JATIMTIMES - Dalam pusaran sejarah Jawa abad ke-16 hingga ke-17, nama Surabaya sering hanya muncul sekilas sebagai sebuah kota pelabuhan penting, lawan tangguh Mataram, atau simpul perdagangan pesisir. Namun di balik benteng tanahnya yang menjulur menantang Kali Mas, Surabaya pernah berdiri sebagai kerajaan mandiri yang menjadi jantung perlawanan terakhir sisa-sisa persekutuan Demak.
Kerajaan Surabaya bukan sekadar pangkalan maritim, tetapi pewaris legitimasi spiritual Sunan Ngampel Denta, dengan rajanya yang tua dan buta menatap senja kerajaan di tengah pertahanan kota yang megah. Dari sisa-sisa dinasti inilah lahir seorang bangsawan yang kelak menjadi jembatan budaya di jantung Mataram: Pangeran Pekik.
Baca Juga : Makam Fatimah binti Maimun: Bukti Arkeologi Islam Abad ke-11 di Jawa
Artikel ini hendak membentang benang sejarah Kerajaan Surabaya pada senja kekuasaannya, membongkar sosok Raja Buta yang misterius, hingga peran transformasional Pangeran Pekik. Tidak semata kisah istana, tetapi juga riwayat benteng-benteng kota, dendam sejarah, pengaruh spiritual, dan bagaimana pusaka maritim pesisir bertaut dengan kekuasaan agraris pedalaman, melahirkan intrik dinasti yang mewarnai transisi Jawa Islam.
Dari Demak ke Surabaya: Warisan Wali di Ujung Pesisir
Menurut De Graaf (2001: 74), dinasti Surabaya diperkirakan menautkan silsilahnya ke Sunan Ngampel Denta—wali besar yang makamnya hingga kini diziarahi di Ampel, Surabaya Utara. Jalur legitimasi inilah yang menjadikan Surabaya, pasca keruntuhan Demak akibat ekspedisi Pajang ke Panarukan (1546), tampil sebagai penerus independen persekutuan pesisir.
Dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha, kepercayaan akan keturunan wali ini direkatkan dengan praktik ziarah para pangeran Surabaya ke makam Ampel Denta, sebagaimana rombongan pada September 1691 yang dicatat dalam naskah Sadjarah Regen Surabaja (Koleksi Brandes no. 474).
Dengan jatuhnya Gresik, Tuban, Sedayu, dan Lamongan ke tangan kekuatan politik yang berganti-ganti, Surabaya tampil bak bulwark terakhir kosmopolitanisme Islam pesisir. Kejayaan dagang di pelabuhan Surabaya disangga jejaring niaga Tionghoa, pelaut Makassar, hingga jalur sutra Nusantara yang menembus Selat Madura.
Namun, pada akhir abad ke-16, muncul kekuatan baru di pedalaman: Mataram. Setelah Pajang runtuh, Mataram di bawah Panembahan Senapati dan Sultan Agung menatap pesisir sebagai sasaran konsolidasi. Dalam De Graaf (2001: 135–138), Surabaya disebut-sebut sebagai musuh utama Mataram pada masa-masa awal perluasan wilayah. Tidak hanya karena posisi strategisnya, tetapi juga karena Surabaya menjadi payung simbolik bagi para adipati pesisir yang resisten terhadap hegemoni agraris pedalaman.
Tembok dan Baluwarti: Jantung Pertahanan Kota Surabaya
Keperkasaan Surabaya tidak hanya bertumpu pada silsilah spiritual, tetapi juga pada kecanggihan benteng kotanya. Catatan Artus Gijsels (1871b: 534–535) menyebutkan bahwa Surabaya di abad ke-17 dikelilingi tembok dan baluwarti dengan parit yang indah dan lebar. Tembok membentang sekitar 30 kilometer, membelah kota di kedua sisi Kali Mas. Di setiap interval tembakan meriam, terdapat benteng-benteng bujur sangkar mirip blockhouse Tiongkok, dengan 10 hingga 12 meriam per pos.
Di bawah tembok selebar dua langkah itu, tanggul diperkuat, berundak menyerupai tangga. Pintu air, gerbang, dan bea cukai menjadi denyut ekonomi dan pertahanan sekaligus. Sejarawan modern sering membandingkan Surabaya dengan kota-kota Eropa bertembok era Baroque—tetapi di Nusantara, Surabaya merupakan salah satu contoh termaju kota pelabuhan yang mampu memadukan tata kota pesisir dengan pertahanan militer.
Pusatnya adalah keraton di tepi Kali Mas. Valentijn (1724–1726) dan von Faber (1931) melukiskan sisa istana Surabaya sebagai Astana yang pada awal 1700-an masih berdiri, meski terlantar. Bangunan batu berpagar tembok, pepohonan linde (warigin) sebagai panggung rakyat dan penobatan, kereta raja yang ditarik kerbau putih, dan pasar yang berdenyut di depannya—semua menggambarkan kompleks istana yang menjadi simbol sisa-sisa kejayaan raja buta Surabaya.
Raja Buta: Figur Senja Dinasti
Sumber Belanda mencatat bagaimana pada awal abad ke-17 orang Eropa kerap berhadapan dengan raja Surabaya yang digambarkan sebagai sosok tua dan buta. Catatan Peregrinaçao F. Mendes Pinto (1645) dan Commelin (1646) merekam pertemuan Opperkoopman Paulus van Solt dengan sang raja pada 7 Februari 1607. Raja, sambil meraba hadiah kain yang dibawa para utusan, bertanya tentang warna kain—pertanda kebutaannya terjadi di usia senja, bukan bawaan lahir.
Adegan itu, sekilas, tampak ganjil: seorang raja maritim besar, di puncak usia, tetap memimpin negosiasi perdagangan dengan pedagang Eropa. Namun, di balik perjamuan yang mewah dan pameran keraton, kebutaan sang raja menjadi simbol tragis redupnya penglihatan politik Surabaya di tengah gempuran Mataram.
Penggantinya, Jaya Lengkara—dalam Sadjarah Dalem dan Padmasoesastra (1902: gen. 217)—sering diidentifikasi sebagai Raja Surabaya terakhir. Dua istri Lengkara, Ratu Mas dari Kediri dan satu lagi dari Mojoagung (Wirasaba), merefleksikan pola pernikahan politik khas Surabaya yang mengikat pos-pos penyangga di sekitarnya. Ketika Jaya Lengkara wafat, anaknya, Pangeran Pekik, menjadi figur kunci yang mewarisi dendam dan warisan budaya sekaligus.
Pangeran Pekik: Dari Benteng Surabaya ke Pusat Mataram
Kekalahan Surabaya di tangan Sultan Agung pada 1625 menjadi palagan penutup bagi Raja Buta dan benteng-bentengnya. Namun tidak bagi Pekik. Alih-alih dibinasakan, ia dibawa ke Kotagede dan dinikahkan dengan Ratu Pembayun. Di sinilah narasi beralih: dari intrik militer ke rekonsiliasi kultural.
Van Goens dan De Graaf (1956: 214–215) mencatat keberadaan Kasurabayan di Kotagede—perkampungan eksklusif bagi bangsawan Surabaya di jantung istana Mataram. Pekik, dengan segala warisan kosmopolitanisme pesisirnya, menjadi simpul baru. Ia bukan komandan pasukan, tetapi penenun soft power.
Baca Juga : Daftar Juara Piala Dunia Antarklub dari Masa ke Masa
C.E. Winter (1882: 361–373) menyebut Pekik sebagai penulis Serat Jaya Lengkara Wulang, syair spiritual yang menjadi referensi suluk para santri di pesantren elite. Menurut De Graaf (1941b: 213–214) dan L. de Serrurier (1896: 57), Pekik juga mengkreasi wayang krucil untuk memvisualkan cerita Damarwulan—ikon heroik Jawa Timur yang dihidupkan ulang di panggung istana Mataram. Ini adalah cara halus menanamkan narasi kepahlawanan pesisir ke dalam kesadaran politik agraris.
Dendam, Wahyu, dan Kelahiran Dinasti Amangkurat
Intrik dinasti Surabaya tidak berakhir di Kotagede. Kisah lisan menuturkan Pangeran Pekik kerap bertapa di makam Sultan Hadiwijaya di Pajang. Dari permenungan di tanah sunyi Butuh, ia menerima wangsit: kelak cucunya akan naik takhta, bertakhta di barat Pajang, bergelar Amangkurat. Ramalan ini menjelma nyata ketika Raden Mas Rahmat—cucu Pekik dari Ratu Mas Surabaya—naik takhta menjadi Amangkurat II di tengah puing Plered pasca pemberontakan Trunajaya (1677).
Laporan VOC menyebut nama Rahmat sebagai figur sah di mata istana dan Kompeni. Babad Jawa menegaskan wahyu keprabon itu terhubung dengan silsilah Sunan Ampel melalui garis Pangeran Pekik. Dari tanah pesisir, melalui percampuran darah dan spiritualitas, lahir sebuah dinasti baru di jantung Mataram.
Pangeran Pekik dan Peranannya dalam Budaya Mataram: Dari Suluk hingga Wayang Krucil
Dalam jagat historiografi Jawa abad ke-17, Pangeran Pekik muncul sebagai jembatan senyap antara senja Kerajaan Surabaya dan fajar hegemoni Mataram. Lahir dari rahim dinasti pesisir yang menautkan legitimasi ke Sunan Ampel, Pekik adalah anak Panembahan Jaya Lengkara, Raja Surabaya terakhir yang dikenal dalam naskah Sadjarah Dalem. Surabaya—dengan tembok tanah, baluwarti, dan pelabuhan kosmopolitnya—adalah benteng terakhir persekutuan Demak, hingga akhirnya runtuh di hadapan Sultan Agung pada 1625.
Namun, dalam tradisi politik Jawa, penaklukan fisik bukan berarti kematian warisan. Sebaliknya, Sultan Agung justru menautkan dua kekuasaan melalui darah. Pangeran Pekik, yang seharusnya berakhir sebagai tawanan, dijadikan menantu lewat pernikahan dengan Ratu Pembayun. Sejak 1628, Kasurabayan—kadipaten Surabaya di jantung Kotagede—berdiri sebagai enklave kebudayaan pesisir di tengah dominasi agraris Mataram. Van Goens dan De Graaf (1956) menandai Kasurabayan dalam peta kota istana, menegaskan bahwa sang pangeran bukan sekadar penghuni pelengkap, melainkan poros pertukaran budaya.
Berbeda dengan mertua dan kerabatnya yang masyhur di medan pertempuran, Pangeran Pekik tak tercatat memimpin prajurit. Kesaksian kontemporer menempatkannya sebagai figur kontemplatif. Ia lebih condong pada jalur soft power—menaklukkan bukan dengan pedang, tetapi dengan gagasan, sastra, dan spiritualitas. Dalam penaklukan Giri Kedaton (1636), yang selama ini dikenal sebagai simbol independensi ulama Jawa Timur, Pekik tampil bukan sebagai panglima, melainkan mediator kultural. Ia memahami jaringan spiritual Giri, meredam resistensi melalui pendekatan simbolik, sekaligus menunjukkan superioritas moral warisan pesisir.
Di balik keheningan politiknya, Pangeran Pekik justru merumuskan jalur akulturasi baru. Menurut Winter (1882) dan de Graaf (1941b), Pekik menulis Serat Jaya Lengkara Wulang, syair mistik yang menjadi suluk penting di pesantren elite. Ia juga menyeberangkan sastra Melayu ke Jawa dengan meminta khatib Giri menerjemahkan Cariasipun Sultan Iskandar—naskah kosmopolit Melayu—ke dalam kerangka kejawen. Inisiatif ini bukan sekadar alih bahasa, tetapi strategi simbolik untuk menjembatani dua samudra peradaban: dunia wali pesisir dengan mistik agraris Mataram.
Salah satu inovasi kebudayaannya yang diingat adalah lahirnya wayang krucil. Jika cerita Damarwulan di Jawa Timur sekadar berkutat pada babad lisan, Pangeran Pekik justru memodifikasinya ke bentuk wayang mini, menyesuaikan narasi heroik pesisir agar dapat dipentaskan di panggung istana. Wayang krucil tidak sekadar pertunjukan; ia menjadi medium akulturasi yang menjinakkan heroisme maritim ke bingkai simbolik kekuasaan Mataram. L. de Serrurier (1896) menegaskan pementasan ini terjadi menjelang 1671, di penghujung hidup Pekik.
Tak berhenti pada sastra dan pentas, peran Pangeran Pekik menjalar ke ranah spiritual. Kisah lisan menyebut ia kerap bertapa di makam Sultan Hadiwijaya di Butuh, Pajang. Di sanalah, dalam kesunyian, ia konon menerima wangsit: kelak cucunya akan bertakhta di barat Pajang, bergelar Amangkurat. Ramalan itu, meski diwarnai mitos, menemukan pembenaran saat Raden Mas Rahmat—cucunya dari Ratu Mas Surabaya—dinobatkan sebagai Amangkurat II pasca-gejolak Trunajaya.
Historiografi Jawa modern menempatkan Pangeran Pekik bukan sebagai figur militer, melainkan pujangga praja. Ia membuktikan bahwa penaklukan sejati terletak pada penguasaan makna. Jika Sultan Agung meratakan Surabaya dengan meriam, Pekik justru menyalakan obor Surabaya di jantung Kotagede dengan pena dan suluk. Dengan itu, ia menjadi simbol bahwa kosmopolitanisme pesisir tak pernah mati—ia justru mengalir ke sungai-sungai ideologi Mataram, memperhalus watak keraton Jawa hingga ratusan tahun kemudian.
Pangeran Pekik, demikian, bukan sekadar bayangan dinasti yang hilang. Ia adalah pelita kecil di senja Surabaya, penulis sejarah tanpa pedang, pengendali narasi tanpa pasukan. Dari reruntuhan baluwarti Surabaya, lewat Kasurabayan dan wayang krucil, lahirlah akulturasi yang menorehkan jejak: di mana dendam sejarah tak lagi dibayar darah, tetapi dijelmakan menjadi kebudayaan.