JATIMTIMES - Di tengah kian menyusutnya lahan pertanian di wilayah perkotaan, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang justru semakin gencar mengembangkan urban farming sebagai solusi cerdas dalam menjaga ketahanan pangan lokal. Melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan), Pemkot Malang memfokuskan konsep pertanian modern di pekarangan rumah warga sebagai bentuk adaptasi terhadap keterbatasan lahan.
Kepala Dispangtan Kota Malang Slamet Husnan menjelaskan bahwa urban farming bukan sekadar bertani, tapi juga mencakup budidaya ikan dan ternak dalam skala rumah tangga. Konsep ini sudah mulai diterapkan oleh banyak warga di berbagai kelurahan.
Baca Juga : Bangkai Paus Sepanjang 20 Meter Ditemukan di Perairan Sletreng Situbondo
“Urban farming kami dorong agar dilakukan dari rumah, dari RT, RW, hingga komunitas. Ini mencakup tanaman, peternakan, dan perikanan. Tujuannya, memperkuat ketahanan pangan di tengah keterbatasan lahan,” kata Slamet.
Tahun 2025, jumlah kelompok urban farming di Kota Malang mencapai 115 kelompok, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 112. Ini menunjukkan antusiasme warga kota dalam menerapkan sistem pertanian modern di lingkungan tempat tinggal mereka.
“Kami dampingi kelompok ini melalui pembinaan lintas sektor. Ada pembinaan untuk pertanian, perikanan, dan peternakan. Kami juga bikin grup WhatsApp khusus untuk memantau perkembangan mereka secara real time,” terang Slamet.
Dispangtan juga aktif memfasilitasi pemasaran hasil urban farming. Produk pertanian lokal dari pekarangan ini mulai dikenalkan ke jaringan hotel dan restoran melalui PHRI Kota Malang, serta disambungkan ke jaringan pengusaha muda di bawah naungan HIPMI.
Dispangtan tengah mematangkan sistem distribusi hasil pertanian ke berbagai sektor bisnis. Tujuannya, agar hasil pertanian warga kota bisa ditransaksikan secara langsung ke pasar modern.
“Kami targetkan produk urban farming bisa masuk ke fresh market dan pasar sayuran khusus. Jadi, hasil dari rumah langsung masuk ke sistem ekonomi lokal,” tambah Slamet.
Tak hanya itu. Sistem tanam hidroponik juga menjadi fokus utama pelatihan urban farming. Teknologi ini dipandang ideal karena tidak membutuhkan lahan luas dan bisa dijalankan dengan mudah di halaman rumah.
Baca Juga : Rayakan HUT ke-2, Kebun Raya Mangrove Surabaya Suguhkan Ragam Acara Edukatif dan Rekreatif
“Kami dorong hidroponik sebagai metode tanam utama. Selain hemat tempat, juga sangat cocok untuk Kota Malang. Bahkan produk lokal seperti pakis pun mulai dimanfaatkan,” jelas Slamet.
Urban farming ini telah berkembang di sejumlah wilayah seperti Kebonsari, Arjosari, Tlogomas, hingga Lesanpuro, dengan komoditas utama berupa sayuran hijau, ikan lele, ayam, dan bebek yang dikelola dalam skala pekarangan.
Menurut Slamet, urban farming bukan sekadar tren bertani kota, melainkan bagian dari misi besar Pemkot Malang dalam membangun ketahanan dan kemandirian pangan dari level terbawah.
“Produk masing-masing kelompok minimal harus mampu memenuhi kebutuhan warga di lingkungannya sendiri. Ini bukan proyek pemerintah, tapi kami dorong agar menjadi gerakan mandiri masyarakat,” ucap dia.