JATIMTIMES - Ayat Kursi merupakan salah satu ayat yang paling dikenal dan sering diamalkan oleh umat Islam. Selain dibaca sebagai doa perlindungan, ayat yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 255 ini juga diyakini memiliki banyak keutamaan, termasuk menjadi salah satu ikhtiar untuk memohon kelapangan rezeki kepada Allah SWT.
Meski demikian, para ulama mengingatkan bahwa rezeki tidak semata-mata dimaknai sebagai harta atau kekayaan. Rezeki juga mencakup kesehatan, ketenteraman hati, ilmu yang bermanfaat, keluarga yang harmonis, hingga kemudahan dalam menjalani kehidupan.
Baca Juga : Kalender Jawa Weton Rabu Wage 5 Agustus 2026: Berpeluang Dapat Rezeki Besar
Keistimewaan Ayat Kursi dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Ahmad.
Dalam riwayat tersebut, Nabi Muhammad SAW bertanya kepada sahabat Ubay bin Ka'ab mengenai ayat yang paling agung di dalam Al-Qur'an.
Awalnya Ubay menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."
Namun setelah Rasulullah SAW kembali mengulang pertanyaannya, Ubay menjawab bahwa ayat paling agung adalah Ayat Kursi.
Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah SAW bersabda:
"Engkau akan dilelahkan oleh ilmu, hai Abu Munzir. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya Ayat Kursi itu mempunyai satu lidah dan dua bibir yang senantiasa menyucikan Al-Malik (Allah) di sisi tiang Arsy." (HR Ahmad).
Ibnu Katsir juga menyebut hadis tersebut dalam kitab tafsirnya ketika menjelaskan kemuliaan Ayat Kursi.
Bacaan Ayat Kursi
Arab
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
Latin
Allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyūm, lā ta'khużuhū sinatuw wa lā naum, lahū mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa'u 'indahū illā bi`iżnih, ya'lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭūna bisyai'im min 'ilmihī illā bimā syā', wasi'a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya'ūduhū ḥifẓuhumā, wa huwal-'aliyyul-'aẓīm.
Arti
"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya. Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui apa pun dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung." (QS Al-Baqarah: 255).
Mengapa Ayat Kursi Dikaitkan dengan Kelapangan Rezeki?
Dilansir dalam buku Kaya Total dengan Ayat Kursi, Muhammad Ainur Rasyid, dijelaskan bahwa banyak ulama mengamalkan Ayat Kursi sebagai bagian dari doa untuk memohon perlindungan sekaligus keberkahan hidup.
Baca Juga : Keunggulan MTsN 1 Kota Malang Jadi Magnet, MTsN 2 Kota Palu Datang Belajar Tata Kelola dan Inovasi Madrasah
Keberkahan inilah yang kemudian diyakini dapat membuka pintu rezeki. Namun, rezeki dalam pandangan Islam memiliki makna yang luas, bukan sekadar bertambahnya harta.
Seseorang bisa saja memperoleh rezeki berupa kesehatan yang baik, keluarga yang saleh, pekerjaan yang membawa manfaat, kemudahan dalam setiap urusan, hingga hati yang dipenuhi rasa syukur.
Karena itu, membaca Ayat Kursi bukan dipahami sebagai amalan yang otomatis mendatangkan kekayaan, melainkan ikhtiar spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sembari terus bekerja, berusaha, dan mencari rezeki yang halal.
Tata Cara Mengamalkan Ayat Kursi
Mengutip dari kitab Kitab Kunci Kekayaan Agung, Salahuddin Abbas, dijelaskan bahwa salah satu rangkaian amalan yang dapat dilakukan ketika memohon kelapangan rezeki.
Urutan membacanya adalah sebagai berikut:
• Membaca Surah Al-Fatihah sebanyak 7 kali.
• Membaca istigfar sebanyak 100 kali.
• Membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW sebanyak 100 kali.
• Membaca Ayat Kursi sebanyak 165 kali.
• Membaca Asmaul Husna Yā Kāfī, Yā Ghaniyyu, Yā Fattāḥ, Yā Razzāq sebanyak 300 kali.
• Menutup amalan dengan berdoa kepada Allah SWT sesuai hajat.
Amalan tersebut dapat dikerjakan setelah salat fardu maupun usai salat hajat. Yang terpenting adalah dilakukan dengan ikhlas, yakin, dan dibarengi usaha mencari rezeki yang halal. Sebab pada hakikatnya, Allah SWT merupakan satu-satunya Zat yang melapangkan maupun menyempitkan rezeki setiap hamba-Nya. Semoga informasi ini bermanfaat ya.