JATIMTIMES - Sekjend DPP PDIP Hasto Kristiyanto bersama dengan mantan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini berkunjung ke rumah Pahlawan Nasional Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto yang ada di kawasan Peneleh, Kota Surabaya, Senin (10/8).
Di sana keduanya ditemani oleh Pengamat Sejarah Surabaya, Kuncarsono Prasetyo. Dalam kesempatan tersebut Kuncar mengajak keduanya keliling ke ruang-ruang kamar yang dulunya pernah ditempati HOS Tjokroaminoto dan juga Presiden Pertama, Ir. Soekarno.
Baca Juga : Jelang 17 Agustus, MUI Ingatkan Lomba Berhadiah: Uang Pendaftaran Bisa Masuk Judi
Dalam kesempatan ini Hasto dan Risma kemudian mengajak santai para awak media untuk berdiskusi. Termasuk juga tentang seputaran isu aktual pada bulan Agustus ini.
Hasto mengajak kepada setiap komponen bangsa untuk menjaga kesakralan pada bulan Agustus ini. Karena pada bulan Agustus lah terjadinya kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945.
"Maka bulan Agustus kalau kemarin ada isu-isu demo, ya sebaiknya janganlah di situ. Lebih baik kita gunakan bulan yang Agustus ini yang dipersiapkan dengan begitu lama," ujarnya.
Bulan Agustus Hasto lebih memilih untuk melakukan kegiatan yang positif. "Menjadi bulan untuk membangkitkan spirit kita, menggelorakan kembali tentang cita-cita kemerdekaan yang diperoleh dengan tidak mudah melalui suatu perjuangan yang panjang," lanjutnya.
Lebih khusus di Surabaya beber Hasto yang merupakan tempat terjadinya pertempuran 10 November dan kemudian disebut sebagai tempat Kota Pahlawan.
Baca Juga : Bukan Hanya Indonesia Raya, Ini 12 Lagu Wajib Nasional untuk Upacara 17 Agustus
"Dan banyak dari antara para pejuang—kalau Bu Mega itu menyebut nisan-nisan yang tidak bernama. Di sini juga banyak nisan-nisan yang tidak bernama, peristiwa 10 November 1945 misalnya," tegas Hasto.
Masih menurut Hasto cita-cita para pejuang itu adalah terciptanya sebuah keadilan, Indonesia tanpa ada penjajahan. "Indonesia yang seharusnya tidak boleh ada kemiskinan. Mengapa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara," cetus Hasto kembali.
Hasto berharap bulan Agustus ini menjadi bulan yang membangkitkan nasionalisme. "Semua kita gali kembali sehingga dalam bulan Agustus ini kita menemukan suatu cita-cita. Nilai-nilai perjuangan yang kemudian kita relevansikan dengan sekarang," imbuhnya.