak masuk akal bila Thailand — sebagai negara dengan kekuatan militer yang jauh lebih besar menuduh Kamboja sebagai provokator dalam konflik ini.
Thailand Terbuka untuk Mediasi ASEAN
Menanggapi perkembangan ini, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Nikorndej Balankura, menyampaikan bahwa pertempuran mulai mereda sejak Jumat sore. Ia juga menyebut bahwa Thailand terbuka untuk perundingan, termasuk melalui bantuan Malaysia sebagai Ketua ASEAN tahun ini.
“Kami siap, jika Kamboja ingin menyelesaikan masalah ini melalui jalur diplomatik, baik secara bilateral maupun melalui mediasi Malaysia, kami siap untuk itu,” ujar Nikorndej kepada AFP, dikutip Sabtu 26/7/2025).
Namun hingga pertemuan Dewan Keamanan PBB selesai, belum ada tanggapan resmi dari pihak Kamboja terhadap tawaran dialog tersebut.
Peringatan dari Thailand: Potensi Perang Terbuka
Sebelumnya, Perdana Menteri sementara Thailand, Phumtham Wechayachai, mengingatkan bahwa konflik perbatasan ini berpotensi berkembang menjadi perang terbuka apabila tidak segera dihentikan.
“Jika situasi terus memburuk, konflik ini dapat berkembang menjadi perang sesungguhnya,” tegasnya.
Korban Jiwa dan Pengungsi Meningkat
Konflik yang berlangsung selama dua hari ini telah menyebabkan korban jiwa dan luka-luka di kedua pihak. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Thailand:
• 15 orang tewas, terdiri dari 14 warga sipil dan 1 tentara
• 46 orang terluka, termasuk 15 personel militer
• 138.000 warga dievakuasi dari wilayah perbatasan
Pertempuran ini menjadi eskalasi paling berdarah antara kedua negara sejak lebih dari satu dekade terakhir.
Sengketa Perbatasan yang Belum Usai
Konflik antara Kamboja dan Thailand bukanlah hal baru. Kedua negara telah lama bersengketa atas wilayah perbatasan yang tumpang tindih, terutama di area yang juga merupakan destinasi wisata populer bagi turis internasional.
Baca Juga : Satu Suara dengan Prabowo, Prancis Akui Palestina sebagai Negara: Trump Murka
Meski sempat mereda dalam beberapa tahun terakhir, ketegangan di wilayah tersebut tetap tinggi akibat klaim historis yang saling tumpang tindih dan belum terselesaikan secara menyeluruh.
Harapan untuk Penyelesaian Damai
Seruan gencatan senjata oleh Kamboja dan sikap terbuka dari Thailand membuka peluang untuk penyelesaian damai melalui jalur diplomatik. Dukungan ASEAN, termasuk potensi mediasi oleh Malaysia, menjadi kunci dalam meredakan konflik ini sebelum berkembang menjadi perang terbuka.
Masyarakat internasional kini berharap agar kedua negara dapat menunjukkan pengendalian diri dan mengedepankan dialog demi menjaga stabilitas kawasan Asia Tenggara.