JATIMTIMES - Kunjungan wisatawan ke Kota Batu sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 6.432.526 orang. Meski jumlah tersebut terus meningkat dibandingkan dua tahun sebelumnya, sektor pariwisata Kota Batu masih menghadapi pekerjaan rumah untuk membuat wisatawan tinggal lebih lama dan tidak sekadar datang untuk berwisata dalam sehari.
Dari data Dinas Pariwisata Kota Batu mencatat, jumlah kunjungan wisatawan pada periode Januari-Juli 2026 mencapai 6.432.526 orang. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025 dengan 6.011.370 kunjungan dan 2024 sebanyak 5.297.140 kunjungan.
Baca Juga : Serap 5.120 Tenaga Kerja hingga Juli, Pemkot Perkuat Akses Kerja hingga Sektor Investasi
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Onny Ardianto mengatakan pertumbuhan tersebut menjadi sinyal positif bagi sektor pariwisata di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah.
Menurut dia, keterbatasan anggaran tidak lantas menghentikan upaya promosi pariwisata. Strategi promosi justru diarahkan agar lebih tepat sasaran dengan memanfaatkan kanal digital, memperkuat kolaborasi, serta melibatkan masyarakat dan komunitas.
“Angka ini menunjukkan pariwisata Kota Batu tetap tumbuh di tengah efisiensi anggaran melalui promosi digital, kolaborasi dengan komunitas, dan pengelolaan anggaran yang lebih efektif,” kata Onny, Sabtu (29/8/2026).
Ia menyebut peningkatan kunjungan paling terlihat pada Mei dan Juni 2026. Momentum libur sekolah menjadi salah satu faktor yang mendorong wisata keluarga berkunjung ke berbagai destinasi di Kota Batu.
Meski demikian, Onny mengingatkan bahwa data kunjungan Juli 2026 masih bersifat sementara karena masih dalam proses verifikasi. Pemkot Batu juga akan mengarahkan strategi promosi ke pendekatan digital dan kolaborasi lintas sektor untuk menjaga pertumbuhan kunjungan.
“Ke depan, promosi akan terus diarahkan pada pendekatan digital, kolaborasi lintas sektor, serta pengembangan destinasi berbasis masyarakat. Harapannya, pertumbuhan kunjungan tetap terjaga meskipun anggaran harus dikelola lebih efisien,” tambahnya.
Pertumbuhan jumlah wisatawan tersebut dinilai tidak hanya memberikan dampak terhadap destinasi wisata, tetapi juga terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Pelaku UMKM di sektor kuliner, oleh-oleh, kerajinan hingga jasa pariwisata turut merasakan perputaran ekonomi dari kedatangan wisatawan.
“Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula aktivitas ekonomi yang terjadi di Kota Batu. Karena itu, kenaikan kunjungan harus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, bukan hanya terlihat dari jumlah wisatawannya,” ucapnya.
Namun, tingginya angka kunjungan belum sepenuhnya berbanding lurus dengan lama wisatawan berada di Kota Batu. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi mengatakan kenaikan jumlah wisatawan memang turut mendorong tingkat hunian hotel, khususnya saat periode libur sekolah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat penghunian kamar (TPK) hotel di Kota Batu pada Juni 2026 mencapai 29,40 persen. Angka tersebut naik 1,43 poin dibandingkan Mei 2026 yang berada di level 27,97 persen.
Baca Juga : Gresik Kirim Bantuan Rp250 Juta untuk Korban Gempa NTT
“Kenaikan okupansi pada Juni memang logis karena bertepatan dengan libur sekolah. Biasanya mulai minggu kedua hingga ketiga Juni, wisatawan keluarga mulai berdatangan dan menginap di Kota Batu,” kata Sujud.
Namun, persoalan lain muncul pada durasi tinggal. Data BPS menunjukkan rata-rata lama menginap tamu (RLMT) pada Juni 2026 hanya 1,04 malam, turun 0,02 poin dibandingkan Mei yang mencapai 1,06 malam.
Sujud mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah kunjungan belum otomatis membuat wisatawan memperpanjang masa tinggalnya.
“Wisatawan memang bertambah, tetapi durasi tinggal belum kembali seperti sebelum pandemi. Sekarang cukup banyak wisatawan yang memilih one day trip, datang pagi, berwisata, kemudian malam kembali ke kota asal,” jelasnya.
Menurut dia, kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih turut menjadi salah satu pertimbangan wisatawan dalam menentukan lama perjalanan.
“Daya beli masyarakat juga belum sepenuhnya pulih. Karena itu, lama tinggal wisatawan belum seperti dulu yang bisa mencapai dua sampai tiga hari,” ungkapnya.
Karena itu, tantangan pariwisata Kota Batu ke depan bukan sekadar mengejar peningkatan jumlah wisatawan, tetapi bagaimana mengubah pola perjalanan wisatawan agar lebih banyak menginap dan membelanjakan uangnya di Kota Batu.
“Tantangan utama sekarang bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi bagaimana membuat mereka tidak sekadar datang sehari. Kalau masa tinggal bisa diperpanjang, dampak ekonominya bagi hotel, restoran, UMKM dan pelaku usaha pariwisata tentu akan semakin besar,” tutup Sujud.