JATIMTIMES - Suasana perayaan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa berbeda di Kelurahan Botoran, Tulungagung. Warga tidak hanya menggelar perlombaan di darat. Mereka memanfaatkan aliran Sungai Ngrowo sebagai arena lomba dayung antar-RT.
Berdasarkan keterangan akun Instagram resmi Prokopim Tulungagung pada Senin 10 Agustus 2026, Plt Bupati Tulungagung H Ahmad Baharudin SM MM turut memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menyampaikan terima kasih kepada panitia dan masyarakat yang telah bekerja bersama untuk menyukseskan acara.
Baca Juga : 4 Dosa yang Membuat Salat Tak Diterima Selama 40 Hari
"Bisa terlaksanakan kegiatan hari ini dalam rangka HUT RI. Saya ucapkan terima kasih semuanya, panitia yang sudah menyiapkan seluruh kebutuhan pelaksanaan pada hari ini," ungkapnya.
Plt Bupati Tulungagung juga menjelaskan ajang ini sebagai tempat untuk bersilaturahmi, tempat untuk berkomunikasi, sehingga diharapkan bisa menciptakan lingkungan yang rukun, lingkungan yang damai, serta Tulungagung kondusif.
"Akhirnya kita bisa melaksanakan kegiatan-kegiatan kita dengan baik dan lancar," lanjut Ahmad Baharudin.
Pemkab Tulungagung juga menyatakan siap menindaklanjuti aspirasi masyarakat terkait kebutuhan armada perahu dayung. Pemerintah daerah akan berkoordinasi dengan cabang olahraga (cabor) dayung dan KONI Tulungagung. Langkah tersebut akan dilakukan dengan tetap memperhatikan regulasi yang berlaku.
Lomba tersebut telah berlangsung pada Sabtu hingga Minggu, 8–9 Agustus 2026. Kegiatan dipusatkan di kawasan Pinka Botoran, tepatnya di area sungai yang berada di belakang Pasar Wage.
Berdasarkan pantauan pada Minggu siang (9 Agustus 2026), sejak pagi, lokasi kegiatan dipadati warga dan peserta yang ingin mengikuti maupun menyaksikan perlombaan. Kegiatan ini digelar oleh Karang Taruna Botoran bersama sejumlah pihak yang mendukung pelaksanaannya.
Sebanyak 43 tim ambil bagian dalam lomba tersebut. Mayoritas peserta merupakan warga Kelurahan Botoran. Beberapa tim lainnya berasal dari wilayah Kelurahan Kenayan yang diundang untuk ikut meramaikan kompetisi.
Setiap tim terdiri atas lima orang. Mereka menggunakan dua perahu yang telah disiapkan panitia untuk mengikuti pertandingan. Dalam ketentuan perlombaan, hanya dua peserta dari setiap tim yang memperoleh voucher.
Lomba dayung ini bukan sekadar pertandingan untuk mencari tim tercepat. Sejak awal, kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang bagi warga untuk berkumpul dan mempererat hubungan antar masyarakat.
Ide menggelar lomba dayung muncul dari keinginan warga untuk menghadirkan perlombaan yang berbeda dalam memperingati kemerdekaan. Gagasan sederhana itu kemudian mendapat dukungan dari teman-teman warga, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), serta pihak kelurahan.
Persiapan juga dilakukan secara bersama-sama. Salah satu perhatian utama panitia adalah kondisi Sungai Ngrowo yang menjadi lokasi perlombaan. Warga bersama pihak kelurahan melakukan pembersihan aliran sungai dari wilayah Botoran Barat hingga Botoran Timur.
Baca Juga : Angkutan Pelajar Jadi Harapan Baru Angkot Kota Malang, Kapan Terealisasi?
Salah satu pengunjung yang menyaksikan perlombaan tersebut, Tama (24) pada Minggu menjelaskan tidak menyangkan bahwa sungai yang biasanya terlihat biasa saja ternyata bisa menjadi pusat keramaian.
"Saya sering lewat sungai sini, digunakan untuk kehidupan sehari-hari warga, tapi ada lomba dayung menjadikan sungai ramai, dipadati warga," jelasnya.
Jelang HUT RI ke-81 ini, kawasan tersebut menjadi tempat berkumpul, bersosialisasi, sekaligus merayakan kemerdekaan.
Berdasarkan keterangan panitia, sistem perlombaan diawali dengan babak kualifikasi. Setiap tim berusaha mencatatkan waktu terbaik untuk menentukan posisi mereka. Tim yang berhasil lolos kemudian melanjutkan pertandingan dengan sistem gugur.
Babak lanjutan digelar pada siang hari. Persaingan pun semakin menarik. Warga yang berada di sekitar lokasi turut memberikan dukungan kepada tim yang bertanding.
Bagi panitia, pemilihan lomba dayung bukan tanpa alasan. Mereka menilai perlombaan di atas sungai dapat menghadirkan suasana kompetisi yang berbeda. Persaingan tetap berlangsung, tetapi interaksi antar warga terasa lebih kondusif dan aman.
Selain menjadi hiburan, kegiatan ini juga membawa dampak bagi perekonomian masyarakat. Sejumlah pelaku UMKM lokal ikut meramaikan kegiatan dengan membuka bazar di sekitar lokasi. Warga yang datang dapat menikmati berbagai produk dan makanan pelaku usaha lokal.
Kemeriahan semakin lengkap dengan berbagai kegiatan pendukung. Panggung seni dan pertunjukan barongsai turut menjadi bagian dari rangkaian acara. Kehadiran hiburan tersebut membuat kawasan Pinka Botoran semakin ramai.
Kehadiran lomba dayung ini sekaligus menunjukkan bahwa Sungai Ngrowo memiliki potensi untuk menjadi ruang kegiatan masyarakat. Antusiasme 43 tim menjadi bukti bahwa olahraga dayung memiliki peminat di tengah masyarakat.