JATIMTIMES — Aroma manis kacang hijau dan tepung panggang menyambut kedatangan puluhan mahasiswa Akuntansi Universitas Islam Blitar (Unisba) yang memasuki ruang produksi Bakpia Juwara Satoe, Rabu pagi, 28 Mei 2025. Bukan untuk berwisata kuliner semata, mereka datang membawa semangat belajar dan tekad untuk menyelami langsung denyut industri UMKM yang tumbuh di jantung pariwisata Yogyakarta.
Kunjungan edukatif ini diprakarsai oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Akuntansi (HMPA) dan menjadi bagian dari program pembelajaran luar kelas yang dirancang untuk memperluas wawasan mahasiswa di bidang kewirausahaan. Didampingi oleh tiga dosen pendamping, yakni Endah Masrunik, SE., MM., Henni Indarriyanti, S.E., M.Akun., dan Irvan Ali Mustofa, S.E., M.S.A., para mahasiswa menjalani pengalaman yang menghubungkan teori akuntansi dengan praktik nyata di lapangan.
Baca Juga : Pengentasan Kemiskinan dan Pengangguran Terbuka Jadi Fokus Utama Wali Kota Eri Cahyadi di HJKS Ke-732
Dalam kegiatan yang berlangsung selama satu hari itu, mahasiswa tak sekadar mendengarkan ceramah. Mereka langsung ikut terlibat dalam cooking class interaktif, mencicipi proses produksi bakpia dari awal hingga akhir. Mulai dari pengisian adonan kacang hijau ke dalam kulit tipis, hingga proses pemanggangan dan pengemasan, setiap tahap menjadi pelajaran tersendiri.
Endah Masrunik menyebut kegiatan ini sebagai bentuk konkret pembelajaran kontekstual. Menurutnya, ketika mahasiswa bisa melihat langsung bagaimana sebuah usaha kecil dikelola secara efisien, maka pemahaman mereka terhadap teori akuntansi akan menjadi lebih hidup. "Melalui kunjungan ini, kami ingin menanamkan bahwa akuntansi bukan hanya soal angka, tapi juga tentang strategi bisnis dan inovasi," ujar Endah di sela-sela kegiatan.
Mahasiswa juga mendapat pemaparan sejarah Bakpia Juwara Satoe yang bermula dari industri rumahan. Perusahaan ini perlahan berkembang menjadi salah satu produsen bakpia yang diperhitungkan di Yogyakarta, dengan produk utama berupa bakpia basah dan bakpia kering. Masa simpan menjadi salah satu pembeda, di mana bakpia basah bertahan selama lima hari di suhu ruang, sementara bakpia kering dapat disimpan hingga tiga bulan. Informasi ini menjadi pintu masuk untuk membahas manajemen stok, pengendalian kualitas, hingga efisiensi distribusi produk makanan.
"Mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana fleksibilitas produksi dijalankan," kata Henni Indarriyanti. Ia menambahkan bahwa skema produksi Bakpia Juwara Satoe disesuaikan dengan fluktuasi permintaan pasar, sebuah strategi penting bagi pelaku UMKM agar tetap adaptif.
Tak hanya bakpia, perusahaan juga memproduksi nastar, cookies, dan kue bulan. Diversifikasi produk ini memberi pelajaran penting tentang bagaimana sebuah UMKM mampu bertahan dan berkembang melalui perluasan lini usaha. Bagi Irvan Ali Mustofa, hal ini mencerminkan pentingnya inovasi dan keberanian mengambil risiko dalam dunia bisnis.
"Mahasiswa bisa belajar bahwa keberhasilan UMKM tidak lahir dari modal besar, melainkan dari konsistensi, adaptasi, dan kejelian melihat peluang," ujar Irvan.
Baca Juga : Tersedia 6 Koridor, Berikut Ini Rute dan Jadwal Lengkap Bus Trans Jatim
Kunjungan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tapi juga memantik semangat. Beberapa mahasiswa mengaku mendapatkan ide untuk memulai usaha sendiri setelah melihat langsung proses bisnis di lapangan. Ada pula yang mulai memahami bagaimana pencatatan keuangan dapat membantu UMKM mengelola keuangan lebih tertib dan efisien.
Di tengah tantangan ekonomi yang terus berubah, pendekatan pembelajaran seperti ini menjadi penting. Mahasiswa tidak cukup hanya duduk di kelas. Mereka perlu turun ke lapangan, mendengar langsung cerita para pelaku usaha, menyaksikan jatuh-bangun sebuah bisnis, dan memahami denyut nadi ekonomi lokal dari dekat.
Dari dapur bakpia itu, para mahasiswa pulang bukan hanya membawa kenangan tentang rasa manis camilan khas Jogja, tapi juga bekal wawasan yang tajam—bahwa menjadi akuntan di era kini tak cukup paham angka, tetapi juga harus memahami jiwa wirausaha.