JATIMTIMES - Maraknya karnaval HUT Kemerdekaan RI yang mengandalkan sound horeg kembali memunculkan polemik hingga saat ini. Di tengah klaim sebagai bagian dari pelestarian budaya, penggunaan sound berdaya tinggi justru dinilai berpotensi menggeser makna utama perayaan kemerdekaan dari ruang edukasi dan kebudayaan menjadi sekadar hiburan.
Budayawan Kota Malang, Isa Wahyudi menilai, peringatan 17 Agustus semestinya menjadi momentum untuk membangkitkan semangat kebangsaan, patriotisme, dan kecintaan terhadap budaya Indonesia. Nilai-nilai itulah yang seharusnya lebih ditonjolkan dalam setiap gelaran karnaval.
Baca Juga : Akademisi Unmuh Jember Sebut Program Homecare Pemkab Wujud Keadilan Sosial Akses Kesehatan
Menurut dia, masyarakat memang membutuhkan hiburan di tengah berbagai tantangan ekonomi, sosial, dan budaya. Namun, hiburan tidak boleh menghilangkan ruh perayaan kemerdekaan yang diwariskan para pejuang bangsa.
"Esensi Agustusan bukanlah adu keras suara, melainkan adu kreativitas, inovasi, dan kualitas karya budaya yang mampu menginspirasi masyarakat," ujar Ki Demang, sapaan akrabnya.
Ia menilai langkah Pemerintah Kota Malang yang mengarahkan karnaval lebih menonjolkan pawai budaya dan penampilan sejarah merupakan upaya mengembalikan makna perayaan kemerdekaan. Dalam konteks itu, pembatasan penggunaan sound horeg dinilai bukan sekadar persoalan teknis, melainkan bagian dari menjaga identitas peringatan HUT RI.
Ki Demang mengingatkan, pelestarian budaya tidak bisa diukur dari seberapa keras suara yang dihasilkan dalam sebuah karnaval. Budaya justru hidup melalui nilai, pesan, kreativitas, dan keterlibatan masyarakat dalam menampilkan jati diri bangsa.
Karena itu, ia mendorong transformasi konsep karnaval. Menurut dia, panggung Agustusan lebih tepat diisi dengan penampilan seni tradisi, keberagaman budaya Nusantara, kisah heroisme para pejuang, hingga kreasi komunitas yang mengedepankan edukasi sekaligus hiburan.
Baca Juga : Keunggulan MTsN 1 Kota Malang Jadi Magnet, MTsN 2 Kota Palu Datang Belajar Tata Kelola dan Inovasi Madrasah
"Yang lebih penting bukan sekadar melarang sound horeg, tetapi mendorong lahirnya pertunjukan yang lebih kreatif, inovatif, edukatif, dan tetap menghibur tanpa kehilangan nilai sejarah serta kebinekaan," tegasnya.
Ia berharap peringatan kemerdekaan tidak kehilangan arah akibat tren hiburan sesaat. Agustusan harus tetap menjadi ruang untuk menumbuhkan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia sekaligus memperkuat persatuan melalui kebudayaan.
Dengan demikian, karnaval tidak hanya menjadi tontonan tahunan, tetapi juga menjadi media yang mewariskan semangat perjuangan kepada generasi muda melalui karya budaya yang bermakna.