free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Ruang Sastra

Pakubuwono X, Bromartani, dan Nasionalisme Lewat Lembar Surat Kabar 

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

24 - Jun - 2025, 10:16

Loading Placeholder
Lukisan bergaya realis menggambarkan Pakubuwono X tengah membaca surat kabar Bromartani. (Foto: dibuat dengan AI oleh JatimTIMES)

JATIMTIMES - Dalam lanskap sejarah Indonesia, peran media cetak sebagai alat penyebaran ide dan semangat nasionalisme tidak dapat diabaikan. Salah satu contoh awal dari fenomena ini adalah surat kabar Bromartani, yang terbit pertama kali pada 29 Maret 1855 di Surakarta.  

Diterbitkan oleh Carel Frederik Winter dan putranya, Gustaaf Winter, Bromartani menjadi surat kabar pertama yang menggunakan bahasa dan aksara Jawa. Khususnya bahasa krama inggil, yang merupakan tingkat bahasa tertinggi dalam hierarki bahasa Jawa.  

Baca Juga : Dimas Anggara Diduga Tampar Keisha Alvaro, Okie Agustina: Real Terjadi

Bromartani tidak hanya menyajikan berita lokal dan internasional, tetapi juga memuat ilmu pengetahuan alam, pengumuman pemerintah, pertanian, cerita, dan jadwal transportasi darat. Surat kabar ini menjadi referensi penting bagi para pelajar dan mahasiswa, terutama mereka yang menempuh studi di Institut Bahasa Jawa.  Dukungan moral dari Pakubuwono VII menunjukkan bahwa Bromartani memiliki posisi istimewa dalam lingkungan keraton. 

Setelah sempat berhenti terbit pada 1856, Bromartani mengalami beberapa kali reinkarnasi, termasuk pada tahun 1865 dan 1871, hingga akhirnya bertahan hingga 1932.  Perubahan ini mencerminkan dinamika politik dan sosial di Surakarta, serta peran aktif keraton dalam mendukung perkembangan pers lokal. 

Pakubuwono X, yang memerintah dari 1893 hingga 1939, dikenal sebagai raja yang progresif dan mendukung modernisasi.  Beliau melanjutkan misi pendahulunya dalam mendukung pers lokal, termasuk Bromartani.  Pada masa pemerintahannya, Surakarta mengalami perkembangan pesat dalam bidang sosial dan budaya, termasuk pembangunan fasilitas umum dan pengembangan seni tradisional.  

Selain Bromartani, surat kabar lain yang berperan dalam menyebarkan ide nasionalisme adalah Djawi Hiswara, yang terbit antara 1909 hingga 1919. Didirikan oleh Raden Martodharsono, surat kabar ini awalnya berafiliasi dengan organisasi Boedi Oetomo.  

Namun, pada Januari 1918, Djawi Hiswara menerbitkan artikel satir yang menggambarkan Nabi Muhammad sebagai pemabuk dan pengguna opium, yang memicu kemarahan umat Islam dan memunculkan gerakan Tentara Kandjeng Nabi Muhammad (TKNM) yang dipimpin oleh Tjokroaminoto.  

Kontroversi ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh media cetak dalam membentuk opini publik dan memobilisasi massa. Meskipun Djawi Hiswara akhirnya berhenti terbit pada 1919, peristiwa ini menegaskan pentingnya tanggung jawab pers dalam menyampaikan informasi yang sensitif. 

Peran Pakubuwono X dalam mendukung pers lokal, termasuk Bromartani, mencerminkan strategi keraton dalam mempertahankan identitas budaya Jawa di tengah dominasi kolonial Belanda. Dengan memanfaatkan media cetak berbahasa Jawa, keraton mampu menyebarkan nilai-nilai tradisional dan semangat nasionalisme kepada masyarakat luas. 

Dalam konteks historiografi, perkembangan pers lokal di Surakarta menunjukkan bagaimana media cetak menjadi alat penting dalam proses modernisasi dan pembentukan identitas nasional. Melalui dukungan tokoh-tokoh seperti Pakubuwono X, pers lokal tidak hanya menjadi sarana informasi, tetapi juga medium untuk mempertahankan dan mengembangkan budaya lokal di era kolonial. 

Dengan demikian, Bromartani dan surat kabar sejenisnya memainkan peran krusial dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia, khususnya dalam konteks Surakarta.  Mereka menjadi bukti nyata bagaimana media cetak dapat menjadi alat perjuangan budaya dan politik dalam menghadapi dominasi kolonial. 

Pakubuwono X: Raja Bijak dari Surakarta yang Merangkai Tradisi dan Modernitas

Pakubuwono X adalah nama yang tidak dapat dilepaskan dari sejarah kejayaan Surakarta. Ia bukan sekadar seorang raja, tetapi juga seorang tokoh pembaru yang membawa angin segar bagi Kesunanan Surakarta Hadiningrat di tengah masa-masa sulit penjajahan kolonial Hindia Belanda. 

Dikenal luas sebagai raja yang cerdas, bijaksana, kaya raya, dan dermawan, Pakubuwono X merupakan sosok pemimpin yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai tradisi Jawa dengan sentuhan kemajuan zaman.

Lahir pada 29 November 1866 dengan nama kecil Raden Mas Sayidin Malikul Kusno, beliau merupakan putra dari Pakubuwono IX dan permaisuri KRAy Kustiyah. Sejak usia dini, tepatnya pada umur tiga tahun, Raden Kusno sudah diproyeksikan sebagai penerus tahta dengan dianugerahi gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra ing Mataram.

Ketika Pakubuwono IX wafat pada 16 Maret 1893, tahta Kasunanan beralih kepada Raden Kusno. Dua pekan setelah wafatnya sang ayah, ia dilantik secara resmi sebagai Pakubuwono X pada 30 Maret 1893. Dalam usia 27 tahun, ia mulai memimpin Surakarta dan melanjutkan pemerintahannya selama 46 tahun, menjadikannya raja Kasunanan Surakarta terlama dalam sejarah.

Masa pemerintahan Pakubuwono X ditandai dengan perhatian besar terhadap pengembangan seni dan budaya Jawa. Ia mendorong tumbuh suburnya karawitan, tari-tarian keraton, pedalangan, dan sastra Jawa. Banyak gedhing, tari klasik, serta karya sastra dan seni lahir pada masa pemerintahannya. 

Baca Juga : Penerapan Jam Malam Anak, DP3APPKB Surabaya Sosialisasi Lewat SOTH dan Kelas Parenting

Ia sendiri menguasai berbagai bidang ilmu, mulai dari sejarah, filsafat Jawa, ilmu keris (tosan aji), tari, karawitan, hingga ilmu kebatinan. Bahkan, ia dikenal sangat piawai memainkan rebab, alat musik tradisional Jawa yang kompleks.

Pakubuwono X menjadikan keraton sebagai pusat pemeliharaan dan pembaruan budaya Jawa. Tradisi penabuhan gamelan, upacara adat, dan ritual selamatan dilestarikan dan dijadwal secara berkala. Ia dijuluki para abdi dalem sebagai "Sampeyan Dalem Ingkang Minulyo saha Wicaksana", gelar yang mencerminkan kemuliaan dan kebijaksanaannya dalam menjaga nilai-nilai Jawa.

Yang membuat pemerintahan Pakubuwono X begitu istimewa adalah keberhasilannya memadukan tradisi lokal dengan modernitas ala Eropa. Ia melakukan revitalisasi besar-besaran terhadap struktur fisik dan arsitektur Surakarta, termasuk pembangunan dan renovasi keraton dengan sentuhan gaya neoklasik Eropa. 

Atap bangunan Argapura, misalnya, menampilkan gaya rumah loji Belanda. Di area Sasana Sewaka dan Sasana Handrawina, dipasang patung-patung klasik Eropa, menjadikan kawasan istana tampil megah dan penuh kharisma.

Pembangunan Taman Sriwedari, yang menjadi pusat hiburan dan pertunjukan rakyat, juga merupakan manifestasi dari cita rasa seni dan estetika Pakubuwono X. Taman ini menjadi simbol kemajuan Surakarta sebagai pusat budaya yang dinamis.

Pakubuwono X tidak hanya memikirkan budaya, tetapi juga infrastruktur dan teknologi modern. Ia berperan besar dalam menghadirkan listrik di Surakarta, menjadikannya salah satu kota pertama di Hindia Belanda yang menikmati penerangan listrik. 

Pada 19 April 1902, listrik dinyalakan pertama kali di Surakarta berkat kerja sama antara Keraton Surakarta, Kadipaten Mangkunegaran, serta para saudagar dan hartawan lokal, yang membentuk perusahaan listrik Solosche Electricirty Maatschappij (SEM).

Penerangan listrik ini menghidupkan berbagai kegiatan malam hari. Pementasan wayang kulit, pertunjukan musik dan tari, serta pameran seni rupa bisa dilangsungkan dengan semarak. Kehidupan budaya malam Surakarta berkembang pesat, menjadikannya pusat aktivitas urban dan kesenian di Jawa.

Pakubuwono X juga dikenal sebagai raja yang melek media. Ia berlangganan berbagai surat kabar dalam bahasa Belanda, Melayu, dan Jawa, seperti Neratja, Bromartani, Dharma Khanda, Sinpo, Soerabajaasch Handelsblad, De Java Bode, dan De Niuwe Vorstelanden. Informasi global yang masuk ke lingkungan keraton memperkaya wawasan raja dalam menjalankan pemerintahan dan diplomasi kebudayaan.

Pakubuwono X wafat pada 22 Februari 1939. Kendati jasadnya telah tiada, warisannya tetap hidup dalam bentuk bangunan, tradisi, dan sistem budaya yang masih eksis hingga kini di Surakarta. Arsitektur, nilai-nilai budaya, dan sistem sosial yang dirintis olehnya menjadi pondasi kuat identitas Jawa di tengah gempuran zaman.

Dalam catatan historiografi Jawa modern, Pakubuwono X bukan hanya dikenang sebagai seorang raja, melainkan sebagai simbol sinergi antara adat dan kemajuan, antara spiritualitas dan teknologi, antara keraton dan rakyat. Ia adalah penghubung antara dua dunia—tradisi dan modernitas—yang membentuk wajah Surakarta hingga kini.

________ 

Catatan Redaksi: artikel ini merupakan rangkuman dari berbagai sumber 


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri

--- Iklan Sponsor ---