free web hit counter
Promo Tokopedia
Jatim Times Network
Beranda
Peristiwa

Londo Ireng Adalah? Ini Sejarah, Arti, dan Alasan Istilah Ini Kembali Viral usai Pidato Prabowo

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Dede Nana

24 - Jul - 2026, 18:23

Loading Placeholder
Momen Presiden Prabowo sebut londo ireng. (Foto: Threads)

JATIMTIMES - Frasa "Londo Ireng adalah" menjadi salah satu kata kunci yang banyak dicari di Google hingga Jumat (24/7/2026) sore. Lonjakan pencarian ini muncul setelah Presiden Prabowo Subianto menggunakan istilah tersebut saat berpidato dalam peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sehingga memicu rasa penasaran publik soal arti dan sejarahnya.

Secara harfiah, londo ireng berasal dari bahasa Jawa. Kata londo berarti Belanda, sedangkan ireng berarti hitam. Dalam catatan sejarah, istilah itu awalnya digunakan untuk menyebut Zwarte Hollanders atau "Belanda Hitam", yakni prajurit asal Afrika Barat yang direkrut pemerintah kolonial Belanda untuk memperkuat Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL).

Baca Juga : Viral Klub Lari Bule di Bali Diduga Diskriminasi Pelari Indonesia, Begini Klarifikasi Entourage

Merujuk berbagai catatan sejarah, termasuk informasi yang dipublikasikan laman Military History dan sejumlah literatur kolonial, perekrutan tentara Afrika dilakukan setelah Belanda kehilangan sebagian besar wilayah dan sumber daya militernya akibat kemerdekaan Belgia pada 1830.

Belanda kemudian mencari pasukan baru dari wilayah koloninya di Afrika Barat, terutama Elmina yang kini menjadi bagian dari Ghana. Mereka menilai prajurit Afrika lebih mampu bertahan di iklim tropis dibandingkan tentara Eropa.

Gelombang perekrutan berlangsung hingga 1872. Selama periode tersebut, sekitar 3.000 orang Afrika direkrut menjadi anggota KNIL dan dikirim ke Hindia Belanda.

Mereka ikut diterjunkan dalam berbagai operasi militer pemerintah kolonial, termasuk Perang Aceh, serta memperoleh status yang setara dengan prajurit Eropa.

Seiring berjalannya waktu, makna londo ireng mengalami perubahan. Semula istilah itu hanya merujuk kepada serdadu Afrika anggota KNIL.

Namun dalam perkembangan berikutnya, masyarakat Jawa mulai menggunakan sebutan tersebut untuk menyindir orang-orang pribumi yang dianggap membela kepentingan pemerintah kolonial Belanda.

Karena itu, istilah londo ireng kemudian identik dengan sosok yang dipandang berpihak kepada penjajah atau dianggap mengkhianati bangsanya sendiri.

Meski demikian, sejumlah sejarawan menyebut penyematan istilah itu kepada seluruh prajurit pribumi KNIL tidak sepenuhnya tepat karena secara historis Zwarte Hollanders lebih spesifik merujuk pada tentara Afrika yang direkrut Belanda.

Baca Juga : Seragam Gratis di Kota Malang Tak Otomatis untuk Keluarga Miskin, Sekolah Jadi Pintu Verifikasi

Salah satu tokoh Londo Ireng yang cukup dikenal dalam sejarah adalah Jan Kooi, seorang kopral asal Afrika yang menjadi anggota KNIL dan dikenal karena kiprahnya dalam dinas militer kolonial.

Mengapa Londo Ireng Viral?

Istilah tersebut kembali menjadi perbincangan setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikannya dalam pidato pada puncak peringatan Hari Lahir ke-28 PKB di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (23/7/2026).
Saat itu, Prabowo menyinggung adanya pihak yang dinilainya lebih mengutamakan kepentingan bangsa lain daripada Indonesia.

"Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng yang ikut Belanda perang melawan kita," ucap Prabowo.

Tak lama kemudian, ia melanjutkan pernyataannya. "Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya sekarang dia pakai baju lain kan. Wartawan, jurnalis, pengamat, LSM." jelasnya. 

Pernyataan tersebut memicu beragam respons, termasuk dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang menilai penyebutan profesi wartawan, jurnalis, pengamat, dan LSM sebagai londo ireng berpotensi mendiskreditkan kelompok yang menjalankan fungsi kritik dalam demokrasi.

AJI pun meminta Prabowo menyampaikan permintaan maaf dan menilai kritik terhadap pemerintah semestinya dipandang sebagai bagian dari mekanisme demokrasi, bukan sebagai bentuk keberpihakan kepada kepentingan asing.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Dede Nana

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa

--- Iklan Sponsor ---