free web hit counter
Promo Tokopedia
Jatim Times Network
Beranda
Politik

Menag Nasaruddin Umar Masuk Bursa Ketum PBNU, Ini Sederet Modal yang Dimilikinya

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

10 - Aug - 2026, 15:18

Loading Placeholder
Menteri Agama (Menag) Prof Dr KH Nasaruddin Umar. (Foto: Instagram)

JATIMTIMES - Nama Menteri Agama (Menag) Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA mencuat dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 NU. Nasaruddin dinilai memiliki sejumlah modal kuat, mulai dari pengalaman di struktur NU, rekam jejak keulamaan, akademik, hingga pengalaman sebagai pejabat negara.

Nama Nasaruddin salah satunya disebut Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Menurut Gus Ipul, Nasaruddin memiliki pengalaman yang cukup lengkap untuk memimpin organisasi yang menaungi jutaan warga Nahdliyin tersebut.

Baca Juga : Viral Diduga Runner Up Raka Raki Jatim 2026 Minta Pacar Aborsi, Pemprov Buka Suara

"Prof Nasaruddin Umar pernah menjadi Katib Aam pada era KH Hasyim Muzadi. Kalau melihat statistik dan pengalaman yang ada selama ini, beliau sangat berpotensi," kata Gus Ipul.

Nasaruddin memang bukan nama baru di lingkungan NU. Ia pernah dipercaya menduduki posisi Katib Aam PBNU periode 2004-2009 ketika KH Hasyim Muzadi menjadi Ketua Umum PBNU.

Posisi tersebut menjadi salah satu modal utama karena dalam sejarah kepemimpinan PBNU, jabatan Katib Aam kerap diisi tokoh yang kemudian memiliki peran besar dalam organisasi.

Gus Ipul menyebut dalam sekitar empat dekade terakhir, sejumlah Ketua Umum PBNU sebelumnya pernah menduduki posisi Katib Aam.

"Kalau ditarik dalam sekitar 40 tahun terakhir, tiga Ketua Umum PBNU sebelumnya pernah menjadi Katib Aam. Itu menunjukkan posisi tersebut memiliki rekam jejak yang cukup kuat dalam melahirkan pemimpin NU," ujarnya.

Rekam Jejak Nasaruddin Umar di NU

Nasaruddin Umar merupakan ulama dan akademisi yang telah lama berkecimpung dalam persoalan keagamaan dan kebangsaan. Kiprahnya di NU tidak hanya berada di tingkat lokal, tetapi juga pernah masuk dalam jajaran kepengurusan PBNU.

Selain pernah menjadi Katib Aam PBNU, Nasaruddin juga tercatat sebagai salah satu Rais PBNU masa khidmat 2022-2027.

Pengalaman tersebut membuat Nasaruddin memiliki pemahaman mengenai tata kelola organisasi sekaligus persoalan keumatan yang menjadi salah satu fokus utama NU.

Di luar NU, Nasaruddin juga memiliki pengalaman panjang dalam dunia pendidikan Islam. Ia merupakan akademisi dan pernah dipercaya memimpin Universitas PTIQ Jakarta.

Latar belakang akademiknya juga cukup kuat. Nasaruddin menyelesaikan pendidikan sarjana hingga doktor di bidang keislaman. Ia kemudian aktif menghasilkan berbagai karya ilmiah mengenai Islam, Al-Qur'an, gender, dan hubungan antaragama. Salah satu karya yang dikenal adalah Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur'an.

Modal lain yang dimiliki Nasaruddin adalah pengalaman sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal. Ia dipercaya menduduki posisi tersebut sejak 2016 hingga 2023. Jabatan ini membuat Nasaruddin tidak hanya dikenal di lingkungan pesantren dan organisasi Islam, tetapi juga memiliki jaringan luas dalam kehidupan keagamaan nasional.

Nasaruddin juga dikenal aktif dalam dialog lintas agama. Ia terlibat dalam berbagai forum yang membahas toleransi, kerukunan umat beragama, perdamaian, dan hubungan antaragama. 

Pengalaman tersebut menjadi salah satu kekuatan Nasaruddin karena NU tidak hanya bergerak dalam persoalan keagamaan internal, tetapi juga memiliki perhatian besar terhadap kebangsaan dan kehidupan masyarakat yang majemuk.

Selain memiliki rekam jejak panjang di NU, Nasaruddin Umar kini mempunyai pengalaman sebagai pejabat negara. Ia dipercaya menjadi Menteri Agama dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sejak 2024.

Posisi tersebut membuat Nasaruddin berhadapan langsung dengan berbagai persoalan strategis, mulai dari pelayanan kehidupan beragama, pendidikan keagamaan, kerukunan umat beragama, hingga hubungan pemerintah dengan organisasi-organisasi keagamaan.

Kinerjanya sebagai Menteri Agama juga menjadi salah satu modal yang membuat namanya diperhitungkan. Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion (IPO), Nasaruddin Umar masuk dalam jajaran menteri dengan kinerja yang dinilai baik.

Dalam survei tersebut, Nasaruddin memperoleh angka 11 persen dalam penilaian kinerja menteri. Angka itu menempatkannya di bawah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Hasil tersebut menunjukkan Nasaruddin memiliki tingkat pengenalan dan penilaian publik yang cukup kuat sebagai anggota Kabinet Merah Putih. Sebelumnya, Kementerian Agama juga mencatat Nasaruddin masuk dalam jajaran 10 menteri dengan kinerja terbaik berdasarkan survei IPO. 

Posisi tersebut sekaligus memberikan pengalaman birokrasi dan pemerintahan yang tidak semua tokoh NU miliki.

Baca Juga : Hadirkan For Revenge x Tepe hingga The Changcuters, Paradicfest Siap Guncang Malang September Ini

Dengan demikian, rekam jejak Nasaruddin mencakup beberapa bidang sekaligus, yakni ulama, pengurus NU, akademisi, pemimpin lembaga keagamaan, tokoh lintas agama, dan pejabat negara.

Jauh sebelum menjadi Menteri Agama, Nasaruddin juga pernah menduduki sejumlah posisi strategis di pemerintahan. Ia pernah menjabat Wakil Menteri Agama periode 2011-2014 dan sebelumnya dipercaya sebagai Direktur Jenderal di lingkungan Departemen Agama.

Pengalaman tersebut memperkuat pemahamannya terhadap birokrasi pemerintahan sekaligus hubungan negara dengan organisasi keagamaan.

Nasaruddin juga pernah masuk dalam berbagai forum internasional terkait dialog antaragama. Ia dikenal membawa pendekatan Islam Indonesia yang moderat dan menekankan pentingnya kehidupan beragama yang damai.

Nasaruddin juga memiliki basis kuat di dunia pesantren. Ia dipercaya sebagai pimpinan Pondok Pesantren As'adiyah, salah satu lembaga pendidikan Islam besar yang memiliki jaringan luas di Indonesia.

Pesantren As'adiyah sendiri memiliki ratusan cabang. Posisi tersebut membuat Nasaruddin memiliki hubungan dengan jaringan pesantren dan ulama, khususnya di Sulawesi Selatan dan wilayah lain.

Ia juga terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Pondok Pesantren As'adiyah melalui Muktamar As'adiyah XV di Sengkang pada 2022.

Gus Ipul mengatakan nama Nasaruddin Umar mulai banyak disebut ketika dirinya berkeliling ke sejumlah daerah.

"Kalau saya berkeliling ke beberapa daerah, memang nama Prof Nasar cukup banyak disebut. Itu yang saya dengar dari berbagai kalangan. Selebihnya tentu akan ditentukan oleh dinamika yang berkembang menjelang muktamar," tuturnya.

Dukungan terhadap Nasaruddin juga disebut muncul dari sejumlah PWNU dan PCNU di berbagai wilayah di Indonesia. Nama-nama daerah yang disebut antara lain dari PWNU Sulawesi Barat beserta seluruh PCNU di wilayahnya (Mamasa, Pasangkayu, Polewali Mandar, Majene, Mamuju Tengah, Mamuju); PWNU dan PCNU se-Sulawesi Selatan (Bantaeng, Jeneponto, Bone, Bulukumba, Enrekang, Palopo, Luwu Timur, Luwu Utara, Luwu, Maros, Pangkajene dan Kepulauan, Pinrang, Sinjai, Soppeng, Tana Toraja, Toraja Utara, Wajo); PCNU di Sumatra Barat (Kota Payakumbuh, Padang Pariaman, Lima Puluh Kota, Dharmasraya, Solok Selatan); PCNU di Kalimantan Utara (Tana Tidung, Tarakan, Malinau); serta PCNU di Sulawesi Tenggara (Wakatobi, Konawe Utara, Kolaka, Konawe, Buton Selatan, Muna Barat, Konawe Selatan, Kolaka Timur).

Tradisi Ketua Umum PBNU Merangkap Jabatan Negara

Potensi Nasaruddin menjadi Ketua Umum PBNU sekaligus tetap memiliki jabatan publik juga bukan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam sejarah NU.

Sejumlah tokoh NU sebelumnya pernah memegang posisi penting di PBNU sekaligus menjalankan amanah di pemerintahan.

Di antaranya KH Masjkur, yang pernah menjadi Ketua Umum PBNU dan Menteri Agama. Ada pula KH Abdul Wahid Hasyim, yang memimpin NU sekaligus dipercaya sebagai Menteri Agama.

Nama KH Idham Chalid juga tercatat sebagai Ketua Umum PBNU dalam periode panjang sekaligus menduduki berbagai jabatan negara.

Sementara KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merupakan Ketua Umum PBNU sebelum kemudian terpilih menjadi Presiden RI.

Karena itu, latar belakang Nasaruddin sebagai Menteri Agama tidak serta-merta menjadi hal yang sama sekali asing dalam sejarah kepemimpinan NU.

Sebagai informasi, Muktamar ke-35 NU sendiri dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026. Forum tersebut nantinya menjadi momentum penentuan kepemimpinan PBNU untuk periode berikutnya.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Politik

Artikel terkait di Politik

--- Iklan Sponsor ---