free web hit counter
Promo Tokopedia
Jatim Times Network
Beranda
Agama

Rebo Wekasan dan Keyakinan Turunnya Bala, Begini Penjelasan Menurut Islam

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

05 - Aug - 2026, 11:00

Loading Placeholder
Ilustrasi tentang Rebo Wekasan dan keyakinan turunnya bala (ist)

JATIMTIMES – Tradisi Rebo Wekasan kembali menjadi pembahasan di tengah masyarakat menjelang berakhirnya Bulan Safar 1448 Hijriah. Tradisi yang telah lama berkembang, terutama di kalangan masyarakat Jawa, kerap dikaitkan dengan keyakinan bahwa Rabu terakhir Bulan Safar merupakan waktu turunnya berbagai bala dan musibah.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Bulan Safar 1448 Hijriah berakhir pada 13 Agustus 2026. Dengan demikian, Rebo Wekasan tahun ini jatuh pada Rabu, 12 Agustus 2026 atau bertepatan dengan 28 Safar 1448 Hijriah.

Baca Juga : Cara Membaca Pelat Nomor Kendaraan di Indonesia: Lengkap dengan Arti Huruf, Angka, dan Warna TNKB

Di tengah berkembangnya tradisi tersebut, muncul pertanyaan yang terus berulang setiap tahun, yakni benarkah pada hari itu Allah menurunkan 320.000 macam bala ke bumi?

Pandangan itu bersumber dari penjelasan Abdul Hamid Quds dalam kitab Kanzun Najah Was-Surur fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur. Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa sejumlah wali Allah yang memiliki pengetahuan spiritual meyakini setiap tahun Allah menurunkan sekitar 320.000 macam bala dan bencana, yang pertama kali terjadi pada Rabu terakhir Bulan Safar. Karena itulah hari tersebut dipandang sebagai salah satu hari terberat dalam setahun.

Meski demikian, keyakinan tersebut bukan bagian dari dalil syariat yang bersifat mengikat seluruh umat Islam. Hal inilah yang menjadi penekanan Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, Buya Yahya.

Dalam salah satu kajian yang disiarkan Al-Bahjah TV, Buya Yahya menjelaskan bahwa asal-usul Rebo Wekasan berangkat dari ilham yang diterima seorang ulama saleh mengenai datangnya penyakit atau musibah pada hari tersebut. Atas dasar itu, umat dianjurkan memperbanyak doa dan memohon perlindungan kepada Allah.

Menurutnya, amalan yang dilakukan pada Rebo Wekasan tidak memiliki tuntunan khusus dari Nabi Muhammad SAW. Namun, selama amalan yang dikerjakan merupakan ibadah yang memang telah disyariatkan, seperti salat sunnah hajat, berdoa, maupun bersedekah, maka tidak ada larangan untuk mengamalkannya.

"Kalau datangnya dari ulama yang saleh dan tidak bertentangan dengan ajaran Nabi, tidak boleh langsung dikatakan bid'ah," jelas Buya Yahya.

Ia menegaskan bahwa ilham bukanlah hujah atau dalil yang wajib diikuti seluruh umat Islam. Karena itu, seseorang boleh mengamalkan amalan yang didasarkan pada ilham ulama saleh selama tidak bertentangan dengan syariat. Sebaliknya, mereka yang memilih tidak mengamalkannya juga tidak dapat disalahkan.

Buya Yahya mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan ilham sebagai dasar hukum agama. Menurutnya, ilham hanya dapat menjadi pengantar untuk melaksanakan ibadah yang memang sudah diajarkan Rasulullah SAW.

Baca Juga : Ramalan Zodiak 5 Agustus 2026: Leo Penuh Percaya Diri, Gemini Dapat Peluang Baru

Sebagai contoh, apabila ada keyakinan bahwa pada Rebo Wekasan akan turun bala, maka cara memohon perlindungan bukan dengan menciptakan ibadah baru, melainkan memperbanyak salat sunnah hajat, doa, serta sedekah. Ketiga amalan tersebut memang telah memiliki landasan dalam ajaran Islam.

Ia juga mengutip hadis yang menjelaskan bahwa sedekah menjadi salah satu amalan yang dapat menolak bala dan musibah, sebagaimana diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani.

Lebih lanjut, Buya Yahya mengimbau agar perbedaan pandangan mengenai Rebo Wekasan tidak menjadi alasan untuk saling mencela. Mereka yang meyakini dan mengamalkan ibadah sunnah dengan niat memohon perlindungan dipersilakan selama tidak keluar dari koridor syariat. Sebaliknya, mereka yang tidak meyakininya juga tidak berdosa karena ilham bukan kewajiban yang harus diyakini seluruh umat Islam.

Di sejumlah daerah di Pulau Jawa, berkembang pula tradisi salat empat rakaat pada malam Rebo Wekasan dengan bacaan tertentu di setiap rakaat. Setelah salat, jamaah membaca doa dengan harapan memperoleh perlindungan dari berbagai musibah selama satu tahun ke depan.

Praktik tersebut merupakan bagian dari tradisi yang hidup di masyarakat dan tidak termasuk ibadah yang memiliki tuntunan khusus dari Rasulullah SAW. Karena itu, para ulama mengingatkan agar umat tetap membedakan antara ajaran syariat yang memiliki dasar dalil dan tradisi yang lahir dari pengalaman spiritual para ulama.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Agama

Artikel terkait di Agama

--- Iklan Sponsor ---