free web hit counter
Jatim Times Network
Beranda
Pendidikan

Lawan Budaya Konsumtif Gawai, MTsN 2 Kota Malang Dorong Siswa Menjadi Peneliti Muda

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Yunan Helmy

16 - Jun - 2026, 15:53

Loading Placeholder
Workshop Karya Tulis Ilmiah (KTI) Siswa di MTsN 2 Kota Malang. (ist)

JATIMTIMES - Di tengah derasnya arus informasi digital dan kecenderungan pelajar menjadi konsumen konten di media sosial, kemampuan melakukan riset dan berpikir kritis semakin menjadi kebutuhan mendesak dalam dunia pendidikan. Tantangan tersebut mendorong MTsN 2 Kota Malang memperkuat budaya penelitian di lingkungan madrasah melalui Workshop Karya Tulis Ilmiah (KTI) Siswa yang digelar belum lama ini di MTsN 2 Kota Malang.

Kegiatan bertajuk “Get Ready for Your First Research Journey” itu tidak sekadar mengajarkan teknik penyusunan karya tulis ilmiah. Lebih dari itu, program tersebut diarahkan untuk membangun fondasi berpikir ilmiah di kalangan peserta didik sejak usia dini, sekaligus mengubah cara pandang siswa terhadap teknologi yang selama ini lebih banyak digunakan untuk hiburan.

1

Peserta yang berasal dari Kelas Olimpiade 7I, 8C, dan 8J serta Ekstrakurikuler Riset diperkenalkan pada  penelitian yang sistematis melalui penyusunan map of idea (MoI). Metode tersebut menjadi instrumen awal untuk melatih siswa mengidentifikasi persoalan di lingkungan sekitar, menyusun pertanyaan penelitian, hingga merumuskan solusi berbasis data.

Baca Juga : SPMB Jenjang SMP di Kota Batu Buka 647 Kursi Jalur Domisili, Disdik Antisipasi Koordinat Palsu

Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MTsN 2 Kota Malang Ida Mukarromah SAg MPd menilai kemampuan riset tidak hanya berkaitan dengan prestasi akademik, tetapi juga berhubungan langsung dengan pembentukan karakter pembelajar yang adaptif dan solutif di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.

“Anak-anak harus semangat untuk berkarya di bidang riset. Melalui kegiatan penelitian, kalian akan belajar berpikir kritis, memecahkan masalah, dan menghasilkan karya yang bermanfaat. Selain itu, pengalaman riset akan menjadi portofolio prestasi yang sangat berharga untuk masa depan,” ujarnya.

1

Persoalan lain yang turut menjadi perhatian dalam workshop tersebut adalah penggunaan teknologi digital di kalangan pelajar. Tim pemateri dari Ngelab School menyoroti fenomena penggunaan gawai yang masih didominasi aktivitas konsumtif, mulai dari bermain gim hingga kebiasaan menelusuri konten tanpa tujuan yang jelas atau doomscrolling.

Menurut mereka, teknologi semestinya dapat menjadi sarana produktif untuk mendukung proses penelitian. Berbagai fitur digital saat ini memungkinkan siswa melakukan observasi, mengumpulkan data, mendokumentasikan temuan, hingga mengembangkan ide penelitian secara lebih efektif.

“Gawai yang dimiliki siswa tidak hanya digunakan untuk bermain gim atau sekadar melakukan doomscrolling. Dengan memanfaatkan teknologi secara tepat, siswa dapat melakukan pengamatan, mengumpulkan data, serta mengembangkan penelitian yang berpotensi menghasilkan berbagai prestasi. Dari hal-hal sederhana di sekitar kita dapat lahir ide-ide penelitian yang luar biasa,” jelas pemateri.

3

Sebagai tindak lanjut, para peserta akan menjalani proses pendampingan yang relatif panjang. Mereka mendapat penugasan mandiri melalui Google Classroom selama masa liburan mulai 19 Juni hingga 13 Juli 2026. Selain itu, konsultasi rutin setiap Jumat akan dilakukan untuk memastikan ide penelitian yang dikembangkan tetap berjalan sesuai target. Program tersebut kemudian berlanjut dengan sesi pendampingan intensif pada 14 hingga 15 Juli 2026 guna menyempurnakan proposal karya tulis ilmiah yang telah disusun.

Baca Juga : Semifinal Kejurnas PTWP XX Piala Ketua MA RI 2026 Memanas, Ratusan Suporter Padati Tribun Lapangan Tenis UM

Kepala MTsN 2 Kota Malang Anita Yusianti MPd memandang penguatan budaya riset sebagai investasi strategis dalam menyiapkan generasi yang mampu menghadapi kompleksitas tantangan masa depan. Menurut dia, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan siswa dengan nilai akademik tinggi, tetapi juga harus melahirkan individu yang mampu membaca persoalan, menganalisis data, dan menawarkan solusi yang relevan.

“Kami ingin membangun budaya ilmiah di lingkungan madrasah. Melalui workshop ini, siswa tidak hanya belajar menulis karya ilmiah, tetapi juga belajar mengamati, menganalisis, dan menemukan solusi terhadap berbagai permasalahan di sekitarnya. Kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif yang terbentuk melalui riset akan menjadi bekal penting bagi mereka untuk menghadapi perkembangan zaman. Kami berharap dari kegiatan ini lahir peneliti-peneliti muda madrasah yang mampu berprestasi di tingkat regional, nasional, bahkan internasional,” ungkapnya.

Langkah yang ditempuh MTsN 2 Kota Malang menunjukkan bahwa penguatan literasi riset tidak lagi dipandang sebagai aktivitas tambahan, melainkan bagian penting dari strategi pendidikan untuk menyiapkan generasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di tengah era yang menuntut kemampuan berpikir kritis dan berbasis data, pembiasaan riset sejak bangku madrasah menjadi salah satu fondasi penting dalam mencetak sumber daya manusia yang inovatif dan berdaya saing.


Topik



Media Terverifikasi Dewan Pers

Update Berita JatimTIMES Network

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News JatimTIMES atau bisa menginstall aplikasi Jatim Times News melalui tombol berikut:


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Yunan Helmy

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan

--- Iklan Sponsor ---