JATIMTIMES - Israel melepaskan serangan terhadap Iran yang menargetkan situs nuklir dan militernya pada Jumat (13/6/2025) waktu setempat. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi serangan itu kepada AFP.
"Israel melakukan serangan pendahuluan terhadap Iran," ungkap Katz.
Baca Juga : Tottenham Resmi Tunjuk Thomas Frank: Ini Alasan di Balik Ketertarikan Klub London
Militer Israel (IDF) mengaku serangan itu menargetkan fasilitas nuklir Iran. "Puluhan target di seluruh Iran yang terkait dengan program nuklir dan fasilitas militer lainnya diserang oleh Angkatan Udara Israel," demikian pernyataan itu.
Serangan Israel tersebut menewaskan komandan Korps Garda Revolusi Islam Hossein Salami.
"Mayor Jenderal Hossein Salami, Kepala Korps Garda Revolusi Islam tewas dalam serangan rezim Israel yang menyerang markas besar IRGC," tulis kantor berita lokal Tasnim sebagaimana dilansir AFP, Jumat (13/6/2025).
Selain komandan Korps Garda Revolusi Islam Hossein Salami, pemerintah Iran juga menjelaskan jika serangan Israel tersebut mengenai bangunan tempat tinggal di Teheran juga terkena serangan, menewaskan sejumlah warga sipil termasuk wanita dan anak-anak.
Mengenai serangan ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan operasi ini menyerang "jantung program pengayaan nuklir Iran". Serangan ini menyasar fasilitas atom di Natanz dan ilmuwan nuklir.
Netanyahu memastikan operasi ini akan "berlanjut selama beberapa hari yang diperlukan. Seorang pejabat keamanan Israel mengatakan Kepala Staf Iran Mohammad Bagheri "kemungkinan besar tersingkir".
Baca Juga : Ini Dugaan Penyebab Jatuhnya Air India 171 yang Tewaskan 241 Penumpang
Sementara itu Amerika Serikat (AS) mengaku tidak terlibat dalam serangan kali ini. "Kami tidak terlibat dalam serangan terhadap Iran dan prioritas utama kami adalah melindungi pasukan Amerika di kawasan (Timur Tengah),” ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dalam sebuah pernyataan, dilansir Al Jazeera , Jumat (13/6/2025).
Ia membenarkan bahwa Tel Aviv telah memberi tahu Pemerintah AS sebelumnya bahwa operasi militer ini dilakukan sebagai langkah "pencegahan" ( preemptive strike ). Sebab, lebih lanjutnya, Israel punya hak untuk "mempertahankan diri" dari ancaman Teheran.
“Israel memberi tahu kami bahwa mereka menganggap tindakan ini perlu demi menjaga wilayah mereka sendiri,” ucap Rubio.