free web hit counter
Promo Tokopedia
Jatim Times Network
Beranda
Agama

Sebelum Disebut Jumat, Hari Ini Pernah Bernama ‘Arubah

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

28 - Aug - 2026, 11:34

Loading Placeholder
Ilustrasi seorang Muslim yang tengah melaksanakan ibadah di hari Jumat (ist)

JATIMTIMES - Hari Jumat yang kini dikenal umat Islam sebagai sayyidul ayyam atau pemimpin hari-hari ternyata memiliki sejarah penamaan yang cukup panjang. Sebelum Islam datang, masyarakat Arab menyebut hari yang kini dikenal sebagai Jumat dengan nama ‘Arubah.

Penamaan hari pada masa Arab Jahiliyah memang berbeda dengan yang dikenal umat Islam sekarang. Ketika itu, tujuh hari dalam sepekan disebut Syiyar untuk Sabtu, Awwal untuk Ahad, Ahwan untuk Senin, Jubar untuk Selasa, Dubar untuk Rabu, Mu’nis untuk Kamis, dan ‘Arubah untuk Jumat.

Baca Juga : Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Jangan Hanya Merayakan, Sudahkah Kita Teladani Akhlak Rasulullah?

Kedatangan Islam kemudian membawa perubahan dalam penamaan sekaligus memberikan makna baru terhadap hari tersebut. ‘Arubah dikenal sebagai Jumat, sebuah hari yang kemudian memiliki kedudukan khusus dalam kehidupan umat Islam.

Al-Qur’an secara khusus menyebut hari Jumat dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 9. Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Jumat bukan sekadar penanda waktu dalam satu pekan. Ada kewajiban keagamaan yang secara khusus dikaitkan dengan hari tersebut, terutama pelaksanaan salat Jumat bagi mereka yang memenuhi ketentuannya.

Mengutip NU Online, Ibnu Abdul Bar menjelaskan adanya perbedaan karakter antara ‘Arubah pada masa Jahiliyah dan Jumat setelah Islam. Pada masa sebelumnya, ‘Arubah menjadi momentum masyarakat Arab untuk menunjukkan kebanggaan, kepongahan, berhias dan bergagah-gagahan.

Islam kemudian menggeser orientasi tersebut. Jumat diarahkan menjadi momentum untuk meningkatkan keimanan, mendekatkan diri kepada Allah, memperkuat persatuan dan mempererat silaturahim.

Asal-usul penyebutan Jumat sendiri memiliki sejumlah pendapat. Sebagian riwayat mengaitkannya dengan pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa. Ada pula pendapat yang menyebutnya berkaitan dengan penyempurnaan penciptaan Nabi Adam. Pendapat lainnya menghubungkan nama Jumat dengan berkumpulnya umat Islam untuk melaksanakan salat Jumat.

Namun, terdapat keterangan hadis yang memberikan penjelasan mengenai sejumlah peristiwa yang berkaitan dengan hari Jumat. Dalam riwayat Ahmad, Rasulullah SAW menjelaskan:

“Karena pada hari itu, tanah liat ayah kalian, Adam, dicetak. Pada hari itu, kiamat dan kebangkitan terjadi. Pada hari itu pula, kehancuran melanda. Di akhir tiga waktu pada hari itu, ada satu waktu, barang siapa yang berdoa kepada Allah pada waktu itu pasti doanya dikabulkan.”

Hadis tersebut disebut dalam sejumlah kitab, di antaranya Nailul Autar dan Fathul Bari jilid 2 halaman 113.

Sejarah nama Jumat juga dikaitkan dengan Ka’ab bin Lu’ai. Dalam tulisan Ustadz Halimi Zuhdy, Dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Malang, di NU Online, disebutkan salah satu pendapat bahwa Ka’ab bin Lu’ai merupakan orang yang pertama kali memberikan nama Jumat.

Baca Juga : Kalender Jawa Jumat Pahing 28 Agustus 2026: Rezeki akan Lancar

Pada masa itu, orang-orang Quraisy disebut berkumpul pada hari tersebut. Ka’ab kemudian menyampaikan khutbah yang berisi pesan mengenai ketakwaan.

Menurut Halimi Zuhdy, Jumat tidak semata-mata sebuah nama untuk satu hari dalam sepekan. Di dalamnya terdapat pesan tentang penyatuan umat, penguatan visi dan misi, sekaligus mempererat silaturahim.

“Hari Jumat tidak sekadar nama, ia adalah waktu penyatuan umat, penguatan visi dan misi,” kata Halimi Zuhdy.

Ia menjelaskan, suasana persatuan tersebut salah satunya tercermin ketika khutbah Jumat berlangsung. Jamaah dituntut untuk mendengarkan dan tidak berbicara, sehingga pesan keagamaan disampaikan dan diterima dalam satu ruang bersama.

“Walau hari Jumat mengganti hari Arubah, namun karena kadar keimanan dan ketaqwaan itu berbeda, maka keangkuhan tak akan pernah terkikis habis. Hasad, dengki, pamer, sombong akan selalu hadir, sepanjang sejarah manusia masih tercatat di muka bumi,” lanjutnya.

Pesan tersebut membuat perubahan dari ‘Arubah menjadi Jumat memiliki makna yang lebih luas. Pergantian nama tidak otomatis menghilangkan sifat buruk manusia. Justru Jumat menjadi momentum untuk terus mengingatkan manusia agar tidak terjebak pada kesombongan, iri hati, pamer dan sikap berlebihan terhadap kehidupan dunia.

Karena itu, keistimewaan Jumat tidak hanya terletak pada statusnya sebagai sayyidul ayyam. Hari tersebut juga menjadi ruang bagi umat Islam untuk kembali menguatkan hubungan dengan Allah, meninggalkan aktivitas duniawi sejenak ketika panggilan salat Jumat telah dikumandangkan, serta membangun kembali hubungan sosial melalui silaturahim dan persaudaraan.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya

Agama

Artikel terkait di Agama

--- Iklan Sponsor ---