JATIMTIMES - Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang terus berkomitmen memperkuat pelayanan yang inklusif dengan memberikan pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) bagi petugas layanan.
Dalam pelaksanaan pelatihan Bisindo tersebut, Dinsos-P3AP2KB Kota Malang menghadirkan Direktur Gedong Ijen Education Creative Center sekaligus Ketua Yayasan Arunika Perempuan Nusantara Dewi Utari, perwakilan dari Forum Keluarga Disabilitas dan Posyandu Disabilitas se-Kota Malang, serta mitra Yayasan Arunika Perempuan Nusantara dari Fakultas Perikanan dam Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya dan Yayasan Pejuang Mimpi.
Baca Juga : Paskibraka Jember Dikukuhkan, Ini Pesan Bupati Fawait
Selain itu untuk memaksimalkan materi yang disampaikan, Dinsos-P3AP2KB Kota Malang juga melibatkan beberapa narasumber utama dari Islamic Disability Center. Di antaranya Sania Khoridatur Rohmi, Putri Nur'aini dan Nastiti Mufida.
Kepala Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Muhamad Sailendra melalui Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak Atiyatul Husna menyampaikan, bahwa pelatihan Bisindo untuk para petugas layanan merupakan salah satu komitmen dari Dinsos-P3AP2KB Kota Malang untuk memberikan layanan perlindungan perempuan dan anak secara cepat, responsif, serta mampu menjangkau masyarakat dengan beragam kondisi.
Perempuan yang akrab disapa Iik itu mengatakan, kemampuan berkomunikasi dengan penyandang disabilitas, khususnya penyandang disabilitas tuli, merupakan bagian penting dalam membangun pelayanan yang setara.
Menurutnya, persoalan komunikasi jangan sampai justru menjadi penghalang bagi penyandang disabilitas untuk menyampaikan persoalan, memperoleh informasi maupun mendapatkan hak atas pelayanan dan perlindungan.
"Jangan sampai keterbatasan komunikasi justru menjadi hambatan bagi seseorang untuk memperoleh informasi, menyampaikan permasalahan, ataupun mendapatkan hak atas pelayanan dan perlindungan yang seharusnya mereka terima," ungkap Iik, Kamis (13/8/2026).
Pihaknya menjelaskan, pelatihan Bisindo tidak hanya diarahkan agar peserta mampu memahami bahasa isyarat secara teknis. Namun lebih dari itu, para peserta juga dikenalkan dengan budaya tuli dan etika berkomunikasi sehingga interaksi dengan penyandang disabilitas dapat berlangsung secara lebih tepat serta menghargai posisi para penyandang disabilitas sebagai warga yang memiliki hak yang sama.
"Kami berharap, ilmu yang diperoleh dapat diterapkan di lingkungan sekitar. Karena kemampuan bahasa isyarat tidak cukup hanya dipahami secara teori, tetapi membutuhkan praktik dan pembiasaan," tutur Iik.
Lebih lanjut, penguatan layanan yang inklusif dinilai semakin penting di tengah tingginya kebutuhan terhadap layanan perlindungan perempuan dan anak di Kota Malang. Berdasarkan data dari UPT PPA Kota Malang, sebanyak 120 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terjadi pada tahun 2024.
Baca Juga : Makam Bung Karno Resmi Buka 24 Jam, Wali Kota Blitar: Dekatkan Masyarakat dengan Sang Proklamator
Kemudian angkanya meningkat menjadi 185 kasus di tahun 2025. Lalu, hingga 30 Juli 2026, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terlaporkan ke UPT PPA sudah mencapai 100 kasus.
Menurutnya, data tersebut menjadi salah satu alasan kapasitas petugas, lembaga dan jejaring layanan perlu terus diperkuat. Ia menyebut, layanan yang berkualitas, harus mampu menjangkau masyarakat tanpa terkecuali, termasuk penyandang disabilitas.
Sementara itu, pihaknya juga terus mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama memberikan pelayanan yang inklusif. Menurutnya, kolaborasi lintas lembaga dinilai penting karena pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam membangun sistem perlindungan yang inklusif.
"Dibutuhkan keterlibatan berbagai lembaga, komunitas, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun layanan perlindungan yang semakin kuat dan inklusif," pungkas Iik. (ADV)