JATIMTIMES - Bagi sebagian besar warga Kota Malang dan Kota Batu, Hari Laut Sedunia yang diperingati setiap tanggal 8 Juni sering kali terasa seperti sebuah perayaan yang berjarak. Berada di wilayah dataran tinggi yang dikelilingi pegunungan, isu kerusakan terumbu karang, pemanasan suhu laut, hingga kepunahan biota laut dirasa sebagai urusan masyarakat pesisir di garis pantai Malang Selatan semata. Namun, tema global Hari Laut Sedunia tahun ini mendobrak cara pandang usang tersebut melalui satu kata kunci: "Reimagine". Kita ditantang untuk mengimajinasikan kembali hubungan manusia dengan laut tak sebatas lewat hal tampak pandangan mata. Kita dipaksa sadar bahwa sejatinya perlindungan laut tidak pernah berhenti di garis pantai; ia justru bermula dari perilaku ekologis kita yang tinggal di atas gunung dan hulu sungai.
Perubahan iklim global telah memicu kenaikan suhu permukaan laut dan cuaca ekstrem yang nyata. Di Malang Raya, wujud kerusakan ini tidak berdiri sendiri dalam batas-batas wilayah administratif kota dan kabupaten. Ketika kawasan tangkapan air di hulu Kota Batu dibabat demi alih fungsi lahan untuk wisata dan pertanian tak ekologis, atau ketika tata kelola limbah domestik di perkotaan Kota Malang lumpuh, maka muara dari seluruh dosa ekologis daratan tersebut akan bermuara di satu tempat yang sama,laut luas di Selatan Malang.
Jalur Tol Kerusakan: Dari Selokan Kampus ke Laut
Baca Juga : Arema FC Siapkan Langkah Berikutnya soal Logo Singa Bertindik
Menghubungkan Malang Raya dengan krisis laut global membutuhkan imajinasi kolektif untuk melihat aliran air. Setiap sampah plastik sekali pakai yang dibuang sembarangan di kawasan kampus atau limbah detergen rumah tangga yang mengalir ke Sungai Brantas, tidak pernah benar-benar hilang. Sungai-sungai di Malang Raya bertindak sebagai "jalur tol" yang mengalirkan jutaan metrik ton mikroplastik dan polutan kimia langsung menuju wilayah pesisir.
Saat kemarau ekstrem akibat pemanasan global, daratan mengalami kekeringan, volume aliran air mengecil, namun konsentrasi polutan justru mengental. Begitu hujan intensitas tinggi datang, seluruh limbah beracun ini tergelontor ke laut. Dampaknya mengerikan bagi nelayan di Sendangbiru. Laut yang makin panas akibat perubahan iklim, diperparah oleh kiriman limbah asam dari daratan hulu, memicu pemutihan karang (coral bleaching). Keadaan ini sangat merusak karena mengakibatkan kematian massal karang, hilangnya tempat tinggal biota laut, ikan-ikan menjauh dari pesisir, menurunkan hasil tangkapan nelayan lokal, dan memicu efek domino kemiskinan di wilayah selatan. Kita yang menikmati kenyamanan fasilitas kota di hulu, secara tidak sadar sedang meracuni ruang hidup saudara-saudara kita di hilir pantai.
Mengimajinasikan Kembali Tata Ruang Biru
Melalui semangat Reimagine, tata kota di Malang Raya harus didefinisikan ulang secara radikal. Tiga kepala daerah di Malang Raya tidak bisa lagi bekerja dalam sekat ego sektoral regional. Sudah saatnya melahirkan kolaborasi tata ruang berbasis dampak laut.
Pertama, penanganan sampah dari sumbernya di perkotaan Malang bukan lagi sekadar demi meraih piala Adipura atau mencegah banjir jalanan. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di pusat perbelanjaan dan kafe mahasiswa harus diimajinasikan sebagai aksi nyata "alat tangkap hantu” untuk menahan laju sampah dan mikroplastik yang merusak rantai makanan laut.
Baca Juga : Promo Bulan Bung Karno, Graha Bangunan Blitar Hadirkan Diskon hingga Rekomendasi Produk Hunian
Kedua, restorasi kawasan hijau di Kota Batu dan lereng-lereng gunung Kabupaten Malang harus dilihat sebagai upaya menjaga stabilitas suhu air yang mengalir ke laut. Pohon-pohon di daratan berfungsi menyaring sedimen tanah agar tidak menimbun dan mematikan terumbu karang di pesisir saat banjir bandang melanda. Menanam pohon di hulu Brantas adalah bentuk cinta paling tulus bagi kelestarian biota bawah laut.
Menjaga Laut dari Malang
Lautan memproduksi lebih dari separuh oksigen yang kita hirup di dataran tinggi Malang dan menjadi stabilisator utama iklim bumi dari jeratan pemanasan global. Membiarkan laut hancur sama saja dengan menekan napas kehidupan kita sendiri di daratan. Hubungan kita dengan alam selama ini terlalu didominasi oleh watak mengambil secara serakah tanpa pernah menabung kembali.
Hari Laut Sedunia tahun ini harus menjadi momentum bagi warga Arema untuk berpindah posisi: dari penikmat kemurahan hati laut yang pasif, menjadi ujung tombak terdepan pelindung masa depannya. Lautan tidak pernah memisahkan kita, ia justru mengikat daratan Malang Raya dalam satu kesatuan siklus hidrologi yang utuh. Mari mulai membayangkan kembali setiap keputusan harian kita: memilah sampah di rumah, menolak plastik sekali pakai, dan mengkritisi alih fungsi lahan hijau. Sebab, pada akhirnya, masa depan birunya samudra ditentukan oleh seberapa hijau dan bijaknya kita mengelola daratan dari atas gunung ini.