JATIMTIMES – Dalam ajaran Islam, bumi bukan sekadar tempat manusia berpijak dan menjalani kehidupan. Al-Qur'an dan sejumlah riwayat ulama menggambarkan bahwa bumi memiliki peran sebagai saksi atas setiap amal yang dilakukan manusia, bahkan disebut dapat "menangisi" mereka.
Pemahaman ini berangkat dari penjelasan para ulama mengenai firman Allah SWT dalam Surah Ad-Dukhan ayat 29: "Fa maa bakat 'alaihimus samaa'u wal ardhu wa maa kaanuu munzhariin."
Baca Juga : Benarkah Hujan Bisa Dipanggil? Ini Cara Memohon Hujan dari Salat Istisqa hingga Teknologi Modifikasi Cuaca
Artinya: "Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi penangguhan." (QS Ad-Dukhan: 29).
Ayat tersebut menjadi dasar bahwa langit dan bumi memiliki keterkaitan dengan amal manusia. Sejumlah ulama menjelaskan, ada manusia yang kepergiannya tidak disesali oleh bumi, namun ada pula yang justru dirindukan karena ketaatannya kepada Allah SWT.
Dalam kitab Hilyat al-Auliya' wa Thabaqat al-AAshfiya, Daud bin Qais meriwayatkan perkataan Ibnu Ka'ab yang menyebut bahwa bumi menangis karena dua golongan manusia.
Pertama, bumi menangisi orang yang selama hidupnya mengisinya dengan amal saleh, ibadah, serta ketaatan kepada Allah. Kedua, bumi juga "menangis" karena manusia yang terus melakukan kemaksiatan di atasnya hingga membebaninya dengan berbagai dosa.
Pandangan serupa dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir melalui riwayat Mujahid. Ia mengatakan bahwa setiap mukmin yang meninggal akan ditangisi oleh langit dan bumi selama empat puluh pagi.
Ketika ditanya bagaimana mungkin bumi dapat menangis, Mujahid menjawab bahwa tidak ada alasan untuk merasa heran. Menurutnya, bumi layak bersedih atas seorang hamba yang dahulu memakmurkannya dengan rukuk dan sujud. Demikian pula langit, yang menjadi tempat naiknya tasbih dan takbir seorang mukmin selama hidupnya.
Riwayat lain datang dari Atha Al-Khurasani RA. Ia menjelaskan bahwa setiap tempat yang pernah digunakan seseorang untuk bersujud kepada Allah akan menjadi saksi baginya pada Hari Kiamat dan akan menangisinya ketika ia wafat.
Baca Juga : Benarkah Dosa Istri Ditanggung Suami? Ini Penjelasannya
Pemahaman ini mengingatkan bahwa setiap langkah manusia meninggalkan jejak amal. Rumah, tempat kerja, jalan yang dilalui, hingga masjid yang dikunjungi bukan hanya menjadi lokasi aktivitas sehari-hari, tetapi juga akan menjadi saksi atas apa yang dilakukan seseorang di sana.
Karena itu, Islam mendorong setiap Muslim memperbanyak amal saleh di mana pun berada. Tempat-tempat yang pernah menjadi lokasi berzikir, membaca Al-Qur'an, bersedekah, maupun melaksanakan salat diharapkan kelak menjadi saksi yang meringankan, bukan memberatkan.
Apabila seseorang pernah melakukan kesalahan di suatu tempat, Islam juga mengajarkan agar segera menggantinya dengan amal kebaikan. Sebab Allah SWT menjanjikan bahwa kebaikan dapat menghapus keburukan yang telah dilakukan. Pesan tersebut juga ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Tirmidzi:
"Ittaqillaha haitsu ma kunta, wa atbi'is sayyi'atal hasanata tamhuha, wa khaliqin naasa bikhuluqin hasan."
Artinya, "Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik." (HR Tirmidzi).