free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Profil

Isnawati Hidayah Wakili Indonesia di PBB: Ungkap Nasib Perempuan Muda di Sistem Pangan Dunia

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Dede Nana

23 - Jul - 2025, 18:07

Loading Placeholder
Isnawati Hidayah, delegasi Indonesia dalam Forum Politik Tingkat Tinggi (High-Level Political Forum/HLPF) 2025 yang digelar di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, sejak 14 hingga 23 Juli 2025. (Foto: istimewa)

JATIMTIMES - Suara perempuan muda Indonesia kembali menggema di panggung dunia. Isnawati Hidayah, peneliti muda yang juga aktif di isu pemberdayaan perempuan, menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam Forum Politik Tingkat Tinggi (High-Level Political Forum/HLPF) 2025 yang digelar di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, sejak 14 hingga 23 Juli 2025.

Forum tahunan ini menjadi wadah utama PBB dalam mengevaluasi progres global terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya dalam konteks sepuluh tahun sejak Agenda 2030 diadopsi.

Baca Juga : Arkhan Fikri Cedera, Ini 5 Pemain yang Bisa Gantikan Perannya di Semifinal AFF U23 2025 vs Thailand

Dengan tema “Mendorong solusi berkelanjutan, inklusif, berbasis ilmu pengetahuan dan bukti untuk Agenda 2030 dan SDGs – demi memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal”, HLPF tahun ini meninjau secara mendalam lima SDG. Di antaranya, kesehatan (SDG 3), kesetaraan gender (SDG 5), pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (SDG 8), kehidupan bawah laut (SDG 14), serta kemitraan untuk tujuan (SDG 17).

Momen Isnawati Hidayah menjadi narasumber Forum Politik Tingkat Tinggi (High-Level Political Forum/HLPF) 2025. (Foto: istimewa)

Momen Isnawati Hidayah menjadi narasumber Forum Politik Tingkat Tinggi (High-Level Political Forum/HLPF) 2025. (Foto: istimewa)

HLPF 2025 menghadirkan pemimpin dunia, perwakilan lembaga PBB, ilmuwan, organisasi masyarakat sipil, pemuda, hingga sektor swasta untuk berdialog terbuka, berbagi pengalaman, dan menyusun strategi percepatan implementasi SDGs. Beberapa agenda utama forum ini antara lain Voluntary National Reviews (VNR), sesi diskusi interaktif, VNR Labs, dan berbagai side events lintas sektor.

Dalam forum ini, Isnawati tampil mewakili Indonesia dan kelompok ilmuwan muda World Food Forum (WFF) yang berada di bawah naungan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO – UN). Ia hadir sebagai pembicara dalam sesi bertajuk “Meningkatkan Peran Perempuan Muda di Sistem Agrifood melalui Akses Pendidikan dan Kesempatan Ekonomi”, yang mengangkat isu lintas SDG 4 dan SDG 8.

Isnawati menyampaikan bahwa perempuan muda tidak bisa disamakan begitu saja dengan kategori “perempuan” secara umum, karena mereka menghadapi tantangan berlapis yang berbeda. 

“Perempuan muda bukan sekadar bagian dari kelompok ‘perempuan’ secara umum. Mereka menghadapi tantangan yang unik dan berlapis, mulai dari keterbatasan akses ekonomi, beban pengasuhan tanpa bayaran, pekerjaan tak berbayar di sektor agrifood, kurangnya literasi digital, hingga kesulitan mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak. Agar kebutuhan mereka terpenuhi dengan tepat, kita perlu pendekatan yang peka terhadap usia, responsif terhadap isu gender, dan mampu melihat berbagai sisi sekaligus. Sudah saatnya kita berhenti menyamarkan keberadaan mereka di bawah kategori yang terlalu umum, dan mulai memberi perhatian khusus sesuai dengan kebutuhan mereka.” demikian isi pidato Isnawati. 

Ia menekankan pentingnya kebijakan yang tidak hanya sekadar mendengar suara pemuda, tetapi benar-benar melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan. 

Isnawati menyebut bahwa perempuan muda berperan strategis dalam membentuk sistem pangan berkelanjutan dan inklusif, serta menuntut adanya akses yang setara terhadap pendidikan, teknologi, dan kesempatan ekonomi.

Baca Juga : Hari Anak Nasional, Komisi E DPRD Jatim Soroti Dampak Gempuran Teknologi

Sebelumnya, pada Januari 2025, Isnawati juga diundang sebagai ahli dalam Expert Group Meeting yang diselenggarakan UN Women bersama UN DESA (United Nations Department of Economic and Social Affairs). Acara ini berlangsung secara hybrid di Markas Besar PBB, New York.

Dalam forum tersebut, Isnawati turut memberikan pandangan mengenai cara memutus rantai kemiskinan yang seringkali lebih berat menimpa perempuan, serta pentingnya menjembatani kesenjangan digital. Kedua isu ini kemudian dibawa sebagai rekomendasi dalam forum HLPF 2025.

Adapun pertemuan para pakar ini merupakan bagian dari proses evaluasi pencapaian SDG 5 tentang kesetaraan gender. Tujuannya untuk merumuskan langkah-langkah konkret agar target global tersebut tercapai secara lebih adil dan menyeluruh.

Dalam sesi HLPF 2025, Isnawati juga menyoroti peran generasi muda sebagai "generasi sandwich" dalam sistem agrifood, yakni generasi yang mewarisi kerusakan sistem dari masa lalu, namun dituntut untuk memperbaikinya demi masa depan.

“Kita adalah generasi sandwich dalam sistem agrifood, menghadapi kerusakan yang ditinggalkan oleh generasi sebelumnya sekaligus bertanggung jawab memperbaikinya demi masa depan generasi berikutnya. Namun, seringkali kita justru tak dilibatkan dalam ruang-ruang pengambilan keputusan. Setidaknya, sebuah sistem harus lebih dari sekadar mendengar suara kita, tapi benar-benar mendengarkan. Partisipasi anak muda harus lebih dari sekadar formalitas belaka; ia harus diinstitusionalisasi, didukung dengan sumber daya yang memadai, dan dihormati dengan sungguh-sungguh,” pungkas Isnawati.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Dede Nana

--- Iklan Sponsor ---